Kawanan dedemit menghampiri kuntilanak yang menggendong bayinya yang tengah menangis. [Doc.BP2M/Aditya]
Di tengah rintik hujan, semilir angin berhawa dingin terasa
sampai kulit. Di teras gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni terlihat orang-orang
tengah mengantre presensi kehadiran. Segelas kopi hitam telah siap di tangan
masing-masing penonton yang akan menonton pertunjukan.  
Memasuki ruang gedung, gapura kardus berwarna coklat dan
gubuk-gubuk di atas panggung menyambut. Kelap-kelip lampu menyorot panggung.
Tidak ada kursi-kursi di sana, penonton duduk lesehan dari barisan depan hingga belakang, menunggu pagelaran bertajuk
Ketoprak Gaul dipentaskan.
“Dek sampeyan ten pundi to?”
pembawa acara laki-laki memanggil rekannya. Tengak-tengok
dengan raut muka bingung, pembawa acara perempuan yang dicari-cari seketika
menyahut, “Lah, aku nang kene loh mas.
Aku nang tengah-tengahe para peserta
. Kedua pembawa acara itu pun bertemu, menyampaikan
sedikit mengenai pertunjukan ketoprak pertama malam itu yang berjudul Lahir Sakjroning kubur.
Lampu padam. Suara burung hantu menyibak kesunyian, memberi
sentuhan mencekam. Seorang raja datang membopong jasad perempuan hamil yang
merupakan selirnya. Tak lama setelah jasad dikubur, terdengar suara tangis yang
bersumber dari dalam kubur, disusul tawa cekikikan perempuan. Jasad perempuan
dalam kubur itu melahirkan jabang bayi. Sang ibu yang telah menjadi kuntilanak
itu menggendong anaknya yang baru lahir keluar dari tumpukan tanah kubur. Tawa
cekikikan dipekakan kuntilanak hingga masuk pemukiman warga. Sontak, penduduk
panik. Takut. Mereka tak berani keluar rumah.
Di tengah malam, bayi tersebut menangis karena kelaparan. Kuntilanak
mondar-mandir kebingungan tak tahu harus berbuat apa. Ia sadar tidak dapat
memberikan susu untuk bayinya yang kelaparan. Untuk menenangkan bayinya yang
terus menangis, Kuntilanak menyenandungkan lagu agar bayinya tenang. Kawanan
dedemit yang mendengar lagu Kuntilanak datang menghampirinya, menawarkan
bantuan.
“Anakmu kenopo kok nangis wae?” tanya salah satu dedemit. Setelah
mendengar penjelasan Kunti, para dedemit menyarankan memberi makan bayi dengan
pisang. Bagaimana cara kuntilanak memperoleh pisang untuk makanan jabang
bayinya? Tidak mungkin pergi ke pasar membeli pisang. Selain karena kuntilanak
tidak dapat dilihat orang dengan mata telanjang, Kunti pun tidak memiliki uang.
“Yaa wes maling wae neng kebon,” celetuk demit. Sebentar
kemudian, celetukan itu dibalas dedemit lain. “Mencuri itu tidak terpuji!”
Singkat cerita, para dedemitlah yang mencuri pisang untuk diberikan
kepada bayi kuntilanak yang menangis. Setelah itu, dalam sekejap sang bayi pun
terdiam. Lalu bayi itu dibawa kembali ke kuburan.
Di tempat lain, warga menceritakan teror dedemit di tengah
malam kepada raja. Suara tangis bayi kembali terdengar. Raja beserta warga
sembunyi di dalam rumah. Dedemit beserta kutilanak kembali datang. Raja dan
para punggawanya akhirnya membranikan diri mengikuti sumber suara. Ternyata
memang benar, suara yang meneror warga belakangan ini bersumber dari makam
seorang wanita. Raja pun berniat membunuh kuntilanak itu dan berencana membawa
anak yang terlahir dalam kubur untuk dibawa ke kerajaan, namun nasib raja
berakhir naas. Raja dibunuh oleh sang kuntilanak.

Pertunjukan
ketoprak usai. Tepuk tangan bergemuruh. Para penonton tersihir apiknya para
lakon memerankan tokoh dalam cerita. Suasana di luar gedung B6 masih diwarnai
rintik hujan yang membasahi tanah. Pertunjukan berlangsung sukses dan meriah.
Hal itu diketahui dari antusiasme penonton yang hadir tidak hanya berasal dari
lingkup Unnes, melainkan mahasiswa yang jauh datang dari Solo sengaja
menyempatkan diri datang untuk menyaksikan pertunjukan ketoprak. Bondan, salah seorang
mahasiswa Universitas Sebelas Maret ditunjuk pembawa acara maju ke depan
menyampaikan kesan usai menonton ketoprak. “Ketoprakipun sanget sae, saestu
pancen gaul.” [Adit, Admiati]