Uncategorized

WALHI Jateng Soroti Krisis Ekologi dan Peran Mahasiswa dalam Mengawal Kebijakan pada Forum Pena Bersua 2026

Diskusi isu lingkungan dan pembangunan bersama narasumber Azalya Tilaar dalam forum Pena Bersua 2026 di Semarang, Sabtu (6/6/2026). [Bilqis Kamila/BP2M]
Diskusi isu lingkungan dan pembangunan bersama narasumber Azalya Tilaar dalam forum Pena Bersua 2026 di Semarang, Sabtu (6/6/2026). [Bilqis Kamila/BP2M]

Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Manunggal menggelar forum diskusi terbuka Pena Bersua 2026 yang berkolaborasi dengan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jawa Tengah di Gedung Dieng D’Elang, Semarang pada Sabtu (6/6/2026). Dalam forum tersebut, Manajer Kampanye dan Media WALHI Jateng, Azalya Tilaar, menegaskan bahwa krisis ekologi yang terjadi saat ini tidak lepas dari kebijakan pembangunan yang bersifat eksploitatif, sekaligus mendorong mahasiswa untuk bersikap kritis terhadap setiap kebijakan yang berdampak pada lingkungan.

Azalya menjelaskan bahwa persoalan lingkungan yang muncul di berbagai wilayah tidak bisa dilepaskan dari keputusan politik dan pola pembangunan pemerintah yang menurutnya masih bersifat kapitalistik dan ekstraktif.

“Persoalan lingkungan hari ini itu selalu berkaitan dengan kebijakan yang ada, dan watak perekonomiannya pun masih kapitalistik, ekstraktif, serta eksploitatif, ” ujar Azalya.

Azalya juga menyoroti maraknya penggunaan istilah seperti investasi hijau, ekonomi hijau, dan tambang hijau. Menurutnya, pelabelan tersebut kerap menyesatkan publik yang belum memahami isu lingkungan secara mendalam.

“Masyarakat luas itu rentan terhadap greenwashing, karena kenyataannya banyak proyek yang dilabeli hijau tapi sebenarnya kelanjutan dari ekonomi ekstraktif yang mengorbankan masyarakat dan ekosistem,” ujar Azalya.

Azalya menegaskan, mahasiswa memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kritis terhadap kebijakan yang berdampak pada lingkungan. Ia mendorong generasi muda untuk aktif melakukan kajian, mengawal kebijakan publik, serta terlibat dalam gerakan lingkungan di tingkat komunitas maupun masyarakat luas.

Lebih lanjut, Azalya menilai kesadaran masyarakat Indonesia terhadap isu lingkungan sebenarnya sudah cukup tinggi, termasuk di kalangan masyarakat lokal yang selama ini justru paling terdampak. Menurutnya, pertanyaan yang lebih relevan adalah sejauh mana negara mampu memenuhi dan melindungi hak warganya di tengah krisis ekologi yang terus berlangsung.

Salah satu peserta diskusi, Davina dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro (FIB Undip), mengaku mendapat pemahaman baru mengenai pentingnya sikap kritis terhadap kebijakan pembangunan.

“Kita tuh enggak boleh segampang itu buat nerima proyek baru dari pemerintah. Kita tetap harus kritis dan harus lebih aware,” ujarnya.

Ketua Pelaksana Pena Bersua 2026, Kalya Citta, mengatakan kolaborasi dengan WALHI Jawa Tengah dipilih karena isu lingkungan dinilai semakin relevan untuk dibahas di kalangan mahasiswa, terutama seiring ramainya polemik pembubaran nonton bareng film Pesta Babi yang menyoroti krisis lingkungan di Papua. Ia berharap kegiatan ini dapat memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kepedulian peserta terhadap isu lingkungan. 

Reporter dan penulis: Bilqis Kamila

Editor: Retno Setiyowati 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *