Suasana peserta SM3T menjelang keberangkatan. [Doc.Laeli]

Meninggalkan kampung halaman demi mengabdi
di daerah terpencil harus dihadapi peserta SM3T. Meski demikian, mereka tetap
bersemangat membantu sekaligus menambah pengalaman sebagai tenaga pendidik
profesional. 
BP2M
– Sejumlah 346 peserta Sarjana  Mengajar di Daerah Terpencil, Terluar, dan
Tertinggal (SM3T) siap diberangkatkan. Mereka akan ditempatkan di enam
kabupaten di antaranya Maluku Tengah, Dogiyai, Toli-toli, Sumba Barat, Mamberamo,
dan Pohuwato. Peserta yang diberangkatkan dari Unnes sore tadi (05/09/2016) tidak
hanya berasal dari Universitas Negeri Semarang, ada mahasiswa dari perguruan
tinggi lain di Jawa Tengah seperti Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas
Negeri Surakarta, dan Universitas PGRI Semarang.
Penerjunan
peserta SM3T ke berbagai pelosok negeri bertujuan membantu mengatasi
permasalahan kurangnya tenaga pengajar di kawasan terpencil, terluar, dan
tertinggal atau 3T. Peserta juga memperoleh pengalaman menjadi sarjana pendidik
profesioal sebelum mengikuti PPG (Pendidikan Pofesi Guru).

Pengabdian ini
diharapkan membentuk guru yang patriotik. “Indonesia tidak hanya tentang
kota-kota besar. Di pelosok negeri masih banyak yang membutuhkan jasa pendidik.
Hal itu dipahami betul oleh peserta SM3T sehingga mereka lebih peduli terhadap kondisi
masyarakat yang jauh dari keramaian,” ujar Abdurahhman, Ketua Panitia.
Abdurahman
berharap peserta yang berasal dari Unnes dapat mengimplementasikan karakter
konservasi di lokasi pengabdian, bukan hanya lingkungan tetapi juga budaya dan
perilaku.
Muhammad Fitron
Faiz, salah seorang peserta
SM3T, mengaku tertarik mengikuti program pengabdian tersebut karena ingin membantu masyarakat
yang kurang beruntung di pelosok negeri.
Kesedihan menyelimuti tatkala meninggalkan sanak keluarga di kampung
halaman. “Rasa
sedih tetap ada, namun pengabdian harus diprioritaskan. Saya tidak ingin melewati
kesempatan mengukir pengalaman menjadi pengajar profesional,” tambah Fitron.
Nantinya,peserta akan
dibiayai setiap bulan dan gratis akomodasi keberangkatan setelah melalui tahap pendaftaran
online, wawancara serta di karantinakan. [Aditya, Laeli]