Pertandingan Tonnis berlangsung di lapangan Auditorium Unnes (20/03) [Doc. BP2M]

BP2M – Kejuaraan
tonnis, Jumat (20/3) dalam rangka menyambut piala rektor, diselenggarakan di
lapangan sekitar Auditorium Unnes. Kejuaraan yang diselenggarakan oleh Tri Nurharsono
selaku dosen FIK dan HIMA PJPGSD ini dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu
kelompok SD, kelompok mahasiswa dan umum.
Berlangsung
mulai Jumat sampai Minggu (22/3), kejuaraan ini menjadi lebih menarik dengan hadirnya peserta
dari Thailand. Pertandingan ini merupakan pertandingan kelompok. Setiap
kelompok terdiri dari pemain tunggal, ganda dan campuran. Peserta dari kelompok
SD, dibagi berdasarkan asal sekolah, sedangkan untuk mahasiswa dibagi
berdasarkan asal daerah.
“Kejuaraan
ini berlangsung setiap tahun dan ini merupakan gelaran yang ke tujuh”, kata
Arsyad selaku panitia. Jumlah peserta kali ini meningkat dari tahun kemarin. ”Kejuaraan
ini diikuti lima perwakilan SD di Gunungpati serta 100 peserta dari mahasiswa
dan umum,” tambahnya.
Tonnis
termasuk jenis permainan baru yang merupakan hasil penelitian mahasiswa Unnes
pada 2005. Permainan ini adalah gabungan badminton dan tenis dengan peraturan
yang hampir sama dengan tenis. Meski begitu tetap ada modifikasi, yaitu
lapangan yang dibuat lebih kecil, bola yang mudah dipantulkan dan raket yang lebih
pendek dan ringan.
Tonnis
kemudian dikembangkan oleh Tri Nurharsono dan Sri Haryono, dosen FIK Unnes. Olahraga
ini sudah terdaftar sebagai Hak Karya Intelektual Unnes pada Kementerian Hukum
dan HAM.
Menurut
salah satu pencipta permainan tonnis Tri Nurharsono, tonnis diciptakan untuk mengatasi
permasalahan olahraga tennis di daerah-daerah karena ketersediaan fasilitasnya
yang masih terbatas. Tri Nurharsono menambahkan, bahwa tonnis dianggap lebih
mudah, murah, dan menyehatkan sehingga diharapkan  dapat berkembang di masyarakat. “Kami akan
melakukan sosialisasi semaksimal mungkin agar tonnis dapat menjadi cabang
olahraga di tingkat nasional bahkan SEA Games,” ungkapnya.

Bagi
peserta sendiri, tonnis dianggap lebih mudah untuk dimainkan. “Awalnya memang
masih bingung karena baru pertama kali, tetapi lama kelamaan sudah terbiasa.
Permainan tonnis juga lebih mudah karena lapangannya lebih sempit dari lapangan
tennis dan lebih murah karena raketnya memakai paddle yang terbuat dari kayu,” ujar Bekti, salah satu peserta. (Ni Imas, Pindho)