Oleh : Rinai Fajar*
Pati—Seorang gadis ditemukan tak bernyawa di bantaran
Sungai Jingkrung.. Tak ada yang mengetahui asal muasal kematian gadis yang
ditemukan di dalam karung yang mengapung di arus sungai yang cukup deras.
Diperkirakan gadis yang ditemukan mengenakan kaos panjang coklat dan jeans biru
berusia lima belas tahun. Jenazah kini dibawa oleh pihak Kepolisian ke Rumah
Sakit Umum Daerah (RSUD) Pati  untuk
diotopsi.
Seorang pria ambruk setelah membaca headline sebuah
koran lokal. Segera, diraihnya kunci motor di meja. Pikirannya hanya satu.
Angeline. Sudah seminggu, pria bernama Guntur itu tak mengetahui keberadaan
putri semata wayangnya. Poster, lapor polisi, bertanya pada semua teman
Angeline sudah ia lakukan tapi tak membawa hasil.
Dadanya bergetar hebat. Berharap gadis di koran itu
bukanlah anaknya. Dalam hati ia terus berdoa demikian, tapi kenyataannya seminggu
yang lalu Angeline pergi mengenakan pakaian persis gadis di koran. Guntur masih
ingat, selepas isya, putrinya pergi bersama sang pacar.
Tak peduli dengan motornya yang terparkir seadanya,
Guntur berlari mencari ruang otopsi. Kakinya lemas saat melihat wajah gadis
yang sedang diotopsi pihak rumah sakit. Dengan menyeret kaki, Guntur meraih
tubuh anaknya. Tak lagi ada pelukan hangat di setiap sore, saat ia pulang
kerja. Yang ada hanya dingin yang begitu memilukan.
“Angel!” rintihnya masih memeluk raga yang sudah tak
bernyawa. Tiba-tiba wajah Guntur berubah merah madam. Matanya menyulut
kemarahan. Tak lagi dihiraukan tatapan iba dari semua orang di ruangan. Yang
ada di pikirannya hanya Radit. Bajingan itu harus bertanggung jawab!
Dilajukan motor bebeknya dengan sangat cepat. Rumah
joglo di ujung desa adalah tujuannya. Guntur melihat lelaki berusia tujuh belas
tahun itu sedang menyulut rokok di teras. Hati Guntur geram dan melayangkan
bogem mentah ke perut Radit.
“Sabar, Pak! Ada apa ini?!” teriak Pariyem, ibu Radit.
“Bajingan ini!” Guntur berteriak sambil menunjuk Radit,
“telah membunuh anakku. Akan kubunuh dia di depanmu!”
Pariyem menangis sambil memeluk Radit. Pacar Angeline
itu hanya berdiam diri dengan tatapan kosong. Guntur masih tetap melayangkan
pukulan ke bagian tubuh Radit.
***
“Yah, Angel jadi dibeliin motor?” tanya Angel manja
sambil menyeduh teh untuk sang ayah.
Guntur mengembuskan napas pelan. Tak tega melihat
malaikat kecilnya kecewa. “Tahun depan ya, Nduk.”
“Ayah nggak jadi menjual tanah ke Pak Lurah?”
Guntur tak menjawab, tak sampai hati menyakiti hati
putrinya lagi. Mustahil ia  mampu menjual
tanah warisan tempatnya mengais rejeki. Meski Guntur tahu sudah tiga tahun
Angel minta dibelikan motor. Lelaki berusia lima puluh tahun itu juga tak lupa,
anaknya sering menangis karena diejek teman-temannya.
“Jaman gini, masih naik sepeda? Apa kata dunia?!”
begitu pil pahit yang harus ditelan Angel setiap pagi. Teman-teman sekolah
Angel akan terbahak dan meninggalkan hujan deras di pipi gadis piatu itu.
“Kata Pak Lurah, tanah Ayah dan warga lainnya tandus,
susah ditanami, gagal panen terus. Buang-buang tenaga jika mengurusnya. Kenapa
Ayah tidak menjualnya? Lalu dipakai usaha dan beliin Angel motor matic.  Ya, Yah?” Angel masih memohon dan berharap
batu di kepala Guntur dapat dipecahkan dengan bujuk rayunya.
“Nanti, Ayah pikirkan lagi ya.”
Angel bungkam. Tak lagi melanjutkan merayu ayahnya.
Dilihatnya tubuh lelaki itu yang kian renta. Pagi harus mengajar di sekolah
dasar yang gajinya hanya cukup untuk beli sabun dan sisa harinya puas
dihabiskan di bawah terik matahari.
“Yah, kalau emang nggak bisa beli motor, Angel nggak
apa-apa kok.”
Guntur bisa melihat binar mata Angel meredup.
“Kan Angel bisa bareng Radit.” Angel berujar setelah
mendengar deru mesin motor dimatikan.
***
Radit masih tak bersuara saat polisi bertanya. Ia juga
sama sekali tak bergerak saat Guntur menarik kerah bajunya.
“Tenang Pak! Ini kantor polisi!” teriak seorang polisi
yang berbadan gemuk.
“Katakan, Le! Apa benar kamu yang membunuh Angel?”
Pariyem terus bertanya. Berharap kata tidak keluar dari anak bungsunya.
Seorang pemuda berusia lima tahun lebih tua dari Radit
muncul. Matanya merah menyala. Tangannya mengepal dan meninju pipi Radit. Darah
segar keluar dari sudut bibir Radit. Walau perih, Radit sama sekali tak
bergerak.
“Kuijinkan kau pacaran bukan berarti melakukan hal
bodoh!” teriak lelaki bernama Redo, kakak Radit. “Walau  kau putus dengan Angel, bukan berarti kau
berhak membunuhnya.”
Aksara yang lahir dari mulut Redo membuat tubuh Guntur
lemas. Teringat sebulan yang lalu sebuah motor matic  putih terparkir di halaman rumahnya.
“Dari pacarku, Yah. Pacarku baik, kan?” begitu jawaban
Angel saat ditanya perihal motor baru yang membuat senyum merekah di bibirnya.
“Sejak kapan kau putus dengan anakku?” suara Guntur
bergetar.
“Hampir dua bulan.” sahut Redo.
Guntur tersenyum sinis. Ini pasti karangan preman
kampung itu untuk mengelabuinya.
“Kau jangan mengada-ada. Jelas-jelas tiap malam Angel
berkata pergi dengan pacarnya!” pekik Guntur hendak memukul Radit.
***
“Dit, maaf ya, aku mau kita putus. Tapi Angel harap
Radit masih mau jadi sahabat Angel.”
Radit memaksakan senyum itu muncul di wajahnya. Walau
ia tahu ada sesuatu yang patah di dalam tubuhnya. Hati yang sepenuhnya
diberikan gadis itu hancur sudah. Cinta Angel untuknya kini bagai debu yang
diterbangkan angin. Tak bersisa.
Angel hanya tersenyum lega. Sebentar lagi, impiannya
memiliki motor baru akan terwujud.
“Aku anterin ya, Ngel.” Suara Radit terdengar berat.
Angel menggeleng lalu memanggil tukang ojek. “Nggak
usah, Dit. Angel bisa sendiri.”
Ojek itu berhenti di depan motel perbatasan desa dengan
kota. Angel melangkah dengan ringan. Hatinya berbunga-bunga saat mengetuk
sebuah kamar. Dilihatnya sang kekasih muncul dari balik pintu. Sontak, tangan
mulus Angel ditarik sang kekasih. Tanpa aba-aba, di antara masing-masing
menembus sebuah kenikmatan. Gadis lima belas tahun itu tak berontak. Justru
ikut hanyut dalam alur yang diciptakan sang kekasih.
***
Malam itu, seminggu sebelum Angel ditemukan tak
bernyawa, gadis itu sedang bertengkar dengan pacarnya.
“Dasar gadis bodoh!” sebuah tamparan mendarat di pipi
mulus Angel.
“Kalau Anda tidak menikahi saya, akan saya beberkan
rahasia Anda kepada warga.” Angel mengancam sambil menatap tajam lurah muda di
depannya.
Pak Lurah tersenyum sinis lalu menarik rambut Angel.
“Heh, gadis dungu! Apa yang akan kamu beberkan?”
Angel menahan sakit. Rambutnya serasa tercabut satu per
satu. “Akan kukatakan bahwa lurah bajingan ini yang telah mencuri hasil panen
warga dan mendatangkan orang bodoh yang mengatakan tanah kami tandus!”
teriaknya yang dibalas dengan ludah Pak Lurah.
Pak Lurah melepas rambut Angel. Tangannya mengelus pipi
Angel. “Aku akan bertanggung jawab.”  Kakinya
melangkah menuju pintu. Angel tersenyum senang. Sebentar lagi tidak akan ada
kesulitan ekonomi yang akan dihadapinya bersama Guntur.
Tanpa Angel duga, Pak Lurah menutup pintu dan
menguncinya. Tersenyum menatap tubuh Angel yang diserahkan padanya dua bulan
lalu dengan balasan sebuah motor dan hadiah-hadiah kecil. Lelaki berusia tiga
puluh tahun itu memakai sarung tangan lalu mendekati Angel.
Angel mundur perlahan saat melihat Pak Lurah
menyeringai. Tubuhnya tertahan tembok. Udara seolah menghilang saat tangan
kekar lelaki yang sering berujar manis itu mencekik lehernya. Tubuhnya jatuh
limbung dan semuanya terasa gelap.
Pak lurah tersenyum puas. Ditatapnya tubuh yang sering
memuaskan birahinya terkulai lemah di lantai. Tak akan pernah ia biarkan gadis
dungu itu menghalangi langkahnya dalam mengambil alih tanah warga. Minggu
depan, ia akan menandatangani kontrak dengan orang kota yang akan membangun
pabrik semen di desanya.

*Mahasiswa Pendidikan Matematika 2014