BUKU PANDUAN MATEMATIKA TERAPAN
sumber foto: LPPM Unnes

Oleh: Zahwal Wafdah

 

Judul                                       : BUKU PANDUAN MATEMATIKA TERAPAN

Penulis                                     : Triskaidekaman

Penerbit                                   : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan                                   : Tahun terbit 2018

Tebal                                       : 364 halaman

ISBN                                       : 978-602-06-2458-7

 

“Dalih mereka begini: semua sistem yang diciptakan manusia selalu mengikuti modus, apa yang paling banyak maka itulah yang dianggap benar. Aristoteles sekali. Yang beda sendiri itu pastilah salah, pastilah aneh. Yang beda-beda itu, termasuk kamu, tidak perlulah diakomodasi; menghabiskan sumber daya saja, jadinya. Justru kalianlah yang harus beradaptasi mengikuti sistem yang dijalankan oleh kaum dominan. Semacam argumentum ad populum. Kalau mau beda sendiri, dirikan saja sekolah sendiri. Atau kalau mau diakomodasi, dimanja, silakan masuk ke tempat khusus. Tempat buat anak-anak semacam dirimu.’’ (hlm: 64)

Bukankah sebuah sistem seharusnya memiliki mekanisme perlindungan untuk kaum minoritas?

Sistem perlindungan hanya sebatas manipulatif belaka. Seperti yang kita ketahui bahwa negara ini negara hukum, penguasa berdalih bahwa semua sistem di negeri ini wajib memberikan perlindungan kepada kaum minoritas. Nyatanya, sebaik-baik suatu keadilan yang didengungkan, tetap ada yang terpinggirkan.

Masyarakat minoritas kerap menjadi korban manipulatif para penguasa, seperti kasus Corona yang tengah terjadi di Indonesia. Orang-orang borjuis seringkali memanfaatkan sebuah kesempatan dalam situasi ruang terpuruk. Masuknya virus Corona ke Indonesia membuat para jajaran borjuis melakukan aksi penimbunan masker untuk dijual dengan harga yang tidak wajar.

Konsep P-NP Dalam Kehidupan Manusia

Dalam novel ini, Triskaidekaman menyampaikan petuah dengan menyajikan ide-ide liar manusia, mengungkap misteri alam semesta dengan rumus yang tersembunyi dibalik angka-angka. Ruang P-NP (Sesuatu yang bisa diperhitungkan-sesuatu yang tidak bisa diperhitungkan) seringkali beradu dalam misteri.

P-NP berbeda dengan subjek yang lain, ia butuh ketepatan bukan hipotesis, bukan juga suatu praduga belaka. Ia butuh jalan yang pasti, bukan entitas* semata. Heksagram yang dibentuk memiliki 64 varian. Pertama, tenaga yang luar biasa untuk menciptakan sesuatu.

Kedua, bahwa hamparan dunia yang kosong akan siap untuk kita isi. Seperti halnya kehidupan yang terdapat di kota Megapolitan, masyarakat di seluruh daerah memutuskan untuk merantau di megapolitan guna memutuskan rantai penderitaan. Nyatanya, mereka hanya hidup dalam naungan tanda tanya.

Gaya penulisan yang verbose membuat buku karya Triskaidekaman berasa pretensius. Kata pengantarnya terlalu bertele-tele, pemilihan bahasa yang arkais* membuat pembaca tersesat dalam labirin kata yang ia torehkan.

Namun, di sisi lain Triskaidekaman menautkan konsep P-NP dalam kehidupan manusia. P diibaratkan sebagai angan yang selalu dipertanyakan, sedangkan NP adalah pertanyaan dari jawaban yang dapat diverifikasi dalam waktu polinom*.

 Baca Juga: Membaca Sisi Lain Sepak Bola

Kehidupan Sejatinya Sebatas Pertemuan dan Kehilangan

Hidup terkadang seperti kurva parabola. Kamu menginginkan sesuatu. Kamu datang mendekat padanya dengan penuh harapan. Ternyata ia mengusirmu menjauh bahkan sebelum kamu bersentuhan dengannya. Kejam. Apa yang kamu mau justru tak mau kamu ada. Ia membuang muka, berpantang sudi. Begitulah. Tanpa bersentuhan lagi, tanpa pamit, tanpa niat untuk mundur, dan tanpa tolehan sama sekali, … ”
(hlm: 21)

Begitu banyak pertanyaan soal kehidupan yang dibahas di buku ini. Hal ini dapat dilihat oleh tokoh yang bernama Mantisa, ia melontarkan pertanyaan bagaimana asal-usul dari P.

Mengapa hewan itu disebut itu, ini disebut ini. Mengapa ada yang bertelur, mengapa ada yang melahirkan, mengapa ada yang harus mati ketika menuruskan generasinya. Mengapa kambing makan rumput saja, mengapa harimau memakan daging saja dan mengapa manusia justru dengan rakusnya memakan segalanya.

Triskaidekaman mengibaratkan Mantisa sebagai seorang anak kecil yang selalu bertanya tentang hal yang mungkin tidak dapat diperhitungkan. Buku ini semakin hidup ketika tokoh Prima bertemu dengan Mantisa.

Prima selalu menghabiskan banyak waktunya berdialog dengan hantu mengenai berbagai persoalan kehidupan, kisah Mantisa dan Prima membuat tombol dalam pikiran kita seperti dinyalakan beberapa saat untuk berkelana menghinggapi beragam pertanyaan soal kehidupan.

Triskaidekaman menyadarkan kita bahwa kehidupan sejatinya sebatas pertemuan dan kehilangan, kehilangan mengajarkan kita untuk memahami bagaimana cara kita untuk menyikapi beragam stigma kehidupan yang kadang begitu getir.

 

Manusia Hanya Sebagai Penumpang

Manusia Cuma Penumpang. Cuma Pemeran. Cuma Bidak-bidak yang bergerak-gerak sesuai perannya. (hlm: 284)

Teori semesta banyak dinukil seringkali menyimpang sesuai kaidahnya, seperti hal nya pengertian dari Manusia. Cuma penumpang, cuma pemeran dan cuma bidak yang bergerak sesuai perannya.

Banyak manusia seringkali mengedepankan ego ketika menyikapi suatu hal, seperti jenazah pengidap virus Corona yang tidak diterima warga untuk dikebumikan di suatu wilayah yang berada di Jawa Tengah.

Bukannya manusia hanya sebagai penumpang? Mengapa mereka—manusia—tidak menerima sesama penumpang untuk dikebumikan di wilayah tersebut?

 

 

Entitas: Sesuatu yang memiliki keberadaan unik dan berbeda, meskipun tidak harus bentuk fisik.

Arkais: Kuno

Polinom: Bentuk suku-suku dengan banyak terhingga yang disusun dari variabel dan konstanta. Merupakan bahasa matematika, digunakan dalam penjumlahan, pengurangan, perkalian, pangkat bilangan tak negatif.