“Pendidikan alternatif menjadi jalan lain untuk
mendidik. Mau belajar apapun, kapan pun, di mana pun dan dengan siapa pun itu
tidak diatur.” (Edi Sub
khan)

Pendidikan
nasional yang dalam UU RI No 20 tahun 2003 bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik, nyatanya masih membatasi kemampuan peserta didik dengan
adanya  kurikulum. Semua yang diajarkan
oleh guru harus sesuai dengan kurikulum yang telah dibuat oleh pemerintah. Mau
tidak mau siswa harus mengikuti apa yang diajarkan guru. Siswa dikondisikan
dengan kurikulum yang membatasi mereka mengembangkan bakat dan minatnya. Semua
peserta didik dianggap memiliki bakat dan minat yang sama dalam belajar. Mereka
tidak diberi kebebasan untuk menekuni satu bidang yang benar-benar menjadi
minatnya dalam belajar. Edi Subkhan, seorang pemerhati pendidikan mengatakan bahwa
jika seorang anak belajar sesuai bakat dan minatnya, maka anak tersebut akan
lebih bisa menyerap informasi yang diterimanya. Sehingga, mereka akan berkembang dengan baik karena adanya
fokus terhadap bidang minatnya.
Tolak
ukur bagi masyarakat memandang seseorang terdidik atau tidak masih dilihat dari
ijazah yang dimiliki. Hal itu membuat siswa belajar hanya untuk mendapatkan
ijazah. Metode belajar sekolah yang berkutat pada hafalan dan ujian juga
menjadikan siswa menjadi generasi penghafal. Mereka menghafal apa yang
diajarkan oleh guru di kelas karena dianggap sebagai sebuah kebenaran.
Kebenaran yang muncul dalam soal ujian dan akan memberikan mereka nilai yang
tinggi jika berhasil menjawabnya. Akibatnya, mereka tidak terlatih untuk menyelesaikan persoalan
dengan nalar pikiran mereka sendiri.
Berbeda
halnya dengan pendidikan alternatif. Dimana siswa tidak dikekang dengan adanya
kurikulum. Siswa diberi kebebasan dalam belajar. Tidak ada larangan bagi setiap
siswa untuk belajar apapun sesuai minatnya. Pendidikan alternatif memberikan
pengajaran yang konkrit. Siswa tidak hanya diberi teori-teori belaka. Mereka
secara aktif belajar di lapangan secara langsung. Kemandirian dalam belajar
menjadi kewajiban bagi peserta didik. Mereka harus mampu bernalar kritis ketika
menghadapi persoalan ketika belajar. Tidak ada tuntutan bahwa mereka harus
mendapat nilai yang tinggi. Tantangan mereka adalah bagaimana menjadi orang
yang berguna bagi orang lain terutama bagi lingkungan sekitarnya dengan
keahlian yang ia miliki.  

Menyelesaikan masalah
Pendidikan alternatif juga dimaksudkan untuk
memberikan keterampilan kepada anak agar dapat mengelola desa. Maka dari itu,
pendidikan alternatif bersifat fleksibel dan disesuaikan dengan kondisi
lingkungan tempat pendidikan itu berada. Prinsip dari adanya pendidikan
alternatif itu untuk menyelesaikan problem yang ada di sekitarnya. Salah satu
pendidikan alternatif yang terkenal di Indonesia adalah Qaryah Thayyibah (QT)
yang diinisiatori oleh seorang aktivis bernama Bachruddin. QT didirikan oleh
Bachruddin di Desa Kalibening, Salatiga. Pendidikan berbasis komunitas ini
mendidik anak tanpa mengisolasi mereka dari lingkungannya. Mereka didorong
untuk belajar dan peka akan kondisi sekitarnya. Mereka belajar dan langsung
mempraktikkan apa yang dipelajari untuk mengatasi masalah yang ada di desanya.
Meskipun bukan sekolah formal, nyatanya pendidikan
alternatif seperti QT tersebut mampu mencetak siswa yang cerdas dan
berprestasi. Terbukti dengan salah satu siswa QT bernama Maia Rosyida yang
telah menulis 20 buku dalam usianya yang masih 18 tahun. Siswa yang berasal
dari pendidikan alternatif pun nyatanya tidak kalah dengan siswa-siswa sekolah
formal.
Dilihat dari  tujuannya, karakteristiknya, cara belajarnya
dan penilaian hasil belajarnya, pendidikan alternatif relatif berbeda dengan
pendidikan formal. Namun, cara belajar yang tidak diatur-atur dalam pendidikan
alternatif justru memberikan keleluasaan bagi siswa untuk belajar tentang apa
saja yang mereka sukai. Potensi yang dimiliki siswa justru akan lebih
berkembang ketika mereka fokus belajar pada bakat dan minatnya. Sehingga, mereka dapat melakukan perubahan sesuai dengan
kemampuan yang dimiliki. Karena pada dasarnya, seorang anak dididik agar
memiliki kecerdasan dan kepekaan terhadap masalah yang ada di
sekitar
mereka, kemudian mencarikan solusinya.

Pendidikan alternatif seperti QT memang
tidak memberikan ijazah kepada alumninya, namun alumni dari QT ataupun pendidikan
alternatif lain masih bisa melanjutkan studi dengan kejar paket. Maka dari itu, mereka tetap
bisa menjadi orang yang terdidik meski tanpa ijazah sekalipun. [Sibad]