“Alam bukan subjek eksplorasi yang dapat dinikmati manusia untuk memenuhi kebutuhan dan kepentingannya. Alam adalah sahabat dan keluarga manusia yang semestinya dilindungi. Bukanlah hal yang bijak, jika terus menerus yang dilakukan adalah mengeruk hasil alam tanpa memikirkan jangka panjang, dan apatis terhadap kerusakannya.”

Dharmawati Utomo berbagi cerita di hadapan banyak mahasiswa (28/11) [Doc.Nida]

Hal tersebut yang menjadi bahasan utama dalam acara yang diselenggarakan International Nature Loving Asosiation ( INLA ) bersama Badan Pengembangan Konservasi, mengajak Kader Konservasi Unnes dan mahasiswa secara umum untuk mencintai lingkungan melalui gerakan seni.

“Berbagai ulah manusia yang menjadi bentuk keegoisannya dikarenakan belum diterapkannya konservasi nurani,” ujar Dharmawati Utomo, perintis INLA Jateng serta penasehat INLA Internasional di Indonesia.

Menurutnya, konservasi nurani adalah mencintai alam dan sesama dari dalam hati. “Jadi, dalam menggali hasil alam tidak berfoya-foya dan merusak, namun tetap hormat dan rendah hati,” tutur Dharmawati lagi. Baginya, manusia semestinya berpikir akan pentingnya keanekaragaman hayati serta memelihara estetika untuk jangka panjang.

Dharmawati menambahkan, bahwa konservasi alam dapat terwujud dengan menerapkan respect (rasa peduli), responbility (bertanggung jawab), recover (memulihkan alam), do no harm (tidak berbuat jahat pada alam), solidalitas kosmik (simpati pada alam semesta), care (menjaga alam), reuse (mengurangi penggunaan), reduce (menggunakan kembali), dan recycle (mengolah kembali).

Acara kemudian dilanjutkan dengan senam yang diiringi lagu penyemangat cinta lingkungan agar menggugah kesadaran peserta akan konservasi alam. “Ternyata lagu yang dipadukan gerakan pun mampu mengingatkan kita terhadap kepedulian alam,” ungkap Khumairoh, salah satu peserta Joyful Gathering dengan INLA, Sabtu (28/11).

“Lagu dapat membuat hati tergugah untuk bersemangat dalam mencintai alam dan bahagiapun selalu menyertai kita,” kata Dharmawati. Terakhir dia mengingatkan bahwa tanpa kebahagiaan, manusia tidak akan hidup tenang di dunia. “Karena bahagia itu berasal dari rasa syukur akan kecukupan dalam hidup kita,” ujar Dharmawati. [Nida]