Ilustrasi minimnya sosialisasi sistem pemira [BP2M/Maskur Riyanto]
  • Empat hari menuju pemira, belum ada sosialisasi terkait teknis pelaksanaan memilih dari (Komisi Umum Pemilu Raya) KPUR.
  • Terkait persiapan mengenai sistem e-vote, Ketua KPUR, Laela Rahma Agustin menyatakan bahwa kesiapan dari pihak penyelenggara pemira sudah 70%.
  • Aplikasi pemira daring rencananya dapat diakses secara langsung melalui Apps Unnes.
  • KPUR menargetkan pemilih yang melakukan vote minimal 40% dari jumlah mahasiswa aktif.
  • Mahasiswa mengkhawatirkan rendahnya partisipasi pemilih dan kemungkinan terjadi kecurangan.

Pemilihan Umum Raya (Pemira) Unnes akan diselenggarakan pada 15 Desember 2020 mendatang.  Empat hari menuju pemira, belum ada sosialisasi terkait teknis pelaksanaan memilih dari (Komisi Umum Pemilu Raya) KPUR.

Mulai dari segi persiapan hingga kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Ahmad Thoriqul Ihsani, mahasiswa PGSD Ngaliyan mengaku belum pernah mendapat sosialisasi mengenai bagaimana sistem pemira daring tahun ini.

“Kalau teknis sama sistemnya belum ada sosialisasinya, sih. Nanti mau pakai Google Form atau Aplikasi kurang tahu. Tapi yang jelas ini masih masa kampanye, to? Dan kayanya juga udah ada pendaftaran panitia juga,” terangnya melalui telepon (10/12).

Menurutnya, pemira tahun ini juga tidak akan berjalan lancar mengingat ada beberapa kendala yang akan dihadapi.

“Menurutku pribadi gak bakal berjalan lancar, (karena, red) yang pertama soal kredibilitas, kemudian minat mahasiswanya juga rendah, kemudian dari segi sinyal, (dan/red) waktu,” lanjutnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ayu Fitri Andini, mahasiswa jurusan Sosiologi dan Antropologi. Ia mengatakan bahwa walaupun pemira tahun ini berjalan, namun akan mengalami banyak kendala, terutama server down, dan masalah jaringan.

Di sisi lain, Dinda Shafa Kamila, mahasiswa Pendidikan Seni Rupa mengungkapkan bahwa sistem pemira daring ini membuka peluang adanya kecurangan yang bisa saja terjadi.

“Kecurangan bisa terjadi misal ngisi 2 kali kalo emang sistemnya nggak bisa deteksi, atau suara orang lain yang belum ngisi diambil alih (jika tahu password-nya, red), nggak ada yang tahu kan? Terus bisa juga web-nya di-hack,” jelasnya melalui pesan Whatsapp (10/12).

Aplikasi E-Vote Masih dalam Tahap Persiapan

Pemira akan dilakukan secara daring melalui e-vote. Dengan sistem e-vote yang telah dirancang oleh Unit Pelayanan Terpadu (UPT) TIK Unnes beserta Tim IT KPUR, mahasiswa dapat menyuarakan hak pilihnya menggunakan gawai masing-masing dan bisa dilakukan di rumah.

Terkait persiapan mengenai sistem e-vote tersebut, Ketua KPUR, Laela Rahma Agustin menyatakan bahwa kesiapan dari pihak penyelenggara pemira sudah 70%.

“Tinggal input data kandidat dan proses pematangan server untuk mencegah server down maupun overload di jam-jam tertentu,” ujar Laela melalui pesan WhatsApp (10/12).

Ia menjelaskan bahwa terdapat perbedaan antara pemira tahun ini dengan pemira sebelumnya, terutama adalah tidak adanya TPS fisik. Sementara itu, terkait sistem yang digunakan, penyelenggara tetap menggunakan sistem e-vote.

Berdasarkan keterangan Laela, aplikasi pemira daring dapat diakses secara langsung melalui Apps Unnes. Mahasiswa dapat mengaksesnya dengan cara login terlebih dahulu seperti pada saat akan login ke Sikadu atau Elena.

Setelah menemukan aplikasi pemira daring (e-vote), mahasiswa akan diarahkan untuk melakukan presensi terlebih dahulu sehingga mendapatkan kata sandi untuk akses masuk ke surat suara. Kemudian mahasiswa dapat melakukan pemilihan calon seperti biasa hingga selesai.

Selanjutnya, apabila mahasiswa sudah selesai melakukan voting/pemilihan, maka nantinya di dalam sistem tersebut akan terdapat tanda bahwa sudah memilih. Sehingga mahasiswa tidak bisa melakukan login kembali untuk memilih, karena langsung muncul pemberitahuan bahwa sudah menggunakan hak pilihnya.

Voting/pemilihan pada pemira daring ini dilakukan selama satu hari. Kemudian untuk rekap hasilnya langsung terinput dari sistem.

Terkait kesiapan dari aplikasi tersebut, sampai berita ini ditulis, pihak UPT TIK belum memberikan keterangan.

Persiapan Pemira Daring

Dalam pemira daring yang dilaksanakan melalui sistem e-vote pada Apps Unnes, Laela memastikan hanya mahasiswa aktif saja yang bisa menyuarakan suara.

“Apabila bukan mahasiswa aktif maka akan tidak bisa masuk walaupun memasukan username dan password-nya,” jelas Laela.

Ia mengatakan bahwa data mahasiswa aktif tersebut didapatkan dari kemahasiswaan dan UPT TIK. Dimana pada setiap menit atau jam dalam satu harinya, sistem bisa langsung mendeteksi mahasiswa aktif maupun yang tidak aktif (sudah lulus, cuti, dsb).

Pihak penyelenggara pemira mengatakan telah melakukan simulasi sebanyak satu kali. Namun akan direncanakan untuk melakukan simulasi kembali pada H-2 pelaksanaan pemira, sekaligus sosialisasi kepada pemilih.

Sosialisasi yang dilaksanakan dua hari sebelum Pemira tersebut diklaim cukup untuk memahamkan mahasiswa terkait teknis pemilihan. KPUR akan melakukan sosialisasi dengan media video dan fasilitas bot telegram.

“Untuk sosialisasi nanti bentuk video. Kami usahakan dengan sejelas dan sesederhana mungkin untuk bisa dipahami dan ini sedang dibuatkan bentuk infografis untuk di broadcast melalui telegram,” ujar Laela (11/12)

Laela mengatakan bahwa jumlah pemilih pada pemira tahun ini jangan sampai menurun meskipun tidak dilaksanakan secara langsung di TPS.

“Untuk target sih harapannya bisa 40% dari 37 ribu mahasiswa aktif Unnes dan jangan turun dari tahun sebelumnya,” kata Laela.

KPUR Mengklaim Sistem Aman dan Minim Kecurangan

Menanggapi kekhawatiran pemilih akan potensi kecurangan, Laela mengatakan bahwa pihak penyelenggara sudah mengusahakan untuk mengkondisikannya.

“Kami usahakan dengan cara mem-filter di awal bagi pemilih, sehingga apabila lolos berarti bisa memilih,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa jika ada percobaan kecurangan, maka akan ada peringatan di awal saat memasuki sistem dan menuju surat suara. Misalnya, jika ada pemilih yang ingin mencoba memilih lagi, akan muncul peringatan berupa tampilan bahwa sudah memilih.

Sementara itu, terkait potensi server down, Laela mengatakan bahwa kemungkinan hal tersebut bisa terjadi sangat kecil. Ia menjelaskan bahwa pihak IT sudah melakukan migrasi server untuk menampung lebih banyak pengguna atau server dipindah ke penampung bandwidth yang lebih besar untuk pengguna.

“Tinggal penyesuaian beberapa hal di mana yang dulu hanya bisa menggunakan wifi Unnes, sekarang harus bisa diakses secara luas tanpa menggunakan wifi Unnes,” jelasnya.

Kemudian terkait persoalan pengolahan data, Laela mengungkapkan bahwa hal tersebut sudah diselesaikan.

 

Reporter: Hayyun Fajar, Annisa, Alya

Penyunting: Amilia

Tinggalkan Balasan