Ilustrasi Aldebaran [BP2M/Hasna]

Oleh Adhim Fauzil*

Dahi Suyarti mengerut heran, tatapan matanya masih tajam, amarah Suyarti belum padam.

“Cuma karena bintang bernama Aldebaran itu sampean jadi ateis?”

Bagyo menggeleng. “Bukan cuma, tapi salah satu alasan saya ya itu,” jawabnya.

“Saya penat dengan segala perselisihan agama-agama di dunia ini, Ti. Lalu setelah saya pikir matang-matang, saya memilih jalan ini. Manusia selalu saja berselisih dan bermusuhan karena agama, bahkan melakukan kejahatan-kejahatan atas dalih perintah Tuhan. Mereka menganggap diri mereka sebagai yang paling utama, menganggap agama mereka yang benar satu-satunya. Padahal, manusia bukan yang paling utama di alam semesta, tak seperti yang dinarasikan agama-agama. Matahari kita saja, tak lebih besar dari Aldebaran, Ti. Bumi kita hanya setitik debu di semesta raya ini.”

“Gyo,” potong Suyarti.

“Aku ndak tahu buku apa yang sampean baca, video apa yang sampean tonton, atau semua yang sampean katakan itu. Tapi aku tahu satu hal, sampean harus tobat, Gyo.”

“Kenapa, Ti? Kamu tak bisa menerima saya yang seperti ini?”

“Gyo, tentu aku cari suami yang bisa mengajarkan agama padaku, juga pada anak-anakku nanti.”

“Tapi, Ti. Saya tak pernah beripikir untuk mempengaruhi siapa pun, termasuk kamu. Saya hanya ingin kamu bisa menerima saya, terlepas orientasi keagamaan saya.”

“Maaf, Gyo. Aku ndak bisa,” tandas Suyarti seraya pergi.

“Ti, kamu sudah bersama saya dari kita kecil dulu, sebelum saya merantau ke Jakarta, lalu sekarang kamu akan meninggalkan saya begitu saja karena ini?”

Suyarti berhenti sejenak, menengok Bagyo, matanya berkaca-kaca.

“Lebih baik aku punya seorang Bagyo yang orang kampung, tapi beragama, dari pada sampean yang sekarang, Gyo,” jawab Suyarti.

Ia pergi meninggalkan Bagyo yang sudah menjadi kekasihnya selama ini.

***

“Bagyo, saya selalu mengapresiasi keterampilan kamu dalam berpikir dan berbicara secara kritis. Kamu bahkan bisa mempermainkan lawan bicaramu yang rata-rata pejabat tinggi. Tapi sekali lagi saya tegaskan, publik tidak akan menerima kamu lagi. Saran saya, kamu bersihkan dulu namamu, lalu perbaiki citra diri. Baru kami akan pertimbangkan untuk tetap mempekerjakan kamu di sini.”

“Pak, justru itu yang saya perjuangkan dengan tulisan di Facebook kemarin. Saya ingin semua orang mendapatkan haknya, terlepas dari orientasi seksual, ras, atau agamanya.”

“Saya paham, Bagyo. Saya sangat paham dengan apa yang kamu perjuangkan. Jujur, saya pribadi tidak keberatan dengan tulisanmu di Facebook itu. Tapi kamu adalah ikon televisi ini. Bayangkan, apa yang akan terjadi jika Bagyo Talk, yang pembawa acaranya ternyata seorang ateis tetap tayang? Maaf Bagyo, saya selalu menghargai kamu bahkan setelah tulisan itu, tapi sebagai pimpinan televisi ini, keputusan untuk memberhentikan Bagyo Talk sudah tidak bisa ditawar lagi. Kecuali kamu mau mengikuti apa yang saya sarankan, dan mungkin kita bisa pertimbangkan kembali.”

“Baik, Pak. Saya mengerti,” jawab Bagyo lesu.

***

Telepon genggam di saku celana Bagyo bergetar. Dengan jemari yang masih lesu ia paksakan diri untuk mengangkatnya.

Gino, teman Bagyo sedari kecil, segera nyerocos.

“Gyo, sampean sudah gila, to? Sampai bosen aku ngingetin sampean, tobat Gyo tobat! Eh sampean malah bikin postingan di Facebook. Sampean itu public figure, Gyo. Tulisan sampean di Facebook itu viral sekarang, netizen lagi pada sibuk ngehujat sampean. Aku sebagai teman sudah berkali-kali mengingatkan tapi kok ya sampean ndak pernah manut Gyo… Gyo…”

Klik… Bagyo matikan panggilan itu tanpa sedikit pun menanggapinya. Tak berselang lama, panggilan lain masuk ke telepon genggam Bagyo. Bagyo melirik layar, ternyata ibunya sendiri yang menelepon.

“Ada apa, Buk?”

“Gyo,” suara Ibu terdengar terisak dari seberang telepon.

“Tobat, Gyo… tobat. Ibu… Ibu ndak mau kamu masuk neraka, Gyo,” air mata Ibu tumpah, suaranya makin terisak-isak.

Klik… Bagyo mematikan panggilan teleponnya lagi. Namun mata Bagyo berkaca-kaca kali ini.

***

Sepotong demi sepotong ingatan tentang apa yang dilaluinya seminggu lalu masih terus berputar di kepala Bagyo. Bagyo tak bisa menolak sama sekali, ingatan-ingatan itu terus menghantui. Bahkan menatap Aldebaran di langit malam tak cukup manjur untuk menenangkan Bagyo, terlepas cara itu selalu berhasil sebelumnya.

Bagyo tetap mencoba, ditatap dalam-dalam bintang favoritnya sejak ia kecil dulu. Sedari pertama mengenal zodiak, Bagyo selalu tertarik untuk melihat rasi Taurus, rasi bintang yang disematkan sebagai zodiaknya. Seiring waktu, Bagyo menyadari jika itu bisa menenangkannya. Ketenteraman selalu hadir ketika Bagyo menatap rasi Taurus. Kegemarannya itu membawa Bagyo mencari tahu lebih dalam, lalu menemukan nama bintang paling terang yang menghuni rasi Taurus, Aldebaran. Jadilah Bagyo seorang penikmat Aldebaran, dan memancing ketertarikannya untuk mempelajari antariksa lebih dalam. Bersama dengan pencariannya terhadap ilmu-ilmu terkait alam semesta, keresahan akan kondisi manusia membawa Bagyo memandang dunia secara berbeda. Membuatnya memilih jalan yang berbeda pula.

Bagyo hanya tidak menyangka, jika dunia secepat itu berbalik padanya. Segera setelah Bagyo membuka diri, jika dia tak lagi beragama. Padahal Bagyo adalah ikon pemuda nasional, yang dipuja-puji akan pemikiran-pemikirannya. Dan apa yang Bagyo pilih adalah hasil dari pemikiran kiritisnya juga. Ia berharap akan mendapat sedikit saja dukungan, meski ia juga tahu akan menerima hujatan-hujatan.

Ia mencoba menyuarakan kebebasan. Bebas dari kotak-kotak rasisme, orientasi seksual, hingga agama. Karena menurut Bagyo, semua manusia memiliki hak yang sama. Semua manusia di dunia berhak memilih orientasi seksual atau agama mana pun, bahkan memilih untuk tidak beragama sekalipun. Sial, Bagyo malah kehilangan hak-haknya disaat ia mencoba memperjuangkan kesetaraan hak semua manusia.

Kehilangan haknya untuk bekerja, kehilangan restu orang tua, bahkan kehilangan cinta. Meski sudah berkali-kali Bagyo menjelaskan jika ia tak bermaksud mempengaruhi siapa pun untuk menjadi sama sepertinya. Ia hanya ingin bersuara, agar semua manusia diterima. Tetap saja, dunia malah berbalik melawan Bagyo.

Bagyo tak lagi merasa berguna. Ia sedikit tertawa, menyadari bahwa masalah yang menimpanya sama sekali tidak ada artinya di mata semesta. Hujatan atau dukungan untuk Bagyo, tidak akan mempengaruhi dunia. Dunia Bagyo sendiri, adalah satu-satunya hal yang terkena pengaruh masalah itu.

Ia duduk di tepi balkon apartemen, meratapi usahanya mencari ketenangan hanya menemui kegagalan, sebagaimana pula usahanya menuntut kesetaraan. Bagyo menghapus bulir air mata yang tak mau berhenti mengalir. Menatap Aldebaran.

“Manusia tak berarti apa-apa di alam semesta. Matahari kita saja, tak lebih besar dari Aldebaran, kan?” Tulis Bagyo di selembar kertas yang segera ia simpan di saku celana.

Bagyo menjatuhkan diri. Membiarkan gravitasi menarik tubuh lesunya dari lantai tujuh gedung tinggi, untuk kembali ke bumi. Di bawah Aldebaran Bagyo terlahir, karena Aldebaran ia menentukan pilihan, dan dengan menatap Aldebaran, ia mengucap selamat tinggal pada kehidupan.

 

*Mahasiswa Sastra Indonesia 2019, Unnes