Ilustrasi cerpen Bakti untuk Bapak. [BP2M/Hasnah]

Oleh Annisa Febiyani

Seorang gadis dengan kerudung berwarna serupa arang sedang duduk di lantai depan kelas. Mahasiswa lainnya berlalu-lalang tanpa memerdulikan gadis yang terlihat kacau itu. Sebagian mahasiswa lainnya ikut duduk di samping gadis itu, namun tetap saja gadis itu diam seribu bahasa.

Tidak biasanya Siti—nama gadis itu—yang dikenal sebagai tukang lawak terlihat kacau dan murung. Tanpa disadari, air mata Siti menitik dari kedua kelopak matanya. Siti segera beranjak agar tidak diketahui oleh mahasiswa lainnya.

Pengalaman penuh luka masih saja menempel pada ingatan Siti. Semenjak hari itu, tepatnya seminggu yang lalu Siti sudah jarang memberi guyonan di kelasnya. Siti mengalami musibah bertubi-tubi. Ibunya meninggal karena penyakit hipertensi yang diderita selama bertahun-tahun. Hal ini tentunya tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh Siti.

Apa boleh buat, kematian memang sudah ada yang ‘Menentukan’.

Mulai hari itu Siti dituntut oleh bapaknya untuk mengerjakan semua urusan rumah tangga, seperti; mencuci baju, mencuci piring, menyapu dan tentunya memasak—makanan kesukaan Bapaknya.

Tepatnya hari itu, ketika cuaca pagi sedang tidak bagus. Siti yang hendak pergi ke kampus mendengar suara bapaknya memanggil.

“Siti, buatkan sarapan dulu untuk Bapak sebelum kamu berangkat kuliah!” ucap Tardi, bernada tinggi.

“Tapi Pak, Siti sudah terlambat. Bapak makan di warung dulu ya,” kata Siti sambil memasukan buku ke dalam tas.

Mendengar kalimat itu keluar dari mulut Siti, pria tengah baya itu hanya diam dan tidak membalas ucapan Siti. Ada yang mengganjal dihatinya.

Tiba-tiba ia teringat akan istrinya. Dulu, istrinya selalu menyiapkan sarapan di meja sebelum keluar rumah. Setelah kepergian istrinya, Tardi jarang menyantap sarapan. Ia rindu. Meski masakan sederhana, ia merasakan perhatian yang kini sudah hilang dan tidak akan kembali.

Menjelang sore ketika Tardi selesai bekerja, pintu rumah masih tertutup rapat dan terdapat induk kunci masih menempel di gerbang depan. Pertanda kalau anak gadisnya belum pulang—atau tidak pulang, lagi.

Sudah dua hari Siti sibuk dengan urusan kuliah. Suasana hari itu mendung, pun suasana hati Tardi yang masih dipenuhi duka. Tidak ada yang menyambut kedatangannya dan tentunya tidak ada makanan kesukaan Tardi tersedia di meja makan. Masa-masa indah yang ia lalui dulu kembali berjejalan di otak Tardi. Rumahnya terasa begitu sunyi. Kesunyian itu membuat air matanya tiba-tiba jatuh.

Sementara itu, Siti yang sedang berada di kampus tiba-tiba teringat oleh Bapaknya. Sudah dua hari ia meninggalkan Bapaknya—tepatnya hari setelah beradu mulut dengan Bapaknya.

“Nak, sudahlah mengerjakan tugasmu itu,” kata Tardi yang berada di depan tivi.

Siti mendengar ucapan Bapaknya. Jarak kamar Siti dan ruang untuk bersantai tidak begitu jauh.

“Sebentar lagi, Pak.”

Beberapa jam kemudian Tardi berganti posisi membuat kopi dan duduk di teras. Sebelum itu Tardi menghampiri Siti dengan maksud agar Siti bisa menemaninya.

“Siti, belum selesai juga tugas kuliahmu itu?”

Mendengar ucapan itu Siti menjadi jengkel karena merasa terganggu oleh Bapaknya. Spontan Siti menatap Bapaknya dengan tatapan sinis, “Bapak, tolong jangan ganggu aku dulu!” ucap Siti bernada tinggi.

“Sudah dua jam kamu hanya memandangi layar komputer,” kata Tardi

“Bapak tidak mengerti, Bapak kan tidak pernah kuliah!”

“Bapak hanya menganggu saja, selalu ingin dimengerti! Aku ini sedang sibuk, Pak. Banyak tugas yang harus ku selesaikan. Toh kalau aku sukses Bapak juga yang akan menikmatinya kan?” kata Siti sambil menatap Bapaknya.

Mendengar ucapan anaknya, Tardi dengan tatapan sendu mulai meninggalkan kamar Siti dan melangkah ke teras. Anaknya memang benar. Tardi tidak merasakan bangku perkuliahan. Hal ini yang selalu ia kaitkan dengan pekerjaannya.

Tardi bukan seorang pegawai negeri ataupun pengusaha pun gaji Tardi di bawah UMR di kotanya. Oleh karena itu Tardi tidak ingin anak gadisnya merasakan susahnya mencari pekerjaan. Namun, Tardi tetap bersyukur karena ia dan istrinya bisa memberikan anaknya kebahagiaan yaitu duduk di bangku perkuliahan.

Mengigat itu Siti sadar, dua hari yang lalu Siti terlalu kasar pada Bapaknya. Siti ingin segera pulang ke rumah dan tentunya memasak makanan kesukaan Bapak. Khawatir akan keadaan Bapaknya, Siti mulai tidak fokus dan perasaannya menjadi tidak tenang. Siti mengambil gawai miliknya dan menuliskan pesan singkat kepada Bapaknya.

Bapak sudah makan? Siti pulang terlambat.

Centang dua berwarna abu-abu—menandakan pesan ini telah terkirim. Tak lama kemudian centang abu-abu berganti biru, namun tidak ada balasan dari Bapak.

Siti sedih dan tentunya kecewa kepada dirinya sendiri. Ia menyesal telah bersikap kasar pada Bapaknya. Ia juga meninggalkan Bapaknya seorang diri di rumah dan lebih mementingkan urusan kuliah daripada Bapaknya sendiri.

Kelas usai, Siti bergegas pulang. Ia berlari menuju parkiran motor. Ia pulang dengan harap-harap cemas. Ia hanya ingin cepat sampai rumah dan memastikan bahwa Bapaknya dalam keadaan baik-baik saja.

Awan gelap yang mulai menutupi matahari ditambah dengan tiupan angin kencang menemani perjalanan Siti. Lelah yang ia rasakan saat ini. Bentangan kilometer harus Siti tempuh, membuat badannya mulai capai. Setiap hari ia juga masih terbayang-bayang oleh kehadiran Ibu yang membuat hatinya terus merindukan sosok Ibu.

Baca juga: Nak, Kita adalah Rumah

Sesampainya di rumah, Siti mengucapkan salam sambil mencium tangan Bapak. Tangan Bapak terasa lebih hangat daripada biasanya. Tanpa banyak basa-basi Siti mulai melontarkan pertanyaan yang sejak sore tadi membuat pikirannya kacau “Bapak sudah makan?”

“Bukan urusanmu, Bapak mau makan atau tidak kamu juga tidak peduli!” Bapaknya menjawab dengan nada sinis.

Siti hanya terdiam. Perasaannya campur aduk. Siti melangkah ke kamar. Namun sebelum membuka pintu ia terdiam mendengar perkataan dari bapaknya.

“Bapak hanya ingin dimengerti olehmu, nak,”

Siti menjadi bimbang dan sedikit kesal. Ia juga merasa bahwa dirinya yang tidak lagi mendapat perhatian Bapak, Bapak hanya ingin rumah tetap bersih dan makanan selalu siap. Sedangkan Siti harus mengerjakan tugas kuliah, bolak-balik kampus dan harus mengerjakan pekerjaan rumah.

Siti mengerti betul bahwa saat ini Bapaknya hanya ingin dimengerti. Ia berpikir setelah kepergian Ibu, Bapak akan lebih memahami anaknya juga. Namun tidak demikian, Bapaknya hanya mementingkan dirinya sendiri, menyuruh Siti berhenti mengerjakan tugas agar Siti memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.

Masalah sepele menjadi besar. Siti pun tidak mengetahui apa penyebabnya. Ia tahu, setelah kepergian Ibu, Bapak tampak berbeda. Segala permasalahan di rumahnya membuat Siti sering nekat tidak pulang dan memilih menginap di kost temannya hanya untuk tugas kuliah.

Di lain sisi, Tardi juga ingin dipedulikan dan diperhatikan oleh anaknya. Semenjak kepergian sang istri, Tardi tidak pernah makan makanan kesukaannya. Jangankan makan makanan kesukaanya, untuk bisa menemani ketika ia tengah lelah karena pekerjaan atau hanya sekadar menemani menonton televisi saja tidak pernah dilakukan lagi bersama Siti.

Keinginan Tardi yang seperti ini sulit dimengerti oleh Siti karena Tardi sadar bahwa kini anak gadisnya memiliki perihal lain yang jauh lebih penting, yang tidak lain tidak bukan yaitu untuk meraih kesuksesan.

Sore itu, Siti melihat Bapaknya duduk di teras. Itulah kebiasaan Bapaknya duduk di teras sambil meminum kopi hitam. Siti hanya memperhatikan dari jauh. Tak lama kemudian Siti masuk ke dalam kamarnya karena melihat Bapaknya mulai beranjak dari teras.

Tardi masuk ke dalam kamar dan seketika teringat memori tentang istrinya. Betapa beruntungnya Tardi pada saat itu, memiliki istri cantik dan sangat peduli kepadanya. Bagi Tardi tidak ada satupun kecacatan dari diri kekasihnya itu.

Sambil memandang foto pernikahan yang dipasang di dinding kamarnya, ia berkata sembari meneteskan air mata.

“Aku merindukanmu, Sayang. Aku tahu kamu juga merindukanku.”

Tanpa disadari. Siti membuat celah pada pintu kamar Bapaknya. Di balik pintu, nampak Siti yang mengintip Bapaknya sedang meratapi kerinduannya pada ibu. Siti ikut menangis ketika Bapaknya menangis. Bagaimana pun Siti menyadari bahwa Bapaknya selalu menyembunyikan kesedihannya di belakang Siti. Sambil menghapus air mata Siti melangkah ke kamar, menutup kembali pintunya.

Teringat kata-kata Bapaknya membuat Siti segera beranjak dari tempat tidur dan melangkah menuju dapur. Berharap agar Bapaknya tidak merasa ditinggalkannya olehnya. Siti ingin membuktikan kepada Bapaknya bahwa Siti sangat peduli dan ingin semua kembali baik-baik saja.

Tardi yang semula tidur tiba-tiba terbangun karena mencium aroma masakan—yang tidak asing baginya. Segera Tardi bangun dan melihat anaknya sedang menyiapkan makan sambil berkata “Mari makan, Pak. Opor tahu kesukaan Bapak sudah siap,” Tardi tersenyum ketika kemudian Siti memeluknya.

“Maafkan anakmu ini, Pak. Siti tidak akan mengecewakan Bapak lagi,” ucapan Siti menahan tangis.