Kondisi gedung perpustakaan pusat saat ini dan gedung Rumah Ilmu yang direncanakan sebagai gedung perpustakaan baru.( 23/4) [Doc. BP2M/Lala Nilawanti)

Pemindahan Gedung Perpustakaan Universitas Negeri Semarang (Unnes) memunculkan pertanyaan terkait keefektifan penggunaan gedung di Unnes.

Linikampus.com—Gedung baru di depan Fakultas Bahasa dan Seni Unnes, kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, bertuliskan “Rumah Ilmu” itu akan digunakan untuk Perpustakaan Unnes. Gedung tersebut berarti bakal menggantikan perpustakaan lama yang sebelumnya berlokasi di samping kanan Rektorat. Alasan pemindahan karena gedung lama dinilai sulit dijangkau oleh mahasiswa.

“Awalnya ada aspirasi dari mahasiswa jika perpustakaan pusat ini terlalu jauh dijangkau, terutama oleh mahasiswa Fakultas Teknik, Fakultas Ilmu Keolahragaan. Aspirasi itu ditampung sampai akhirnya Pembantu Rektor I menyampaikan ke Rektor,” ujar Eko Handoyo, Kepala Perpustakaan Pusat Unnes, ketika ditemui 22 April 2019.

Gedung perpustakaan lama rencananya akan dijadikan sebagai ruang arsip Unnes, dari lantai satu sampai lantai tiga. Gedung ini tidak akan bisa lagi diakses oleh mahasiswa. Sedangkan saat ini, kearsipan hanya berada di lantai satu.

Meskipun perpustakaan ini masih menggunakan konsep interior perpustakaan konvensional, tapi jika ingin desain interior tersebut diubah, sebenarnya tidak perlu membangun gedung baru lagi. Cukup mendesain ulang gedung tanpa harus membuat gedung baru yang banyak mengeluarkan biaya.

Ada beberapa perbedaan untuk pembaharuan gedung perpustakaan, antara lain terkait fasilitas. Eko Handoyo menyampaikan saat ditemui di ruang kerjanya Senin, 22 April 2019, bahwa Rumah Ilmu akan menyediakan banyak ruang-ruang terbuka untuk digunakan mahasiswa. Misalnya, ruang diskusi, panggung pementasan, dan ruang pelatihan. Selain itu, direncanakan pula ada kafe dan mini resto. Perpustakaan ini juga akan menyediakan unit komputer yang dapat digunakan oleh mahasiswa.

Baca Juga : Hari Buruh, Buruh dan Mahasiswa Tuntut Pemerintah Bela Kaum Tertindas

“Fasilitas di Rumah Ilmu akan kami bangun bertahap, tidak semuanya langsung tahun ini. Rumah Ilmu dengan enam lantai ini bisa dijadikan tempat berekspresi mahasiswa, misalnya diskusi, pementasan drama, nonton film, dan sebagainya,” ujar Eko.

Mahargjo Hapsoro Adi, dosen mata kuliah Manajemen Perpustakaan, Jurusan Bahasa  dan Sastra Indonesia, FBS Unnes menuturkan perpustakaan di era sekarang seharusnya tidak lagi berkutat pada hal-hal yang kaku, misalnya harus tenang. Namun, perpustakaan seharusnya sudah bekembang untuk mendapat nilai tambah. Nilai tambah tersebut bertujuan untuk menarik pemustaka datang keperpustakaan. Strategi semacam itu perlu diperhatikan.

Selain fasilitas, dari segi sistem dan koleksi buku tidak banyak pembaharuan. Rumah Ilmu yang direncanakan akan mulai beroprasi semester ganjil tahun ajaran 2019/2020 atau saat masuknya mahasiswa baru ini masih akan menggunakan dua sistem pelayanan, yaitu otomasi.unnes.ac.id dan library.unnes.ac.id. Sama halnya dengan pengadaan koleksi buku yang hanya akan dilakukan rutin setiap tahun.

Baca Juga : Wisuda Unnes Dahulu dan Sekarang

Istiqbalul Efasteja, mahasiswa Prodi Sastra Indonesia semester delapan mengungkapkan keresahannya jika gedung perpustakaan dipindahkan ke gedung Rumah Ilmu. Dengan membaiknya fasilitas perpustakaan yang baru, mahasiswa justru berbondong-bondong datang ke perpustakaan bukan untuk membaca buku, tetapi hanya untuk nongkrong, mengakses wi-fi, dan foto-foto saja.

“Pemindahan perpustakaan ke gedung Rumah ilmu membuat saya optimistis sekaligus pesimistis. Dengan koleksi buku diperpustakaan, kita yang seharusnya dibenahi terlebih dahulu. Terkait tempat yang lebih bagus, saya rasa tempat yang sekarang sudah bagus. Sistem pelayanan perpustakaan juga seharusnya lebih utama diperbaiki. Saya sering kali menjumpai dalam sistem pencarian buku, tetapi tidak ada di rak. Saya juga takut jika nama Rumah Ilmu tidak sesuai ekspektasi. Jangan-jangan nanti jadi Rumah Nongkong saja,” ujar Istiqbalul, saat ditemui Rabu, 23 April 2019.

Ia juga mengaku pernah dikecewakan dengan kertas pengajuan buku referensi di perpustakaan pusat. Ia pernah mengisi sebuah borang pengajuan buku saat semester tiga, tetapi sampai saat ini buku tersebut tidak kunjung ada di perpustakaan.

Sama halnya dengan Istiqbalul, Risma Nitianggita, mahasiswa Pendidikan Kewarganegaraan semester 14 berharap perpustakaan Unnes memperbanyak lagi referensinya.

“Saya berharap perpustakaan pusat dapat bersinergi dengan perpustakaan-perpustakaan jurusan atau fakultas untuk pengadaan referensi bagi mahasiswa,” ujar Risma saat diwawanwancarai usai ia mengerjakan skripsinya.

Reporter : Lala Nilawanti