Ruang Bebas Berekspresi memfasilitasi Festival Literasi Semarang dalam roadshow keduanya oleh Pupung Al-Baroque, Rabu (13/02). [Doc.BP2M/Afsana]

Semarang, (13/02) mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang yang tergabung dalam Komunitas Ruang Bebas Berekspresi mengadakan acara bertajuk  Ruang Bebas Berekspresi. Acara yang bertempat di Meja Batu, Gedung D dihadiri oleh 50 mahasiswa baik dari Udinus maupun sekitar Semarang.

Menurut Akang Haidar, Ruang Bebas Berekspresi merupakan komunitas yang terinspirasi oleh bacaannya berjudul Pejalan Anarki karya Jazuli Imam. Dia kemudian menginisiasi komunitas tersebut bersama kawan-kawanya Menurut Haidar, komunitas sebagai wadah penyalur pikiran-pikiran mahasiswa yang susah diterima kampus.

“Ruang Bebas Berekspresi sebenarnya wadah buat nyalurin pikiran-pikiran kalian yang mungkin di kampus susah diterima, karena kita bisa nongkrong bareng untuk ngadain kegiatan disini,” Ujar Haidar.

Berdasarkan penjelasan Pupung Al-Baroque, salah satu implementasi Ruang Bebas Berekspresi yang diperlihatkan sore itu adalah Zine. Dibawah kendali komunitas bernama Terlalu Ghibah, Zine dibuat atas dasar keresahan yang sedang terjadi pada setiap volumenya. Ada 12 orang yang terlibat dalam pembuatannya. Hari itu mereka merilis Zine Vol.2 dengan tema fanatisme.

“Karena di media massa nggak ada makanya kita membuat Zine. Sekiranya tidak dimuat di media massa ya kita muatkan dalam Zine. Yang terpenting bagaimana caranya masyarakat bisa tau suatu hal yang ada baik di media massa atau tidak,” ujar Zulfajri, salah satu pegiat Zine.

Baca Juga : Dianggap Wacana, Draf RUUP Dikawal Hingga Tuntas

Zulfajri menambahkan bahwa Zine merupakan terbitan alternatif yang diciptakan dan muncul sebagai respon atas ketidakpuasan akan informasi yang diberikan media arus utama. Zine bersifat  non komersil dan mementingkan gagasan dan tentunya menyenangkan.

Ruang Bebas Berekspresi kali ini merupakan roadshow kedua dalam rangkaian acara Festival Literasi Semarang. Sebelumnya acara digelar di daerah Mranggen.  Puncak festival akan diselenggarakan pada akhir bulan Maret 2019.

“Festival aksara mengakomodir teman-teman terkait kegiatan literasi untuk berkumpul, saling bertukar ide dan pikiran, bertukar masalah serta solusi sehingga menghasilkan karya-karya baru yang mempunyai hubungan dengan orang-orang di sekitar,” kata Pupung, pegiat festival aksara.

Adapun tujuan penyelenggarannya berusaha mengajak mahasiswa atau masyarakat untuk berani membuat media sendiri terlepas dari kepentigan-kepentingan para penguasa. Media seperti dalam bentuk cetak Zine, majalah atau di media sosial seperti karya video sebagai alternatif media untuk berekspresi.

“Setiap orang mampu mengekspresikan dirinya sendiri, bikin Zine misal tanpa terlibat dengan kepentingan kampus. Jadi jangan bingung jika tidak ada ruang untuk berekspresi. Apapun bisa jadi ruang untuk berekspresi,” ujar Pupung. [Afsana Noor Maulida Zahro & Dwi Indah Indriani]