The Art of Loving Erich Fromm
Sampul buku The Art of Loving karya Erich Fromm
Cinta dalam kehidupan manusia dapat diibaratkan
dengan air. Kebutuhan konsumsi air bagi keberlangsungan hidup manusia sama
pentingnya dengan kebutuhan mengonsumsi cinta. Ia sangat dibutuhkan setiap saat
dan jika dirasa kurang maka akan bermuara pada kondisi kehausan. William
Glasser, psikolog yang mempopulerkan konseling realita pun memetakan kebutuhan
dasar manusia yang harus dipenuhi. Glasser berpendapat bahwa salah satu
kebutuhan yakni love and belonging menjadi hal yang wajib terpenuhi untuk
menunjang kondisi psikis yang sehat. Tanpa cinta, manusia dalam kondisi yang
tidak ideal.
Harus kita akui bahwa kita membutuhkan cinta, meski
dalam bentuk yang berbeda-beda. Kehausan akan cinta itu nyata dan kita alami.
Terbukti dari berapa banyak lagu-lagu cinta yang kita konsumsi, ratusan film
cinta yang kita tonton—entah berakhir indah atau tragis. Tema cinta dalam
beragam bentuk tidak pernah habis dieksploitasi untuk memenuhi rasa haus itu.
Erich Fromm, seorang warga Jerman yang tekun
mempelajari psikologi, filsafat dan sosiologi pun berbicara tentang cinta dalam
buku The Art of Loving ini. Fromm yang merupakan salah satu murid Freud yang
juga fokus pada teori psikoanalisis mencoba menghadirkan bacaan mengenai cinta.
Berbeda dengan gurunya Freud yang lebih menekankan
cinta sebagai hasrat libidal manusia, Fromm menekankan peran sosio-ekonomi
dalam pembentukan kecenderungan-kecenderungan yang membangun karakteristik
kepribadian seseorang. Termasuk dalam hal cinta, Fromm mencoba menuntun pembaca
pada pemaknaan hakekat cinta itu sendiri. Mencoba untuk mendobrak sistem
pemaknaan cinta yang—dianggap Fromm—dangkal oleh manusia era sekarang.
Kedangkalan Memaknai Cinta
Fromm bertesis bahwa cinta seperti halnya sebuah
seni. Seni terdiri dari dua hal, pengetahuan dan kecakapan. Ketika ingin mahir
musik, maka perlu mendalami teori musik dan latihan memainkan musik, ketika
ingin taktis dalam membuat lukisan, maka perlu belajar seni menggambar. Seperti
itulah Fromm menganalogikan cinta perlu
dipelajari dan dimaknai. Namun, fenomena saat ini yang sedang berkembang, cinta
justru dianggap tidak lebih dari sekadar rasa biasa,
primitif, dan tidak membutuhkan waktu untuk mempelajarinya. Manusia selalu
lapar dan haus akan cinta, namun nyaris tidak ada kesadaran untuk mempelajari
tentang cinta.
Fromm merinci sebab mengapa orang lebih condong
bersikap tak acuh tentang cinta. Pertama, kebanyakan orang, menganggap cinta
adalah soal dicintai, bukan mencintai. Keinginan untuk dicintai lebih besar
daripada mencintai sehingga membuat laki-laki terobsesi untuk menjadi sukses,
berkuasa, kaya, status sosial tinggi. Sedang pada wanita, ia selalu ingin
tampil cantik, merawat tubuh, memakai pakaian terbaik, dan sebagainya.
Keinginan untuk dicintai juga bisa diraih dengan mengembangkan tata karma dan
sopan santun. Hal itu dilakukan semata-mata hanya agar dicintai oleh liyan. As
a matter of fact, what most people in our culture mean by being lovable is
essentially a mixture between being popular and having sex appeal
(hlm. 15).
Kedua, asumsi cinta sebagai objek bukan kemampuan.
Fromm menarik histori ke zaman Victorian di mana tradisi perjodohan paksa masih
kental di sana. Di era Victorian, orang harus mampu mencintai dan menerima
untuk dicintai karena pernikahan mereka didorong oleh paksaan orang tua.
Berbeda dengan zaman sekarang di mana ruang untuk memilih dan memilah mana yang
pantas untuk dicintai terbuka lebar. Ini yang kemudian membuat cinta sebagai
objek, bukan lagi soal kemampuan.
Ketiga, cinta dilihat dalam perspektif untung rugi.
Budaya ini tercipta seiring meningkatnya budaya konsumsi masyarakat di mana
dalam membeli sesuatu selalu dilihat dalam perspektif untung rugi bagi si
pembeli. “…as in buying real estate, the hidden potentialities which can be
developed play a considerable role in the bargain.”
(hlm. 20).
Menemukan Manusia dalam Cinta
Tinjauan teoritis dan substantif dengan penggunaan
bahasa yang mudah dipahami berusaha mengarahkan pembaca untuk menyadari
eksistensinya sebagai manusia. Menurutnya, setiap teori tentang cinta harus
dimulai dengan teori tentang manusia, tentang eksistensi manusia itu sendiri.
Dalam keeksistensiannya, manusia mempunyai kesadaran
akan hidup dan kehidupannya. Bahkan manusia memiliki kesadaran akan dirinya,
akan diri sesamanya, akan masa silam, serta kemungkinan-kemungkinan masa
depannya. Tentang fakta bahwa ia dilahirkan di luar kemauannya, dan akan mati
di luar keinginannya. Juga kesadaran bahwa dia akan mati mendahului orang-orang
yang dicintai atau mereka yang dia cintailah yang akan mendahuluinya.
Dalam pembahasan mengenai cinta, Fromm tidak
menggeneralkan pemahaman tentang cinta, namun menglasifikasikannya berdasarkan
objek cinta, yakni cinta persaudaraan, cinta keibuan, cinta erotik, cinta diri,
dan cinta Tuhan. Sementara elemen-elemen cinta menurut Fromm adalah perhatian,
tanggung jawab, penghargaan serta pemahaman.
Buku ini merupakan oase di tengah padang kering atas
pemaknaan cinta yang lebih sering digemborkan sebagai perasaan pasif,
keinginan untuk dipuja liyan, bahkan ditimbang untung ruginya. Dari buku ini,
kita akan menelaah seni mencintai yang menggiring kita menemukan wawasan
tentang hakekat manusia itu sendiri. Bahwa cinta bukan tentang seberapa
beruntungnya diri kita, namun seberapa dalam kita memaknai diri kita sendiri.
Kesadaran akan eksistensi sebagai manusia.
Muhammad Irkham A

Mahasiswa Bimbingan dan Konseling. Konselor Cinta