Sayup-sayup senja mulai menampakkan
wajahnya. Para penonton nampak antusias meramaikan Hari Tari Dunia di
Universitas Negeri Semarang yang diselenggarakan Jumat (29/4) pukul 09.00 WIB
dan berakhir Sabtu (30/4) pukul 09.30 WIB. Iringan gamelan mengiringi
lenggak-lenggok para penari. Musik tradisional khas Indonesia yakni Jawa dan
Bali sungguh unik. Tak lengkap rasanya bila tanpa alunannya.
Hari Tari Dunia yang ketiga kalinya diadakan
Unnes mengusung konsep berbeda. Tahun sebelumnya acara tari dilakukan selama 12
jam dan 18 jam nonstop, sedangkan tahun ini menjadi 24 jam. “Hanya saja tahun
ini tidak ada ikon penari nonstop, jadi penari menari estafet dari sanggar dan
sekolah-sekolah,” ungkap Heti, panitia acara.
Kampung Budaya Unnes dan panggung terbuka
Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) ramai oleh penonton yang merupakan civitas
akademika, warga sekitar, dan masyarakat luar. Tak hanya penonton, penari yang
ikut serta meramaikan Hari Tari Dunia pun mencapai dua ribu penari yang ada di
Indonesia mulai yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia di antaranya
Lampung, NTB, Aceh, juga sekitar Semarang.
Acara yang bertemakan “Tari sebagai
upaya mediasi, edukasi, dan konservasi” yang dipilih sebagai tema Hari Dunia
tahun ini, menampilkan berbagai macam tarian tradisional dan tari kreasi atau modern.
“Senang sekali bisa tampil karena pertama kali ikut menari di sini yang menjadi
suatu kebanggaan bagi saya,” ungkap Arum Raditaningtyas, seorang penari dari
paguyuban Sodron Tuntang Kabupaten Semarang yang membawakan tari Garam Kuda
Lumping. Arum berharap publikasi acara Tari Dunia bisa mencapai desa-desa
sehingga seniman-seniman desa bisa ikut berpartisipasi. [Debrina, Fatim]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here