Kelima mahasiswa FBS Unnes yang akan PPL ke Jepang (11/5) [Doc. Marfuah]

BP2M – Lima mahasiwa Prodi Pendidikan Bahasa Jepang Universitas Negeri
Semarang (Unnes) akan melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di Jepang.
 
Program PPL di Jepang ini merupakan kerjasama antara Unnes dengan Institute
Of Technology 
Jepang. Demikian yang diungkapkan Ketua Prodi Pendidikan
Bahasa Jepang Ai Sumirah Setyawati saat ditemui di kampus Fakultas Bahasa dan
Seni (FBS) pada Senin, (11/5).
Ai menyatakan, kelima mahasiswa yang akan PPL di Jepang  adalah
Gilang Aulia Prasetyo Widodo, Firdaus Haris Rahimsa, Renita Putri Sriwijayanti,
Nabela Novi Kristanti, Sulistya Winanti.  
“Lima mahasiswa ini akan di Jepang mulai Oktober 2015 sampai Agustus
2016. Selain mengajar belajar budaya dan bahasa Jepang, mereka juga akan
melakukan PPL di SMP-SMA yang ada di bawah manajemen Seifu Group Osaka Jepang”,
katanya.
Ai menambahkan, tiga mahasiswa diberi
beasiswa dari Unnes masing-masing Rp 20.000.000 untuk memenuhi segala kebutuhan
bulan pertama di Jepang. Sedangkan dua mahasiswa lainnya memilih ikut
dengan biaya sendiri. Ai juga menyarankan, sembari belajar dan mengajar,
mahasiswa  bisa melakukan kerja sambilan untuk memenuhi kebutuhan di sana.
Salah satu mahasiswa yang akan PPL di Jepang Firdaus Haris Rahimsa
mengatakan dirinya senang sekali bisa berkesempatan belajar dan mengajar di
Jepang. “Ini adalah kesempatan saya untuk belajar tentang Jepang langsung di
sana. Bagaimana pendidikannya, bagaimana kehidupan di sana,” ungkapnya.
Sama halnya dengan Firdaus, Renita Putri Sriwijayanti juga senang.
Menurutnya tidak hanya belajar tentang Jepang, namun PPL di Jepang bisa menjadi
sarana untuk memberitahu tentang budaya Indonesia kepada dunia, terutama
Jepang. “Semoga lancar, dan mendapatkan ilmu bermanfaat di sana,” tambah
mahasiswa yang bercita-cita jadi guru bahasa Jepang itu.

Ai berharap, mahasiswa menunjukkan sikap baik sebagai perwakilan
mahasiswa Indonesia di Jepang dan belajar sungguh-sungguh di sana. “Tunjukkan
bahwa orang Indonesia juga bisa tepat waktu. Tidak hanya itu, karena mahasiswa
juga bekerja paruh waktu di sana (Jepang-red), semoga mahasiswa juga bisa belajar
bagaimana etos kerja dan etika bisnis di Jepang,” harapnya. (MLH)