Oleh: Amiruddin Adzkiya

Rabu,
21 Desember 2016 dikejutkan dengan viralnya “Om Telolet Om!” Semua warga di
media sosial geger perihal itu. Tidak hanya lingkup nasional yang digegerkan
oleh Om Telolet. Warga internasional juga turut menanggapi Si Om Telolet ini. Seorang
legenda pesepak bola internasional Jerman, Michael Ballack di akun twitternya
menanyakan tentang apa sebenarnya makna Om Telolet Om. Fanpage resmi Real
Madrid juga memberikan sapaan kepada Indonesia dengan ucapaan Om Telolet Om. Stasiun
televisi pun tidak mau ketinggalan meiput keviralan telolet. Selain kedua
contoh tersebut, masih banyak yang ikut-ikutan terkena virus “Om Telolet Om.”
Seperti
yang diketahui, Om Telolet Om merupakan kegiatan mencari klakson bus yang
berbunyi telolet. Hal ini sering dilakukan oleh warga Ngabul Jepara. Di balik
fenomena unik ini, banyak manfaat bagi masyarakat Indonesia.
Kemarin
masyarakat Indonesia digegerkan dengan kasus penistaan agama oleh Ahok. Di sini
tingkat persatuan bangsa diuji. Bila mampu melewati masa-masa ini dengan baik,
berarti kedewasaan bangsa telah tumbuh. Persatuan dan kesatuan akan tetap utuh
tanpa runtuh. Namun kenyataannya sungguh berbeda, bangsa kita belum bisa
sedewasa itu. Ekspektasi tinggi itu belum kita raih secara nyata.  
Masalah
ini menimbulkan dua perseteruan antara kelompok penentang Ahok dan Pembela Ahok.
Kelompok penentang Ahok dengan lantang menyebarkan semacam cacian kepada Ahok.
Sedangkan kelompok pembela menyebarkan kebaikan-kebaikan terhadap Ahok. Media
sosial menjadi salah satu jalan yang tepat untuk merealisasikan tujuan itu.
Sampai-sampai netizen tidak tahu mana berita benar dan mana yang hoax.
Semua
berita yang dibaca ditelan mentah-mentah, tanpa menyaring dan memilahnya. Sehingga
peran media sosial sosial disini bukan lagi menjadi sumber berita, tapi menjadi
sumber provokasi. Netizen yang awalnya merupakan orang yang bersih, tidak
memihak sana-sini, tiba-tiba berubah menjadi kelompok sesuai dengan
kecenderungan media sosial sosial yang ia baca.

Tentu
sangat sulit apabila kita melarang pengguna media sosial untuk tidak
menyebarkan berita tentang penentangan ataupun pembelaan. Karena dalam setiap
diri manusia terdapat hak, dan hak tersebut masih tetap eksis selagi hak yang
dia lakukan tidak melanggar kebebasan ataupun hak orang lain. Akhirnya yang
dirasa netizen adalah kebingungan, kebingungan dan kebingungan.
Fenomena Viral
Nah,
kehadiran “Om Telolet Om” setidaknya bisa mengalahkan indeks berita tentang
kasus di atas. Rabu, 21 Desember  2016 merupakan
awal dari segala puncak keviralan “Om Telolet Om”. Kata-kata tersebut sudah
tidak hanya menjadi gegeran warga Indonesia. Klub raksasa sepakbola Jerman, Bayer
Munich juga ikut-ikutan viral menggunakan caption “Om Telolet Om”. Tak mau ketinggalan,
fanpage resmi Interazionale juga ikut meramaikan pasaran kata “Om Telolet Om.” Malah,
dari pihak Kemenhub akan mengadakan lomba “Telolet Terbaik.” Bagi yang
memiliki klakson terbaik, akan diberikan hadiah.
Sungguh
luar biasa. Perilaku anak-anak kota ukir Jepara yang berada di sekitar Ngabul
Tahunan hingga menjadi sangat viral di dunia internasional. Di tempat-tempat
tongkrongan, guyonan yang mereka angkat juga seputar “Om Telolet Om”. Hal tersebut  menandakan bahwa peran anak-anak tidak bisa
diremehkan.
“Om Telolet
Om” hadir membawa seribu candaan. Ia dapat menjadi pelipur bagi mereka yang
sedang bersedih. Dan yang paling tidak bisa dilupakan dari peristiwa “Om Telolet Om” sudah
mendunia. Indonesia mendunia karena hal kecil. Andai saja Indonesia juga dapat
mendunia karena prestasi-prestasi, sungguh akan lebih membahagiakan lagi. Om Telolet
Om adalah hiburan semata, jika kalian menanggapi hiburan semacam ini dengan keseriusan,
keseriusanmu perlu dibenahi.

*Mahasiswa Universitas Negeri Semarang