Walikota Semarang Hendrar Prihadi membacakan Halaqoh di Masjid Agung, Kauman, Semarang, Sabtu 4 Mei 2019. [Doc. BP2M/Fajar].

Linikampus.com-Menyambut bulan Ramadan, kota Semarang menyelenggarakan tradisi Dugderan. Tradisi  tahunan yang sudah dilaksanakan turun temurun sejak 1881 bertujuan untuk memperingati awal bulan Ramadan.

Menurut Muhaimin, panitia Dugeran Masjid Agung Semarang, nama  Dugderan berasal dari suara bedug yang berbunyi “dug dug dug” dari Masjid Agung Semarang dan mercon yang berbunyi “der der der” dari kanjengan –tempat tinggal Bupati Semarang di timur Masjid Agung Semarang zaman dahulu-. Kedua benda dibunyikan secara bersamaan sebagai penanda untuk masyarakat Semarang bahwa bulan Ramadan telah tiba. Karena kanjengan sudah tidak ada, kemudian berganti di Balaikota sebagai pembukaan Dugderan yang merupakan representasi tempat  Bupati Semarang.

Meskipun tradisi Dugderan sudah diselenggarakan sejak zaman Hindia-Belanda, namun terdapat perbedaan antara Dugderan jaman dahulu dengan Dugderan saat ini. Dugderan jaman dahulu bertujuan untuk mengumumkan awal bulan Ramadan. Sedangkan saat ini Dugderan dilakukan dalam rangka Mangayuh Bagyo wujud kebahagiaan datangnya bulan Ramadan.

“Dugderan ini untuk memperlihatkan bahwa jaman dulu sudah ada ritual yang seperti sidang isbat yang dilakukan di kota Semarang. jika Dugderan dulu sebagai penanda, sekarang Dugderan hanya sebagai Mangayuh Bagyo atas kedatangan ramadan” ujar Muhaimin, yang juga Warga Asli Kauman.

Saat ini tradisi Dugderan merupakan rekonstruksi dari tradisi Dugderan di jaman Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat. Beliau lah orang yang pertama kali menyelenggarakan tradisi tersebut.

Acara yang dibuka dengan tabuhan bedug oleh Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi di halaman Balai Kota Semarang, Sabtu (4/5/2019). Pada pembukaan tersebut Hendar Prihadi berperan sebagai pendahulunya, Kanjeng Bupati Arya Purbaningrat.

Wali Kota yang akrab disapa Hendi mengajak masyarakat untuk menyikapi perbedaan sebagai kekuatan, kemudian ia menghimbau agar di bulan suci ini masyarakat saling menghargai dan menghormati guna membangun Kota Semarang.

“Kita adalah satu warga bangsa Indonesia yang harus kompak untuk membangun kota Semarang,” kata Kanjeng Bupati yang sekarang diperankan oleh Walikota Semarang saat prosesi Dugderan yang bertempat di  Masjid Kauman Semarang. Pembukaan ini juga dimeriahkan oleh penampilan marching band dan tarian tradisional khas adat Jawa.

Prosesi Dugderan dilanjut dengan kirab hewan fantasi khas Semarang  “Warak Ngendhong” dari Balai Kota Semarang menuju Masjid Agung Kauman Semarang, dilanjutkan ke Masjid Agung Jawa Tengah. Di Masjid Agung Kauman Semarang Kanjeng Bupati Menerima Suhuf Halaqoh dari para alim ulama, kemudian memukul bedug, yang diikuti bunyi petasan.

Kegiatan dilanjutkan dengan pembagian kue khas Semarang yaitu Ganjel Rel dan air Khataman Alquran. Kue Ganjel Rel memiliki makna bahwa hati perlu ditata agar tidak ada ganjalan menjelang puasa. Sedangkan air khataman Alquran dimaksudkan sebagai pengingat untuk lebih sering membaca Alquran selama bulan Ramadan. Kue dan air tersebut diperebutkan oleh warga yang sudah berbaris di depan gerbang Masjid Kauman Semarang. Meskipun acara sempat diguyur hujan, hal tersebut tidak menyurutkan antusiasme warga untuk mendapat kue dan air tersebut.

Setelah melalui prosesi di Masjid Agung Kauman Semarang, Kanjeng Bupati berpindah ke Masjid Agung Jawa Tengah untuk menyampaikan Suhuf Halaqoh kepada Gubernur Jawa Tengah. Kemudian diumumkan kepada masyarakat bahwa sebentar lagi akan memasuki bulan Ramadan dan acara ditutup dengan doa.

Acara yang mengusung tema “Mempererat Kemajemukan Menuju Semarang Hebat” ini juga mendapat Penganugrahan dari Lembaga Prestasi Indonesia Dunia (LEPRID) atas patung Warak Ngendok terbesar setinggi enam meter.

Reporter : Desli, Fajar, Afsana