Tari Jaran Kepang oleh Sanggar asal Wonosobo (29/4) [Doc.Ika]

BP2M – Bunyi-bunyian musik Jawa
terdengar sejak matahari baru menunjukkan dirinya, mengiringi acara yang
digelar jurusan Sendratasik Unnes. Hari Tari Dunia kembali diperingati Unnes
dengan menyelenggarakan perhelatan tari selama 18 jam (29/4).

Musik gamelan mengiringi tampilan penari estafet (29/4) [Doc. Ika]
       Acara
dimulai pukul 06.00 pagi dengan pengalungan sampur pada sepuluh orang penari 18
jam oleh Bambang  Sadono, wakil ketua DPRD
provinsi Jawa Tengah. Selesai pengalungan sampur di lapangan belakang dekanat
FBS, perhelatan tari oleh sepuluh penari 18 jam dan sejumlah  penari estafet pun dimulai.

“Jumlahnya ada 121 Tarian dengan 1200 penari estafet dan
10 orang penari 18 jam,” tutur Puput Putri Aji Jurusan Sendratasik selaku
panitia acara.
Tari Geol Banjarnegara oleh Mahasiswi Unnes (29/4) [Doc.Ika]
Tari yang ditampilkan tak hanya tari tradisional, tetapi ada juga tari kreasi, tari kontemporer, dan modern dance. Penari yang ikut berpartisipasi dalam acara ini berasal dari berbagai kalangan, mulai dari siswa TK, SD, SMP, mahasiswa, hingga dewasa, termasuk juga Sanggar dari Wonosobo dan Blora. Antusiasme dari pihak luar dapat dillihat dari banyaknya pesserta yang mengajukan diri untuk turut tampil tanpa diundang oleh panitia.

Penari cilik ikut meriahkan hari tari dunia (29/4) [Doc. Yunita]
“Kami sudah membatasi kuota 121, jika ada yang mengajukan lagi maka dengan berat hati kami cancel,” tutur Puput. 
Puput menjelaskan bahwa
peringatan hari tari dunia yang diselenggarakan ini memberikan wadah apresiasi
para seniman sekaligus pecinta budaya untuk lebih melestarikan budaya khususnya
budaya Indonesia.
Aurelia Rahma Yunita,
siswi kelas empat SD yang menampilkan tari Yapong mengaku sangat senang dapat
ikut tampil dalam acara ini. Dia dating bersama empat temannya mewakili Sanggar
Tari Karesta Semarang. 

Putri, salah satu penari 18 jam (29/4) [Doc. Ika]
Sementara itu, Putri
Nuur Wulansari, mahasiswa semester 8 jurusan Sendratasik yang ikut bergabung
dalam sepuluh penari 18 jam mengaku senang dapat kembali ikut memperingati hari
tari dunia.
“Tahun lalu, Saya
tampil sebagai penari estafet dan membawakan 6 tarian, tapi tahun ini Saya
senang dapat ikut menjadi penari 18 jam,” ungkap Putri sambil menggerak-gerakkan
tubuhnya tanpa berhenti.
Menurut Putri, andilnya
dia menjadi salah satu penari 18 jam untuk menjiwai peringatan hari tari dunia.
 “Persiapan acara ini telah dilakukan panitia
dari jauh hari, Saya sendiri juga telah menyiapkan diri untuk acara ini beberapa
hari sebelum peringatan hari tari ini.” Ungkap Putri. 
Putri menjelaskan bahwa
persiapan yang dilakukannya bersama kesembilan penari 18 jam lainnya seperti
istirahat cukup, makan teratur, juga melakukan olah tubuh secara rutin.
Menurut Putri setiap
gerakan dalam aktifitas sehari-hari juga merupakan bentuk tari. “Tari yang
orang-orang nikmati itu dinamakan gerak tari yang telah dikemas secara
terorganisasi,” jelas Putri.
Pergantian hari ke
tanggal 30 April menjadi penanda berakhirnya peringatan hari tari dunia.
Pengambilan sampur kuning yang dikenakan oleh sepuluh penari 18 jam menuntaskan
serangkaian acara yang telah digelar sejak pagi itu. (Ika, Dian, Yunita)