Oleh : Teguh W.*

Politik kampus selalu menjadi tema perbicangan hangat pada musim tertentu. Hal ini berlaku di semua kampus di Indonesia, termasuk Unnes. Seringkali bahasan mengenai politik kampus ramai dibicarakan oleh mahasiswa di Kampus yang terletak di desa Sekaran ini, pada bulan Desember. Bulan ini merupakan musim di mana terjadi suksesi kepemimpinan di setiap ormawa. Suksesi kepemimpinan yang paling menarik adalah suksesi Presiden Mahasiswa (Presma). Percaturan politik untuk mendapatkan jabatan Presma Unnes tentu menarik sekali. Siapa yang tidak tertarik dengan jabatan Presiden? Ya memang begitulah adanya bahwa perbincangan politik kampus yang paling menarik adalah membicarakan siapa yang akan jadi presma.

Pemira Unnes tahun ini, sudah terlaksana pada 16 Desember 2015. Setelah calon presma melakukan kampanye lebih dari seminggu, selanjutnya didapatkan hasil pada hari pemungutan suara. Berdasarkan hasil pemungutan suara, diketahui hasilnya bahwa pasangan nomor urut 1 (Dadang-Meis) memperoleh 4.470 suara dan nomor urut 2 (Fauzi-Idun) memperoleh 5.638 suara. Jumlah suara tersebut menunujkkan juga jumlah mahasiswa yang turut berpartisipasi dalam pelaksanaan pemilihan Presma.

Namun, ada yang menarik dalam suksesi presma tahun ini. Meskipun hasil penghitungan sudah selesai dan KPU sudah menetapkan presma terpilih, tapi masih ada upaya hukum yang masuk ke Dewan Kehormatan Panitia Pemilu Raya (DKPPR). Menarik sekali, hal ini perlu diapresiasi dalam proses berdemokrasi. Bilamana seperti ini, berarti belum ada pihak yang merasa menang ataupun tidak menang. Karena masih ada upaya proses hukum dalam serangkain pemira unnes.

Politik Ala Duverger

Maurice Duverger, tokoh sosiologi politik dari Prancis menjelaskan bahwa hakikat dari konsep politik adalah perihal kekuasaan. Menurut Duverger ada dua pengaruh yang ditimbulkan dari kekuasaan.

Pertama, bilamana orang melihat politik pada dasarnya sebagai arena pertarungan. Kekuasaan dijadikan sebagai objek dalam merebut dan mempertahankan kekuasaan. Dalam hal ini, kekuasaan sebagai biang konflik.

Kedua bilamana orang menganggap politik sebagai upaya untuk menegakkan keadilan dan ketertiban, dalam hal ini politik sebagai pelindung kepentingan dan kesejahteraan umum. Melalui paradigma ini kekuasaan memainkan peranan integratif dan melindungi kepentingan bersama. Dari fenomena yang ditimbulkan oleh politik, Duverger mengibaratkan politik itu seperti Dewa Janus. Dewa bermuka dua dari mitologi romawi kuno. Layaknya politik, satu menampilkan konflik dan sisi lainnya menampilkan keteraturan, kesejahteraan.

Melihat pemaparan Duverger, selayaknya hal itu dapat dibenarkan apabila politik membawa dua implikasi yaitu konflik dan alat untuk membawa kesejahteraan. Kita selaku mahasiswa tentunya juga sudah melihat politik seperti apa yang membawa konflik dan politik seperti apa yang membawa kesejahteraan. Bilamana kita terlibat dalam suatu perpolitikan, kita memiliki kuasa untuk membawa politik itu akan dijadikan sebagai konflik atau sebagai alat kesejahteraan. Itu semua bergantung kepada pelaku di dunia politik itu sendiri. Namun, alangkah lebih elok bila politik itu dibawa untuk membawa kesejahteraan seperti kata Duverger. Jika kita memiliki tekad untuk membawa politik sebagai alat kesejahteraan maka harus meninggalkan politik yang membawa konflik. Tinggalkan konflik agar kesejahteraan itu terwujud.

Saya kira untuk meninggalkan konflik itu tidaklah mudah, apalagi dalam perebutan singgasana kekuasaan. Siapa yang mau kalah ataupun ngalah?. Bagaimana mungkin mau kalah jika modal materi, pengorbanan tenaga, dan waktu sudah dicurahkan semaksimal mungkin agar dapat menjadi penguasa. Mereka akan menjadikan dirinya sebagai penguasa dengan menghalalkan segala cara. Ini pandangan saya tentang suksesi kepemimpinan di luar sana. Namun, untuk suksesi kepemimpinan di tataran mahasiswa saya harap tidak demikan. Mahasiswa yang mengaku sebagai kaum idealis tentu tidak mengahalalkan segala cara agar jadi pimpinan. Jikalau mahasiswa menghalalkan segala cara untuk jadi pimpinan, lantas apa bedanya politik kaum idealis dengan kaum pragmatis yang ada di luar sana? Mengedepankan sikap jujur dan bertanggungjawab dalam menggapai kekuasaan adalah role model bagi mahasiswa sebagai kaum idealis. Politik mahasiswa lebih santun, tertib, nuansa kekeluargaan, dan berkompetisi dengan kualitas.

Saya berharap siapapun yang menjadi presma adalah mahasiswa yang mengedepankan sikap jujur dan tanggungjawab. Dan semoga perpolitikan mahasiswa menjadi role model bagi dunia luar agar kedepannya membawa politik ke ranah kesejahteraan, bukan konflik.

*Mahasiswa Ilmu Politik 2014