Penyakit Zika di Indonesia
Seorang bayi yang terserang virus Zika mengakibatkan kepalanya mengecil dari ukuran normal 
Organisasi
Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan status darurat global menghadapi
serangan virus Zika. Status tersebut diberlakukan menyusul besaran dan cepatnya
sebaran serangan serta lonjakan angka kasus mikrosefalus pada bayi yang lahir. Gangguan
tersebut disinyalir disebabkan oleh virus Zika. Penetapan status tersebut berdasarkan
rekomendasi pada ahli independen.
Kasus
Zika di Brasil sejak Oktober 2015 diperkirakan mencapai angka 4000 kasus
kelahiran bayi yang diserang mikrosefalus. Mikrosefalus sendiri adalah virus
Zika. Menyikapi pengumuman dari WHO respon Indonesia dirasa masih belum baik. Padahal virus tersebut telah sampai di wilayah Jambi.
Gejala
infeksi Zika lebih mirip dengan chikungunya yang ditandai demam, nyeri sendi
dan otot, sakit kepala, bintik-bintik merak pada
kulit, serta mata merah akibat peradangan selaput lendir kelopak mata atau
konjungtiva.
Meski
satu keluarga dengan demam berdarah, demam kuning, ensefalitis, ataupun west
nile, namun ciri yang paling identik dari virus ini adalah menginfeksi
perempuan hamil. Tampaknya ini berkaitan dengan kelahiran bayi berkepala kecil
yang menghambat perkembangan otaknya. Laporan majalah Time, di Recife—kota di
negara Brasil tempat Zika merebak—tim dokter di Rumah Sakit Oswaldo Cruz sejak tahun
lalu telah mengamati kelahiran bayi-bayi microcephaly
atau berkepala kecil. Ketika ditelusuri, ibu-ibu yang melahirkan bayi berkepala
kecil ternyata pernah ke dokter dengan keluhan demam dan bintik-bintik merah di
awal kehamilan mereka. Sepanjangan 2015 ada sekitar 30.000 kasus dengue di
Brasil dan 60 persen di antaranya positif Zika.
Posisi
Indonesia tentu sangat rentan terhadap serangan virus tersebut karena banyaknya
pelabuhan dan titik masuk ke Kepulauan Nusantara yang berada di wilayah tropis.
Potensi ledakan kasus zoonosis atau penyakit bersumber binatang sangat tinggi.
Respon
Lambat

Sejauh
ini, tercatat hanya Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang bertindak cepat
dengan mengisolasi virus Zika di Indonesia dan menguji sampel pasien demam di
Jambi. Hasilnya, Deputi Direktur Eijkman, Herawati Sudoyo mendesak dilakukannya
surveilans sistematis atau pemetaan sebaran virus. “Bagaimana kita bisa
mengatasi serangan virus ini kalau belum tahu pasti sebarannya?” ujarnya.
Berdasarkan
data yang diambil dari berbagai jurnal internasional, virus Zika yang
diprediksi dibawa oleh nyamuk jenis Aedes
aegypti
ini telah berada di Indonesia sejak lama (meliputi Klaten pada
tahun 1981, Jakarta pada 2013, Bali pada tahun 2015), bahkan sebelum virus
tersebut menjadi perhatian dunia. Herawati mengungkapkan bahwa data dan dampak mengenai
virus Zika di Indonesia masih minim. Sedang strain virus Zika Indonesia dengan
Brasil ataupun Mikronesia masih satu kluster, yakni tipe Asia. Tentunya proses
penyebaran virus tersebut sangat cepat dan berpotensi menyebabkan kematian
seperti yang terjadi di Brazil dan Mikronesia.
Meski
telah lama menetap di Indonesia, penyebaran virus Zika di Indonesia seperti
fenomena puncak gunung es. Terlihat kecil di permukaan, namun yang tidak
terlihat jauh lebih besar. Dengan ciri penyakit yang tidak begitu terlihat,
Zika berpotensi melumpuhkan penderitanya dengan cepat dan tak terlihat. Ini tentunya
butuh tindak pencegahan.
Namun seperti yang diungkapkan oleh Kepala Unit
Dengue Lembaga Eijkman, Tedjo Sasmono, deteksi serangan virus Zika masih kurang. Ini
disebabkan oleh teknologi dan sumber daya manusia di Indonesia yang masih
terbatas.
Tindakan Awal

Beberapa
tindakan awal telah yang diambil oleh beberapa instansi. Misalnya dari Dirjen
Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes yang mengimbau kantor kesehatan
pelabuhan untuk memperketat cegah tangkal penyakit sesuai standar
Indternational Health Regulation. Saat ini Kemenkes masih berkutat pada
pembuatan prosedur operasional standar surveilans virus Zika dan penanganan
kasusnya di rumah sakit, termasuk penguatan jejaring rujukan.
Setiap
tahun, laporan mengenai serangan demam berdarah dengue di Tanah Air terus
mengkhawatirkan. Berbahayanya kasus DBD masuk dalam daftar Kejadian Luar Biasa
(KLB) setiap masuk Bulan Maret di setiap tahunnya. Hal tersebut, memberi kita cukup alasan untuk meningkatkan kewaspadaan pada awal bulan Februari ini. Baik mencegah DBD maupun Zika. Mencegah
perkembangbiakan vektor
perantaranya yakni aedes aedypti.

Sosialisasi
dan penanganan yang melibatkan peran aktif pemerintah dan masyarakat tentu
sangat diperlukan untuk mencegah timbulnya kondisi yang tidak kita inginkan. Pemberdayaan
masyarakat yang masih tabu terhadap kebersihan lingkungan perlu
ditingkatkan.  Semua hanya bermuara pada tujuan
agar tidak terjadi pengulangan
serangan penyakit tahun ini, karena mencegah
jauh lebih baik daripada mengobati. (Irkham)