banjir pantura smg
Di tengah hujan dan di atas ruas pembatas jalan, sejumlah warga menunggu kendaraan yang hendak dinaiki di sepanjang jalur pantai utara (pantura) Semarang arah Demak, Kecamatan Genuk, Kota Semarang (8/2). [Dok. BP2M/Manan]

Koalisi Pesisir Kendal-Semarang-Demak (KPKSD) meminta pemerintah untuk meninjau ulang Proyek Strategis Nasional (PSN) Tanggul Tol Laut Semarang-Demak (TTLSD). Hal itu disampaikan dalam konferensi pers secara daring pada Rabu (10/02).

Masnuah, warga Demak yang tergabung dalam KPKSD turut membacakan pernyataan sikap terkait krisis sosial-ekologis pembangunan TTLSD yang memperparah amblesan tanah dan banjir di Semarang.

“Amblesan tanah menjadi isu yang sangat penting karena turut meningkatkan risiko Kota Semarang mengalami banjir. Kawasan yang kerap dilanda banjir seperti Kaligawe,” ujarnya.

Dalam konferensi pers, Masnuah meminta kepada pemerintah untuk meninjau ulang pembangunan TTLSD dengan menguraikan beberapa hal, yakni permasalahan amblesan tanah dengan jenis penyebabnya dan relasi amblesan tanah dengan banjir. Selain itu, ia juga mendesak pemerintah untuk meninjau kembali dampak pembangunan TTLSD terhadap amblesan tanah dan risiko banjir yang lebih tinggi.

Sementara itu, Henny Warsilah, Staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang turut hadir dalam konferensi pers mengatakan, “Berdasarkan penelitian tahun 2017-2019, daerah Kemijen dan Tambak Lorok mengalami amblesan tanah sebanyak 1,5 cm hingga 2 cm. Artinya, dalam sepuluh tahun ke depan, rumah akan terendam banjir setinggi jendela rumah.”

banjir pantura smg
Perahu sampan digunakan untuk membawa sejumlah pengungsi melewati banjir di sepanjang jalur pantai utara Semarang arah Demak, Kecamatan Genuk, Kota Semarang (8/2). [Dok. BP2M/Manan]
Namun demikian, banjir yang terjadi di Semarang juga disebabkan oleh kapasitas pompa yang tidak cukup dan perubahan ekologi. Hal tersebut diungkapkan oleh Cornell Gea, Anggota LBH Semarang.

Menurut Cornell, beberapa daerah aliran sungai yang seharusnya tidak terbangun, justru kenyataannya dijejali bangunan-bangunan baru. Adanya perubahan ekologi tersebut menyebabkan area resapan air tidak bekerja dan air melimpas ke bagian bawah atau pesisir kota yang memang sudah rawan banjir rob.

Dikutip dari Tirto.id, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dalam sebuah wawancara dengan stasiun televisi, Minggu (7/2/2021), menyebut penyebab banjir di kawasan Semarang karena non alam, yaitu dua masalah di hulu dan hilir.

“[Penyebab] hulunya penggundulan hutannya tinggi,” kata Ganjar. “Yang di bawah (hilir) kita menghadapi land subsidence (penurunan tanah).”

Terkait TTLSD, Ganjar mengatakan bahwa Jalan Tol Semarang-Demak tersebut diproyeksikan menjadi solusi banjir. Ia mau agar jalan tol sekaligus menjadi bendungan yang akan dapat mengendalikan banjir di kawasan pesisir. “Jalan tolnya akan melingkar sehingga kami harapkan dapat mengendalikan banjir di robnya sehingga nanti memunculkan reservoir (waduk) di sana.”

 

Reporter: Annisa dan Rizka

Editor: Niamah

Tinggalkan Balasan