Karya yang dipamerakan itu
merepresentasikan Molimo yang diajarkan Sunan Ampel.  Mahasiswa semester VI Seni Rupa Murni dan Desain
Komunikasi Visual (DKV) ingin menyampaikan pesan yang ada pada piweling molimo
tanpa menimbulkan kesan menggurui.
BP2M – Ada banyak cara untuk
menyampaikan pesan kebaikan agar lebih mudah diterima masyarakat, salah satunya
melalui karya seni. Tiga puluh karya hadir dalam pameran Seni Rupa yang
mengangkat tema “Paweling Molimo” di gedung B9 Fakultas Bahasa dan Seni (FBS). “Piweling
molimo
penting untuk membantu membangun kembali bangsa kita. Oleh karena
itu, kita harus selalu mengingat molimo,” tutur Purwanto, dosen
pembimbing pameran seni itu dalam sambutannya (3/6).
Penyampaian pesan melalui karya seni dirasa tepat karena
masyarakat cenderung menyukai seni. Salah satu karya dari Ihdizein, Mahasiswa
Desain Komunikasi Visual (DKV) 2013, yang berjudul Maha Melihat, bercerita
tentang sebuah botol raksasa yang menyiramkan isinya ke  seluruh kota,
kemudian kota tersebut luluh lantak oleh siraman tersebut.
Ilustrasi botol mewakili  lambang  minuman keras yang
bersifat destruktif bagi peminumnya maupun orang-orang disekitarnya. Jika
setiap pemuda dalam sebuah kota terbiasa mabuk-mabukan dengan minuman keras,
niscaya rusaklah seluruh kota karena tindakan tersebut. Selain, karya Maha
Melihat, masih banyak karya lain yang juga memiliki pesan tersirat dalam
penyampaian molimo.
Piweling molimo
mempresentasikan lima perilaku yang harus dihindari. Lima perilaku itu adalah moh
ngumbi
(minum-minuman), moh
madon
(main perempuan), moh main (main judi), moh maling (mencuri),
dan moh madat
(candu narkoba). [Royan,
Aji]