Beranda Opini

Omon-Omon Soal Antek Asing

Sumber Foto: Kompas.com
Sumber Foto: Kompas.com

Pada saat menjadi Presiden, istilah “antek asing” pertama kali diucapkan Prabowo ketika Hari Pers Nasional 2025. Istilah tersebut ditujukan kepada pengkritik kebijakannya. Selain Hari Pers Nasional, istilah antek asing juga diucapkan pasca demo RUU TNI maret 2025. Saat itu, Prabowo mengundang pimpinan redaksi dari berbagai media untuk makan malam dan bahas soal kericuhan demo RUU TNI. Antek asing ditujukan kepada pedemo yang sering kali dimanfaatkan oleh kepentingan asing. Namun kenyataanya tuduhan antek asing tidak pernah terbukti hingga saat ini.

Dalam jurnalisme investigasinya, majalah Tempo edisi 22 Februari 2026 yang berjudul Pelobi Asing Dekat Presiden menyebut bahwa terdapat dua orang ‘antek asing’ yang berdiri di sekitar Prabowo. Kedua orang itu turut terlibat dalam pemerintahan Prabowo. Kedua orang tersebut adalah Karen Brooks dan Lucian Despoiu. Mereka berdua turut hadir dalam kegiatan yang dihadirkan oleh Prabowo

Siapa orang asing di sekitar Prabowo?

Karen Brooks seorang berkebangsaan Amerika Serikat yang akan membuka bisnis penjualan karbon dan wisata eksklusif di Way Kambas. Sebelumnya, ia bekerja di Pemerintahan Amerika Serikat sebagai diplomat AS untuk Indonesia. Ketika AS dipimpin oleh George W. Bush, Karen Brooks berkenalan dengan beberapa politisi Indonesia, seperti Megawati Soekarnoputri. Karen Brooks jauh mengenalnya sebelum Megawati menjadi Presiden Indonesia. Bahkan, kedekatan mereka berdua, membuat jalan untuk Karen Brooks banyak mendekati politisi-politisi Indonesia, salah satunya adalah Prabowo.

Bagaimana Karen Brooks bisa mengenal Megawati? Karen Brooks bisa mengenal Megawati berkat tesisnya yang berjudul The Rustle of Ghost: Bung Karno in the New Order di Cornell University. Menurut Tempo dalam rubrik investigasi berjudul “Siapa Karen Brooks, Pelobi Asing di Sekitar Prabowo”, tesis itu merupakan bagian dari “Indonesia Project” yang dipimpin seorang Indonesianis, Benedict Anderson. Tesis Karen Brooks membahas bagaimana citra seorang Soekarno dibentuk selama rezim Orde Baru. Oleh karena itu, ia bisa dekat dengan keluarga Megawati.

Setelah meninggalkan karir diplomatnya, Karen Brooks banyak berkecimpung di dunia konsultasi dan investasi. Ia menjadi adjunct senior fellow–peneliti senior tidak tetap–untuk Asia di Council on Foreign Relations. Ia juga merilis sejumlah publikasi, seperti majalah Foreign Affairs yang berfokus pada pembahasan peluang ekonomi di Indonesia dan Filipina. Selain itu, Karen Brooks merambah dunia bisnis. Namanya tercatat dalam di beberapa perusahaan, seperti WhiteFox dan Empat Mitra Indika Tenaga Surya. Ia juga bergabung dalam Dewan Komisaris—platform kredit digital.

Dalam rubrik investigasi tersebut juga disebutkan, ketika Prabowo berkunjung ke Inggris pada Januari 2026, Karen Brooks sempat ikut rombongan Prabowo. Saat itu, Prabowo bertemu dengan Raja Charles terkait dengan proyeknya di Indonesia—proyek yang dimaksud adalah konservasi Gajah di Aceh. Acara tersebut dihadiri oleh para Filantropis. Namun, Karen Brooks mengalami pingsan dalam acara itu sehingga dilarikan ke rumah sakit setempat. Prabowo ketika itu sempat menjenguknya.

Tidak hanya Karen Brooks, tetapi juga ada Lucian Despoiu yang merupakan seorang warga negara Rumania. Ia mendirikan lembaga Majoritas dan Impactum—sebuah lembaga survei dan konsultan politik yang mempunyai klien di beberapa negara. Lembaga konsultan politik ini terlibat dalam kampanye politik di 40 negara. Salah satu klien dari lembaga Majoritas adalah presiden Filipina yaitu Ferdinand “Bongbong” Marcos Jr. Majoritas melakukan kerja-kerja survei dan anjuran membuat konten kampanye di media sosial. 

Menurut majalah Tempo edisi 22 Februari 2026 dalam rubrik Investigasi berjudul “Lucian Despoiu: Perancang ‘Gemoy’ Prabowo”, hubungan Despoiu dengan Prabowo terbangun sejak 2023. Salah satu tokoh yang memperkenalkannya adalah Luhut Binsar Panjaitan yang sekarang menjabat sebagai Ketua Dewan  Ekonomi Nasional—pada tahun 2023, Luhut menjabat sebagai Menko Marves. Despoiu semakin dekat dengan Prabowo setelah berkenalan dengan politikus muda Gerindra yang memiliki julukan “Hambalang Boys” atau “Geng Ruang TV’ di lingkup partai Gerindra.

Bagaimana pengaruh mereka?

Karen Brooks merencanakan kawasan Taman Nasional Way Kambas untuk membangun wisata eksklusif dan perdagangan karbon. Dalam majalah Tempo di rubrik “Lobi Karen Brooks Hingga Prabowo Mengubah Aturan Karbon”, Karen Brooks memiliki tim untuk menganalisis kawasan salah satunya Hari Kaskoyo. Menurut Hari Kaskoyo—dosen Jurusan Kehutanan Universitas Lampung—dalam wisata eksklusif, turis akan diajak satwa liar di Wako dan Kalibiru, seperti gajah sumatera. Diketahui bahwa gajah di kawasan tersebut berjumlah 1.500 ekor. Tidak hanya itu, juga akan dibangun kamar penginapan yang konsepnya sama seperti di beberapa negara Afrika, seperti Botswana, Zambia, dan Zimbabwe. Wisata eksklusif ini akan dijalankan oleh Wilderness—perusahaan yang terafiliasi dengan Karen Brooks. Selain itu, Hari Kaskoyo juga menganalisis potensi karbon dan tumbuhan invasif. Menurut dokumen dari Kementerian Kehutanan yang didapat Tempo pada rubrik tersebut jumlah karbon setara CO2 adalah 3,1 juta ton. Jika mengacu pada harga jual karbon kepada Pemerintah Norwegia maka 1 ton karbon seharga 99 ribu rupiah, nilai ekonomi karbon di Way Kambas sekitar 3,1 triliun rupiah.

Namun dalam rubrik “Lobi Karen Brooks Hingga Prabowo Mengubah Aturan Karbon”, juga dijelaskan rencana Karen Brooks jelas bertabrakan UU Nomor 32 tahun 2024 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Keanekaragamannya. Oleh karena itu, Karen Brooks melobi-lobi kepada Prabowo di Hambalang. Bahkan Karen Brooks sampai menginap di rumah Prabowo agar bisa memaparkan rencananya. Prabowo tertarik pada rencana Karen Brooks dan berjanji akan mengubah Perpres Nomor 98 Tahun 2021. Akhirnya pada 10 Oktober 2025 Prabowo menerbitkan Perpres Nomor 110 tahun 2025 yang merevisi Perpres Nomor 98 Tahun 2021. Aturan ini membuka peluang perdagangan karbon di area konservasi. Selain itu, juga ada perubahan zona inti Way Kambas yang dilakukan oleh M.H.D. Zaidi—Kepala Balai Taman Nasional Way Kambas. Perubahan zona inti mengacu pada arahan Menteri Kehutanan, yaitu Raja Juli Antoni yang juga telah dilobi Karen Brooks pada awal 2025.

Despoiu lewat Majoritas–lembaga survei yang didirikan Despoiu–terlibat dalam kampanye Prabowo dalam Pilpres 2024. Misalnya, ia membuat survei dengan video dan konsep kampanye. Salah satu ide kampanye itu adalah menyematkan julukan dan sosok “gemoy” kepada Prabowo. Dalam beberapa survei, istilah “gemoy” memiliki sentimen positif yang tinggi. Bahkan, sentimen positif juga datang dari pendukung Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo—lawan Prabowo di Pilpres 2024. Pada akhirnya, Prabowo pun menang dengan persentase 58% suara dan menjadi Presiden ke-8.

Tidak sampai di situ, setelah Prabowo menjadi presiden, Despoiu juga terlibat dalam acara pembekalan Menteri, wakil Menteri, dan kepala badan—acara pembekalan ini dikenal “Hambalang Retreat”. Menurut narasumber dari Tempo, Despoiu memang terlihat saat acara berlangsung. Selain  Despoiu, Manajer Kampanye Politik Majoritas, Ana Morari juga memberi pembekalan mengenai cara berkomunikasi efektif dengan jurnalis.

Despoiu juga turut berperan memberi saran kebijakan. Salah satunya adalah program digitalisasi pendidikan di Indonesia dengan memberikan televisi interaktif ke sekolah di seluruh Indonesia. program ini diperkenalkan Prabowo ketika mengunjungi Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 10 Jakarta. Prabowo mengatakan bahwa televisi interaktif ini akan dipakai untuk pembelajaran jarak jauh. Despoiu kemudian membuat survei tentang program televisi interaktif melalui lembaga Impactum. Menurut Tempo, hasil surveinya menyatakan bahwa 74,6 persen responden yakin televisi interaktif bisa meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah.

Kebijakan yang menguntungkan asing

Ketika Prabowo menuduh pengkritik dan pendemo sebagai antek asing dan ditunggangi asing, ia tidak sadar bahwa terdapat kebijakannya yang malah menguntungkan pihak asing. Contohnya adalah negosiasi tarif dagang antara Indonesia dan AS. Dalam negosiasi yang telah dilakukan oleh Prabowo dengan Tump pada 2025 lalu, terdapat beberapa poin kesepakatan. Kesepakatannya adalah mencabut biaya produk AS dengan Indonesia. Indonesia juga diwajibkan membeli produk pangan dan 50 unit Boeing. Selain itu, Indonesia wajib mentransfer data pribadi penduduk Indonesia. Hal ini tentunya mengancam privasi data pribadi penduduk Indonesia dan membahayakan kedaulatan rakyat Indonesia.

Selain itu, kebijakan Perpres Nomor 110 Tahun 2025  dan perubahan zona inti juga menguntungkan pihak asing agar bisa menjadikan Way Kambas sebagai area bisnis. Perubahan zona inti di Way Kambas akan mengganggu kehidupan satwa liar menurut Sunarni Widyastuti—Dewan Pengurus Keluarga Pecinta Alam dan Lingkungan Hidup. Tidak hanya itu, tetapi juga mengganggu jalan perlintasan gajah yang bisa membuat konflik antara gajah dengan manusia.

Mengapa Prabowo malah menuduh pedemo  dan pengkritik sebagai antek asing? Padahal orang-orang seperti Karen Brooks dan Lucian Despoiu yang jelas-jelas asing tetap dibiarkan saja. Tidak hanya itu, tetapi juga banyak kebijakannya yang menguntungkan asing. Tuduhan antek asing kepada pedemo dan pengkritiknya menunjukkan ketidakmampuan Prabowo dalam menghadapi kritik dengan benar.

Penulis: Adiel

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *