Ilustrasi Pro Kontra Golput. [BP2M/Amilia]

Pemilihan Umum Raya (Pemira) dilaksanakan hari ini (15/12). Pemilih dapat menggunakan hak pilihnya pukul 07.00 sampai 17.00. Pesta demokrasi ini memang menjadi acara tahunan untuk memilih Presiden BEM KM, Ketua BEM Fakultas, Ketua HIMA Jurusan, dan Ketua DPM.

Perhelatan satu ini disambut antusias oleh mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes). Hal tersebut dibuktikan dari hasil Survei Elektabilitas yang dilakukan oleh tim Litbang BP2M. Dari 409 responden, sebanyak 93,7 persen memilih untuk menggunakan hak pilihnya. Meskipun memiliki persentase lebih sedikit, tetapi kehadiran golongan putih (golput) masih ada. lalu bagaimana pandangan mereka yang memilih golput saat Pemira?

Pandangan Mereka yang Golput

DP—mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) merasa terpilihnya pasangan calon (paslon) dalam Pemira tidak memberikan dampak apa-apa.

“Ya, alasan aku golput karena aku mahasiswa mahasiswa biasa dan merasa tidak terdampak apa-apa. Siapapun ketua BEM-nya kan ngono-ngono tok (begitu-begitu saja). Tidak menyentuh mahasiswa biasa. Hanya pada kelompok tertentu tok yang terdampak,” tulis DP melalui WhatsApp (12/12). DP menambahkan bahwa jika dipaksa memilih, ia justru ikut menanggung dosa apabila memenangkan paslon yang tidak sesuai harapan.

Selain itu, tindakan golput juga digunakan sebagai bentuk protes atas kehidupan perpolitikan kampus. Menurut B—mahasiswa Prodi Sastra Inggris yang tidak ingin disebut namanya, ia melakukan golput karena tidak mengenal kapasitas dan kemampuan kandidat, sekaligus sebagai bentuk protes politik kampus yang diwarnai kepentingan kelompok.

Hal senada juga dilontarkan oleh DP. Menurutnya, perpolitikan kampus hanya dikuasai oleh elit-elit tertentu. “Yowes berputar-putar. Misalnya orang-orang (dalam kelompok) itu dan siklusnya terus-menerus. Lingkaran-lingkaran itu tok yang berjalan,” imbuh DP.

Alasan golput yang lain disampaikan oleh TS—Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. TS memilih golput karena merasa kurang yakin dengan para kandidat yang mencalonkan diri. Waktu kampanye yang singkat, membuatnya belum benar-benar yakin untuk memberikan pilihannya.

Apakah Golput Tindakan yang Salah?

Menurut Erisandi Arditama—Dosen Ilmu Politik, tindakan golput bukan masalah disalahkan atau dibenarkan. Golput tetap menjadi salah satu bentuk ekspresi politik dalam demokrasi. Namun dari segi pendidikan, sebaiknya tidak golput. Berdasarkan keterangan Erisandi, hal  tersebut ditujukan agar proses pendidikan politik dan pembelajaran demokrasi dapat dipahami dan dikaji.

“Berkontribusi secara politik dengan memberikan suara kepada paslon—baik dari sisi personal, visi, maupun misinya—pada hakikatnya juga berkontribusi pada ikhtiar mewujudkan kemaslahatan bersama melalui politik,” tulisnya pada pesan WhatsApp (12/12).

Nadzifatul Hasanah—mahasiswa Pendidikan Teknik Informatika dan Komputer—juga memberikan pendapat yang serupa. Mahasiswa angkatan 2019 itu mengatakan bahwa tindakan golput kembali ke diri masing-masing. Beberapa orang yang golput karena tidak adanya rasa percaya pada calon pemimpinnya. Baginya, memilih atau tidak, sudah menjadi hak setiap individu.

Upaya Meminimalisasi Golput

Sementara itu, pihak penyelenggara terus berusaha untuk menekan angka golput. Laela Rahma Agustin—Ketua Komisi Pemilihan Umum Raya (KPUR)—untuk tahun ini belum memiliki strategi yang pasti untuk meminimalisasi golput. Tapi sebelum-sebelumnya pernah mengedukasi mahasiswa tentang tindakan golput. Juga mengadakan lomba-lomba untuk menarik minat mahasiswa.

Menurutnya, memilih golput atau tidak kembali lagi pada diri mahasiswa dalam menyikapi Pemira ini. Hanya menjadi kontes demokrasi saja atau memang menjadi kebutuhan mahasiswa untuk saat ini atau ke depannya.

“Tapi kembali lagi pada pribadi individunya dalam menyikapi apakah kegiatan ini hanya menjadi kontes demokrasi saja atau bagian keterbutuhan ke depannya sebagai mahasiswa,” terang Laela.

Reporter: Laili, Alisa, Diki

Penyunting: Amilia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here