Judul Buku     : Pulang
Penulis            : Leila S. Chudori
Tahun             : 2012
Tebal              : 460 Halaman
Penerbit         : Kepustakaan Populer Gramedia

Oleh : Teguh W.
Bagai seekor burung camar yang terbang tanpa ingin hinggap. Begitulah Vivienne menggambarkan sosok Dimas Suryo, suaminya yang seorang petualang. Kalimat metafora dari Vivienne memang ada benarnya jika melihat tingkah polah Dimas Suryo. Sang flaneur (pengelana) ini terpesona oleh banyak hal, mengelana ke berbagai macam pemikiran. Meski demikian, ia tak punya keyakinan yang tetap. Ia hanya yakin bahwa ia harus terus berlayar.
Pada akhirnya, Dimas menyadari bahwa petualangan yang dilakukannya tanpa tujuan tidaklah bagus bagi kehidupannya di kemudian hari. Penyesalan akan ketidakberaniannya dalam ‘memilih’ inipun diutarakan kepada putrinya, Lintang Utara. Sebagaimana pesan Dimas kepada Lintang, “Kau tak boleh menyeret-nyeret nasib dan perasaan orang hingga hati orang itu tercecer kemana-mana. Kau harus berani memilih dengan segala risikonya.” 
Pesan itu dimaksudkan agar putrinya tidak bimbang dalam menentukan sebuah pilihan dengan segala risikonya. Berani menentukan pilihan mencerminkan bentuk keberanian menjalani kehidupan. Karena bagi Dimas, orang yang berani menentukan pilihan merupakan sosok pemberani. Ia tak ingin putrinya menjadi manusia yang tak bisa memilih seperti dirinya. Hingga akibatnya, nasiblah yang berwenang mengatur kehidupanya. Dimas tidak menghendaki anaknya bernasib serupa dengan dirinya.
Mengutip Erickson (1989), seorang ahli Psikologi Perkembangan yang menjelaskan bahwa identitas diri sebagai pengalaman subjektif akan kesamaan serta kesinambungan batiniahnya sendiri dalam ruang dan waktu.
Dalam novel Pulang, Lintang dan Dimas merupakan tokoh sentral yang sedang melakukan pencarian identitas. Proses pencarian identitas membawanya menuju ke belahan bumi yang asing baginya. Pada akhirnya, perjalanan itulah yang menjadi identitas mereka, yakni menjadi flaneur, seorang pengelana. 
Pulang menjadi tujuan bagi seorang pengelana. Dalam novel ini kita mendapatkan dua jenis ‘gerak kembali’, persis sebagaimana yang dikatakan Ernst Bloch dalam The Principle of Hope mengenai dua jenis ‘pulang’. Pulang yang pertama adalah pulang sebagai a return dan pulang yang kedua adalah pulang sebagai an exodus.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Robertus Robet, Dosen Sosiologi Universitas Negeri Jakarta dalam testimoni novel Pulang. Kebebasan ada bukan pada a return yang tujuannya telah jelas dan tertentu, melainkan pada an exodus. Kebebasan ada di dalam an exodus persis karena dalam exodus seluruh gambaran mengenai masa depan terlihat samar, belum jelas dan konkret, akan tetapi dituju, diarungi dengan penuh kenekatan dan keberanian.
Pulang yang dikehendaki oleh Dimas adalah a return. Perjalanan Dimas berakhir dengan mendarat di Karet. Namun, pulang yang dilakukan Lintang adalah an exodus, sebuah petualangan atas tanah yang sama sekali belum ia mengerti. Pulang yang tujuan akhirnya hanya bisa ia temukan setelah ia berada di ‘sana’ dan bukan ketika ia berada di Paris.
Pulang membawa kita pada ‘gempa politik’ yang mengguncang sisi kemanusiaan pada masa silam. Isu komunisme pada masa itu meninggalkan berbagai persoalan menyangkut kemanusiaan. Berbagai macam pembantaian, penganiayaan, pemenjaraan tanpa pengadilan banyak terjadi di bumi pertiwi ini. Selain itu, gerakan bersih diri dan bersih lingkungan juga berdampak pada diskriminasi sosial hingga puluhan tahun setelah tragedi berdarah tahun 65.
Menarik sekali membaca buku fiksi yang dibumbui unsur sejarah. Meski fiktif,  namun semua terasa begitu nyata. Kisah potongan sejarah bangsa ini dikemas Leila S. Chudori ke dalam roman yang memukau. Karyanya sedikit banyak memberikan gambaran kacau balau negara ini pada saat itu. Leila S. Chudori sangat  piawai mendeskripsikan situasi setiap peristiwa dengan apik.

Mahasiswa Ilmu Politik 2014