Rahma/BP2M
Wartawan berkuasa atas tulisan yang dibuat. Namun, ada
etika yang membatasinya.
BERAGAM kasus muncul dalam pemberitaan melalui
berbagai media cetak dan daring setiap harinya. Salah satunya adalah kasus
pemerkosaan. Pemberitaan mengenai kasus pemerkosaan terjadi hampir merata di
segala usia, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa setiap harinya. Lantas,
adakah pembatasan dalam pemberitaan mengenai kasus pemerkosaan? Hal inilah yang
disampaikan oleh Mariana D. Andriana dari LKBN Antara pada Rabu (13/11) dalam Workshop
Khusus Wartawan Perempuan dalam Peliputan Konflik, Bencana Alam, Kekerasan
terhadap Anak dan Wanita Korban Pemerkosaan di @HOM Hotel Semarang.
“Pelaku dan korban pemerkosaan tidak boleh disebut
nama dan lokasi kejadiannya secara detail. Apalagi kronologi kejadiannya. Sebab
sama saja dengan menulis berita pornografi,” terangnya. Dalam workshop yang
diselenggarakan oleh Dewan Pers ini ia menambahkan bahwa dalam pemberitaan
pemerkosaan maksimal hanya jenis kelamin, usia, dan wilayah terjadinya kasus
tersebut. “Terlebih jika korban pemerkosaan adalah anak-anak.
Wartawan, seharusnya bisa langsung memikirkan
manfaat, kerugian, trauma, dan masa depan sang anak apabila berita ini dibaca
banyak orang dan dibaca lagi di masa depan,“ tambahnya. Namun di Indonesia,
masih banyak media massa yang melanggar atau bahkan tidak mengetahui aturan
ini.
Mariana D. Andriana menceritakan pada suatu ketika saat bertugas di Jepang ada sebuah
musibah jalan layang yang roboh. Semua media yang meliput secara langsung di televisi
hanya melakukannya dari jarak jauh. Lalu pada media cetak tidak diketemukan
tulisan yang bombastis misal truk yang ringsek, seorang tewas hingga tubuhnyna
remuk, dll. Walau kondisinya memang begitu adanya. “Nah, sebab saya bertugas
untuk menerjemahkan berita, salah satunya Reuters, hal-hal seperti itu tak
pernah saya jumpai. Anehnya, di sini masih banyak. Jika kalian tahu, bagaimana
perasaan keluarga yang ditinggal?,” tuturnya.  
Wartawan mesti menggunakan nalurinya, tidak lantas
menyeting sebuah peristiwa agar dramatis dan demi bisnis. “Wartawan mesti
mengikuti panggilan hati dalam setiap peliputannya,” tambah Mariana. Nur
Rahma