Ilustrasi Cepatnya Perubahan Tren di Masa Pandemi. [BP2M/Gallah]

Pandemi Covid-19 yang menyebabkan sebagian besar aktivitas masyarakat dilakukan secara daring, tak jarang menimbulkan rasa bosan. Dilansir dari Kompas.com (4/5) bahwa pandemi Covid-19 yang saat ini sedang berlangsung menjadi kontribusi lain di luar kondisi normal yang disebut sebagai “waktu ledak kebosanan”.

Selama masa pandemi ini kita melihat fenomena media sosial di mana sesuatu bisa mendadak viral dan langsung diikuti oleh banyak orang. Namun fenomena tersebut terjadi hanya dalam waktu singkat. Salah satu tren tersebut adalah gim “Among Us”. Sebelumnya terdapat pula meme atau gim-gim lain yang juga viral tetapi bertahan hanya dalam waktu singkat.

Fenomena gim “Amoung Us” di masa pandemi ini dianggap dapat menghilangkan kebosanan karena gim ini melibatkan banyak orang dan terdapat interaksi yang aktif. Dilansir dari Tribunnews.com (27/9) bahwa gimAmoung Us” ini telah hadir sejak 2018 lalu. Namun menjadi viral karena selain dimainkan oleh beberapa youtuber, gim ini juga menjadi pengisi waktu di saat penerapan pembatasan interaksi fisik di masa pandemi Covid-19.

Jadi bagaimanakah tren media sosial dan kaitannya dengan pandemi Covid-19? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, di sini kita berbincang dengan Septian Eko Prasetyo, CEO IT Pedia.

Apakah meningkatnya tren di media sosial seperti ini sudah ada sejak dulu atau baru-baru ini (selama pandemi)?

Secara algoritmik, media sosial memang akan memberikan informasi secara realtime mengenai tren yang sedang banyak dibahas netizen. Terkait tempo seberapa lama dia bertahan di media sosial juga berbanding lurus dengan seberapa sering dia dibahas oleh netizen. Jadi, jika ada hal baru yang banyak dibicarakan, bisa juga hal tersebut menggantikan posisi tren yang lama. Begitu terus menerus. Sebenarnya fenomena ini sudah ada dari dulu sih, soalnya sebelum pandemi juga kita sudah mengenal tren di media sosial. Hanya saja karena pandemi seperti ini kan ada peningkatan yang cukup signifikan di traffic pengguna media sosial.

Mengapa tren bisa cepat sekali berubah ? Hal-hal seperti apa yang berpotensi untuk menjadi tren?

Kalau secara teknologi yang diterapkan di media sosial, jelas dia akan menempatkan tren di posisi atas jika banyak yang membahas. Jadi dalam posisi ini, hal apapun bisa mendapatkan kedudukan yang sama untuk bisa menjadi tren, selama mempunyai kekuatan untuk dibahas. Tapi kan netizen juga gampang sekali bosan dengan hal-hal yang sering sekali dibahas. Jadi hal itu berbanding lurus dengan turunnya tren yang sedang terjadi. Akhirnya disusul kembali tren baru yang lebih fresh dan menarik dibahas. Gak mungkin juga kan, kita bakal bahas sesuatu terus menerus dan mengulik sesuatu terus menerus?

Tentang apa aja yang bakal punya potensi untuk jadi tren sebenarnya ada beberapa sih. Mengingat juga netizen itu pola fikirnya bermacam-macam dan aneh-aneh. Bahkan sesuatu yang buruk juga banyak sekali jadi trending. Giliran prestasi dan karya sedikit sekali dibahas. Mungkin karena memang sudah menjadi ciri khas netizen kita yang menyukai hal-hal baru dan unik.

Apakah dengan kemunculan viralnya gim tersebut dapat mempengaruhi tingkat ketergantungan manusia pada media sosial dan teknologi?

Tidak, mungkin gim itu salah satu bentuk pelampiasan terhadap kondisi kita sekarang akibat pandemi. Selain karena faktor yang mengharuskan kita tetap berada di rumah, penggunaan gadget untuk media sosial dan permainan menjadi salah satu alternatif hiburan di tengah pandemi. Apalagi “Among Us adalag gim yang dimainkan oleh banyak orang. Bukan hanya gim “Among Us” sih, tapi untuk gim-gim yang lain saya kira masih normal dimainkan sebagai sarana hiburan.

Untuk sampai ke tingkat ketergantungan pada media sosial dan teknologi saya rasa kita dari dulu cukup bergantung dengan media sosial dan teknologi. Bahkan sekarang sampai ke segala lini, baik di ekonomi dan pendidikan. Secara perlahan, kebiasaan kita yang memang mulai diarahkan untuk bergantung dengan teknologi. Bukan karena munculnya gim ini. Tapi karena kondisi akibat pandemi sehingga kita mulai terbiasa menggunakan platform digital.

Bagaimana Anda melihat kecenderungan “ikut-ikutan” di masyarakat?

Memang masyarakat kita masih sering mengadopsi gaya, perilaku, atau sikap terhadap sesuatu tanpa dilandasi pemikiran yang tajam. Mungkin karena bias sih, jadi kalau banyak orang yang pakai ini, kita ikut pakai ini. Kalau banyak orang lagi bahas itu, akhirnya tanpa sadar kita juga ikutan bahas itu. Jadi kalau sesuatu dibahas berulang-ulang akan mudah sekali masuk ke pikiran kita. Dan tanpa sadar, kita mempunyai pemikiran yang dominan terhadap hal tersebut.

Kecenderungan orang itu sebenarnya bukan kepada “ikut-ikutan” tapi lebih ke “takut tidak diakui”. Jadi dengan persepsi itu, kita kadang berpikir harus meniru hal yang orang lain lakukan agar kita diterima menjadi bagian dari sosial mereka. Apakah itu juga akan berbahaya untuk diri kita? Tentu, jika kita mengikuti hal-hal yang tidak mempertimbangkan logika dan kebenaran. Sehingga suatu tren yang kurang baik akan memaksakan kamu berpikir karena banyak dilakukan oleh orang akhirnya kita menyimpulkan dengan salah.

Apakah tren ini memang hal yang diharapkan masyarakat atau hal yang normal?

Bukan diharapkan, tapi lebih kepada expose. Karena tidak semua masyarakat tentunya menyetujui tren. Makanya dalam Twitter ada yang namanya sentimen analisis. Hal tersebut dimaksudkan untuk menganalisis twit apakah dia positif atau lebih cenderung ke negatif.

Tren yang hanya muncul sebentar tetapi sangat ramai ketika itu muncul. Jika dilihat dari prespektif media sosial dan perilaku masyakarat, apa saja faktor yang menyebabkan tren bisa menjadi seperti itu?

Terkait faktor kenapa tren bisa sangat ramai itu karena percepatan dan peningkatan topik yang sedang dibicarakan. Kalau ada hal baru dan unik, mungkin masyarakat kita cenderung “mau tau” dan ikut nimbrung membahas hal tersebut meskipun dia sendiri belum tau apa yang dibahas. Jadi, intinya media sosial sendiri memberikan banyak kelonggaran terkait pembahasan apapun yang sekiranya bisa menjadi tren. Akhirnya masyarakat kita yang sedikit banyak masih “kepo” tentang topik tersebut memberikan dorongan sendiri untuk mesin/algoritma pada media sosial.

Contoh saja semisal ada suatu topik yang sedang hangat di You-Tube. Baik dan tidak baik, suka atau tidak suka jika kita sudah membuka video tersebut dan memberikan komentar entah itu setuju ataupun tidak setuju, like ataupun dislike akan memberikan percepatan dan peningkatan terhadap topik yang sedang dibahas. Artinya kita telah memberikan kesempatan video tersebut bertengger di posisi atas You-Tube. Begitu juga Twitter. Semisal kita banyak membuat tweet atau me-retweet atau me-reply tentang suatu topik secara simultan. Algoritma twitter akan melakukan kalkulasi tren baru untuk topik yang dibicarakan.

Jadi perilaku masyarakat dalam bermedia sosial juga mempengaruhi statistik topik yang sedang hangat. Jadi kalo ada tren baru yang muncul sebenarnya juga akan memancing orang menjadi “ingin tau”. Karena masing-masing media sosial punya algoritma sendiri, jadi tiap media sosial beda cara kalkulasi tren nya. You-Tube melihat view dan interaksi di komentar, namun masih memperhatikan kemungkinan itu spam atau bukan. Di Twitter beda lagi karena topik harus setidaknya ditweet, retweet atau direply dalam waktu yang cenderung singkat.

Apakah adanya pandemi mengubah tren masyarakat?

Tidak, tren cenderung random mengikuti dan mengalir dengan apa yang sedang hangat saja.

Bagaimana dampak positif serta negatif yang ditimbulkan?

Dampak positifnya tentu jika tren yang dihasilkan baik akan banyak bermanfaat bagi orang lain. Sebaliknya jika yang tren itu yang aneh-aneh tentunya juga bakal memberikan efek negatif karena media sosial itu masih belum bisa memberikan batasan yang jelas terhadap konten-konten yang kurang normatif.

Bagaimana tanggapan dan saran terkait fenomena media sosial tersebut?

Media sosial itu kan hal personal ya. Jadi kembali lagi ke individu masing-masing. Mereka punya hak untuk menentukan bagaimana interaksi yang terjadi di dalamnya. Selama masih sesuai dengan aturan dan hukum yang berlaku. Di sisi lain, kalau bisa manfaatkan media sosial di tengah pandemi sebagai platform yang bermanfaat. Khususnya untuk menambah nilai untuk diri dan untuk ekonomi kita. Banyak juga orang-orang hebat lahir dari dampak positif dengan adanya media sosial. Tapi banyak juga orang hebat yang akhirnya terpuruk berada di posisi paling bawah akibat dari pemanfaatan media sosial yang kurang bijaksana. Dalam istilah lain, media sosial seperti pedang bermata dua. Jika digunakan dengan baik akan mendapatkan manfaat, sebaliknya jika salah dipergunakan justru akan memberikan dampak negatif untuk kita sendiri.

Ilustrasi Septian Eko Prasetyo. [BP2M/Amilia]
Narasumber: Septian Eko Prasetyo

Pengalaman:

  • CEO IT Pedia Indonesia
  • Awardee LPDP Kementerian Keuangan RI
  • Humas dan Tim IT Faktultas Teknik Universitas Negeri Semarang
  • Programmer

Reporter: Annisa dan Alya

Penyunting: Niamah