Seminar Nasional Udinus. [Doc. BP2M]
              
Oleh: Eko Santoso
     Jika ditarik mundur jauh ke belakang, tonggak organisasi
berperan penting dalam proses kemerdekaan bangsa Indonesia. Sebelum adanya
organisasi di Indonesia, model perjuangan bangsa Indonesia cenderung bersifat kedaerahan. Namun, lahirnya organisasi Boedi Oetomo memicu
kesadaran rakyat untuk berorganisasi sehingga lahir organisasi-organisasi
perjuangan seperti Jong Java, Jong Ambon, Jong Selebes, Pemuda Kaum
Betawi dan masih banyak lagi.
          
         Melalui organisasi
itulah lahir Soempah Pemoeda
yang merupakan pernyataan persatuan tanah air
Indonesia, Bangsa
Indonesia dan Bahasa Indonesia.Organisasi tempo dulu biasanya bercirikan nasionalisme dan bergerak progresif dalam menghadapi Belanda. Berkat organisasi pula lahir
tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam proses kemerdekaan, seperti H.O.S
Tjokroaminoto, Ir. Soekarno, Hatta dan lainnya. Karena ketakutan akan organisasi yang
semakin subur tumbuh di Nusantara, pihak Belanda pun berencana membubarkan organisasi-organisasi
yang dianggap membahayakan dengan membuang tokohnya ke pengasingan.
          Dari sedikit penjelasan di atas, dapat diketahui
bahwa betapa pentingnya berorganisasi, sebab
organisasi itu sendiri merupakan wadah untuk mencapai sebuah
tujuan dari beberapa orang secara terstruktur dan teratur. Kini organisasi pun bervariasi sesuai bidangnya masing-masing. Jika
organisasi tersebut berkecimpung dalam dunia ekonomi, maka akan fokus terhadap ekonomi. Jika
bergerak pada bidang kemasyarakatan, maka akan fokus dengan program kerja untuk mengembangkan
masyarakat, dan sebagainya.
            Begitu pula organisasi yang bergerak dalam dunia
pendidikan, maka akan fokus pada pendidikan, walaupun tidak menutup kemungkinan
untuk menjangkau bidang yang lain. Khususnya organisasi pelajar, maka tujuan utamanya pun representasi tujuan para pelajar itu sendiri. Seiring berkembangnya
zaman,
organisasi pelajar kian berkembang atau
istilah populernya kekinian, akan tetapi sangat disayangkan semakin jauh dari ruh organisasi pelajar itu sendiri. Organisasi pelajar baik dalam intrasekolah atau
intra kampus terlihat lebih mengedepankan even besar daripada even-even kecil yang
sederhana dengan lebih banyak manfaatnya. Contohnya saja, OSIS cenderung lebih bangga mengadakan
seminar nasional dengan dana
besar
dibandingkan
mengadakan kajian rutin tiap minggu. Padahal secara
ilmu, kajian rutin lebih berbobot dari pada seminar yang barangkali ilmunya akan hilang setelah
seminggu.   
         Apabila melihat ke belakang, para organisatoris pendiri Boedie Oetomo melakukan hal-hal kecil seperti mengadakan pertemuan-pertemuan diskusi. Meski pada hakikatnya event-event memiliki
banyak manfaat, misalnyaa mampu menggenjot nama organisasi atau yayasan agar lebih dikenal. Akan
tetapi,
jika hal-hal yang sederhana itu ditinggalkan, maka even-even besar itu hanya
akan menjadi pertarungan antarorganisasi, memperbutkan kepopularitasan, dan adu gengsi antar
sekolahan/kampus serta ajang hura-hura semata. Simpulannya,
organisasi sekarang terlalu overdosis dalam mengadakan acara, kegiatan, event
besar dengan melupakan hal-hal yang kecil seperti
kajian, diskusi, dan
lainnya. Berbeda lagi jika bisa mengadakan kajian dan event besarn yang menarik, hal itu justru
lebih baik. Toh, Bung karno dan
kawan-kawan seperjuangannya tidak pernah
menyelenggarakan
seminar nasional, malam inagurasi dan sejenisnya.
*Mahasiswa
Ilmu Sejarah Angkatan 2014