Matahari yang mulai beranjak pulang ke peraduan
Matahari yang mulai beranjak pulang ke peraduan (BP2M Irkham)
Jika cahaya bulan
jauh lebih indah dipandang dibandingkan bulan itu sendiri, bisakah dunia kini
dianggap luar biasa dari sekadar duniawi.
Dunia adalah
tempat yang luar biasa. Rumah-rumah yang indah di balik hutan, kicauan burung
di pagi hari, gemericik sungai yang beradu dengan bebatuan, deburan ombak lautan
yang menampar pantai, puncak-puncak tertinggi, lembah-lembah tercuram hingga
bintang-bintang yang menamburi semesta angkasa. Seperti seekor
elang yang terbang membelah cakrawala. Melihat keluarbiasaan dunia. Rerumputan
hijau membentang menari-nari seirama desir angin utara. Rusa-rusa yang mengunyah rumput
dengan nikmatnya. Singa yang mengincar satu dari segerombolan rusa. Mencoba
menangkap dan memakannya untuk santap siang. Singa muda mulai keluar sarang,
berguru pada sang induk. Singa tua mulai mengeluhkan sakit di sekujur
tulangnya. Tanda sang Raja akan segera berpulang. Meninggalkan dunia yang akan menjadi arena bagi
singa muda, rumput baru, rusa muda, dan segala yang harus berakhir dan berganti
yang baru. Dunia yang memiliki kepribadian bulat dan utuh.
Satu dalam kesatuan, menjadi bulat oleh ikatan serpihan puing-puing.
Segalanya
ditakdirkan untuk menjadi bagian hidup bagi yang lain. Rumput untuk rusa. Rusa
untuk singa. Singa muda lahir, singa tua mati. Singa mati untuk rumput. Rumput
untuk rusa lagi. Lautan untuk membentuk awan. Awan terbang membawa tetesan air
menuju puncak gunung. Turun sebagai hujan. Memenuhi cekungan sungai di hulu.
Turun menuju hilir. Terus mengalir hingga bersua muara. Bersatu dengan samudera.
Dunia seperti yang aku lihat adalah sebuah keluarga. Tanpa ayah, tidak ada ibu.
Tanpa cinta tidak ada cerita. Tanpa kau, tidak ada makna.
Tidak sulit bagiku
untuk mencintaimu. Tanpamu tak ada aku. Tanpa suka tak ada duka. Tanpa suka duka, tak ada cerita.
Tidak butuh waktu lama untuk menyemai cinta padamu. Karena kaulah dunia bagiku.
Segalanya nampak
berbeda. Seperti tidak pernah ada tali yang saling bersambungan. Semua orang
membuat perbedaan. Perbedaan memunculkan kesamaan. Kesamaan menasbihkan kesatuan.
Segalanya yang seolah tampak berbeda, pada dasarnya adalah kesatuan. Terikat dalam satu jaring
laba-laba raksasa. Bersambungan. Menunggu titik-titik pertemuan yang akan
membuah cerita bagi pelakunya.
Setiap anak dari
ibu adalah orang suci. Setiap cinta yang lahir adalah nurani. Setiap sayang
yang dihanturkan adalah bait-bait ekspresi. Menggeliat turun dalam gravitasi.
Menyisir pantai-pantai di segala penjuru mata angin. Menetaskan mutiara
keindahan dalam jurang-jurang lautan.
Tak sulit bagiku
untuk mencintaimu. Sungguh mencintaimu tanpa syarat. Kasih, kau adalah dunia
bagiku.
Kaulah gunung yang
puncak-puncaknya selalu menggodaku untuk mendaki. Kaulah karang yang tegap
menantang derasnya ombak samudera. Kaulah kabel yang mengalirkan listrik cinta
ke dalam hidupku. Kaulah percikan dalam kegelapan malam. Kaulah elang yang
terbang menyisir perbukitan. Kaulah bahtera gagah yang menantang badai lautan.
Kaulah dunia itu, dan kau luar biasa.
Kaulah samudra
yang memangsa pantai. Kaulah ketenangan di dalam badai. Kaulah tiap-tiap
tarikan emosi. Kau bisa bertahan. Kaulah dunia dan dunia adalah milikmu. Kaulah
unia bagiku. Dunia dalam pandanganku, adalah tempat yang luar biasa. Sempurna, bermakna. Acak, tak tertebak.
Oleh Muh Irkham A, “Penikmat Musik”
Terinspirasi dari lagu Jason Mraz – The World As I See It