Beberapa motor yang terparkir di area Pasar Malam Lapangan Banaran Unnes [dok. BP2M]
BP2M- Merasakan hawa dingin Gunung Pati dan tidur di lapak jualan tak menghambat pedagang
untuk men
cari rezeki. Cuaca yang tak menentu juga memengaruhi
hasil pendapatan dalam semalam
.
Tinggi rendahnya jumlah pembeli ditentukan oleh faktor cuaca. Jika
cuaca hujan, pembeli sepi. Penjaga wahana
komedi putar yang menyebut dirinya Bagong, mengatakan omzet maksimal dalam
semalam jika tidak hujan bisa mencapai 1 juta, jika hujan, omzet anjlok menjadi
200 ribu.
Kuncung yang telah bekerja selama dua tahun di pasar malam
menambahkan untuk wahana rumah balon bisa mencapai Rp.
500.000 sampai 2 juta per malam. Pendapatan penjaga wahana
pasar malam hanya mendapatkan 20 persen dari omzet per malam. Sedangkan
sisanya untuk membayar sewa tanah, listrik dan solar.
Selain penjaga wahana, tukang parkir,
sebagai pekerjaan musiman pun tak pernah ketinggalan memanfaatkan momen Pasar
Malam Banaran. Seperti Ari, Tukang Parkir Pasar Malam yang merupakan warga
lokal Sekaran,  mengatakan bahwa
jika pasar malam tak hujan, tempat parkir bisa penuh  dengan  300 motor. Jika sepi karena hujan hanya 100
motor setiap malam.
Jika setiap motor dikenai biaya parkir
sebesar dua ribu rupiah, setiap malamnya Ari beserta kawan-kawannya bisa
mengantongi sekitar 600 ribu saat kondisi normal dan 200 ribu saat sepi
pengunjung atau ketika cuaca kurang mendukung. Itupun belum dipotong 30 persen
untuk disetorkan kepada kelurahan setempat.
Bagi masyarakat Banaran, dengan adanya pasar malam ada juga sebagian
orang yang merasa dirugikan.
Menurut Ari, masyarakat merasa dirugikan tidak bisa bermain sepak bola di
lapangan yang digunakan pasar malam untuk sementara waktu. [Aziz Imron]

Editor : Eva Rafiqoh