Judul       : Nirbaya: Catatan Harian Mochtar Lubis dalam Penjara Orde Baru
Penulis    : Mochtar Lubis
Penerbit   :
Buku Obor
Tahun      :
2008
ISBN       :
978-979-416-683-3

 I feel so
close to you, while i write this letter and I see your lovely face so cleary
before me, your smile, and I hear your foft voice. And immediat
ially I am happy again.

Penjara mungkin
dapat membatasi gerak fisik seseorang. Namun, akal dan
pikiran tidak dapat dibatasi
dalam penjara sekalipun. Bahkan, kita
mengenal banyak karya besar lahir dalam penjara. Soekarno menulis Indonesia
Menggugat, Hatta menulis Indonesie Vrij, Pram menulis Tetralogi Buru, semuanya ditulis dalam penjara. Pun bentuk karyanya bervariasi. Ada catatan harian, sastra, dan sebagainya.
Mochtar Lubis, seorang sastrawan dan juga pimpinan
redaksi (pimred) harian Indonesia Raya juga
menulis di dalam
penjara semasa orde baru. Mochtar menulis catatan harian yang kemudian diterbitkan
menjadi buku berjudul “Nirbaya:
catatan harian Mochtar Lubis dalam penjara orde baru
“.
Buku
ini diawali oleh catatan hariannya dalam
penjara Nirbaya. Berbagai hal sederhana dan sepele dituliskannya. Mulai dari menu makan, aktivitas
olahraga, dan tahanan
lain yang diamatinya. Meskipun tergolong sederhana dan sepele, tetapi keadaan
dalam penjara Nirbaya dapat
digambarkannya dengan baik. Mulai dari penurunan mutu makanan yang dialaminya
hingga pengamatan bagaimana tahanan Gestapu diperlakukan dengan lebih buruk
dengan tahanan lainnya.

Namun, bukan itu yang ingin coba saya bahas disini. Sejak
pertengahan hingga akhir, buku ini berubah menjadi kumpulan surat cinta Mochtar
kepada istrinya, Halimah
atau oleh Mochtar dipanggil Hally.
Disini kita akan melihat Mochtar seperti anak muda
yang tengah kasmaran. Setiap surat untuk istrinya itu diawali dengan Dearest Hally atau Hally sayang.
Berbagai kata-kata manis dan ungkapan rindu disampaikan melalui surat-surat
ini. Kita bisa melihat betapa menderitanya Mochtar terpisah dengan sang istri.
Pada 22 Februari 1975 Mochtar menulis,
I saw the moon this evening
and think of you. Last night
, I also
dreamt of you. People say that the moon is friend of lovers. I think so, when
the lovers are together. But when they separated, the moon would make them even
more aware how separated the are.
Cintanya terhadap Hally membuat Mochtar mampu melewati
masa-masa sulit ini. Dipisahkan oleh penjara tentu bukan hal yang mudah untuk
dihadapi. Terutama dalam penjara orde baru yang ketat dan membatasi jumlah
kunjungan keluarga. Akhirnya, melalui
surat-suratnya lah Mochtar menyalurkan rasa rindu dan cintanya. “I feel so
close to you, while i write this letter and I see your lovely face so cleary
before me, your smile, and I hear your foft voice. And immediat
ially I am happy again.

Cinta,
Dunia Bukan Milik Berdua
Surat-surat
Mochtar tak selamanya berisi tentang cinta. Selain mengungkapkan betapa cinta
dan rindunya kepada Hally, Mochtar banyak menuliskan permasalahan yang dihadapi
negara, rakyat, dan tahanan Nirbaya lainnya. Disinilah hubungan cinta Mochtar dan
Hally tampak unik. Agaknya, ungkapan ‘dunia seakan milik berdua’ tidak berlaku
bagi mereka. Dunia adalah milik bersama, milik manusia, dan semua yang
menghuninya.
Dalam
surat-surat Mochtar kita akan menemukan berbagai permasalahan sosial, ekonomi, juga
politik. Kekhawatirannya terhadap keadaan negara terselip dalam hampir setiap
surat cintanya.
Dalam
suratnya yang bertanggal 20 Maret 1975 misalnya, Mochtar menulis tentang bahaya
modal asing bagi manusia dan alam Indonesia. Surat diawali “Hally sayang,”
dilanjutkan, “Kau senantiasa datang dalam mimpiku. Sekali aku mimpi amat indah
tentangmu. Rasanya seakan tak dalam mimpi sama sekali.” Pada pertengahan surat
tak lagi tentang cinta dan beralih melihat masalah modal asing. “Jelaslah,
bahwa persoalan modal asing bukan soal ancaman terhadap eksistensi pengusaha pribumi
belaka. Amat banyak segi-seginya yang belum lagi diteliti dan dipikirkan
baik-baik oleh kita di Indonesia. Modal
asing membawa falsafah materialistis ‘maksimal keuntungan’, tanggung jawab
manajemen hanya pada pemilik modal, dengan nilai budaya yang hendak menaklukkan
alam.”

Maka,
membaca Nirbaya bukan hanya membaca catatan harian dan surat cinta saja. Akan
tetapi, juga membaca masalah korupsi, modal asing, kebebasan pers, dan permasalahan
lainnya yang dihadapi Indonesia saat itu. Apakah masih ada faedahnya
mempelajari permasalahan itu dalam menghadapi masa kini? Bila perlu silahkan
bertanya pada rumput yang bergoyang!
*Lalu Muhammad Jazidi,
Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Bergiat di Pers Mahasiswa
di BP2M Unnes, Kelompok diskusi Jagongan Buku dan Lingkar Pena Kembara Ilmu
Politik.