Sampul Novel Atheis Karya Achdiat K. Mihardja [sumber: wikipedia]

Oleh Zahwal Wafdah*

Judul                           : Atheis

Penulis                        : Achdiat K. Mihardja

Penerbit                      : Balai Pustaka

Tahun Terbit                : 1949

Cetakan                      : Ke-32

Tebal                           : 250 halaman

ISBN                           : 978-979-407-185-4 (cetakan ke-32)

Menarik juga bagiku untuk mengetahui betapa pengaruh pengetahuan setengah-setengah atas pribadi seseorang. (hal: 188)

Kebebasan berpikir seringkali bertabiat pasif. Seperti yang kita ketahui pada zaman sekarang beragam manusia selalu menggali perspektif orang lain untuk disandarinya sebagai kesimpulan—sekalipun perspektif itu tidak utuh.

Pengetahuan setengah dari apa yang bersemayam dalam pribadi seseorang seringkali diperbudak oleh pembesar rekognisi. Mempengaruhi merupakan salah satu perihal yang sangat mudah untuk mengarahkan manusia kepada suatu paham yang pelik, seperti paham Satanisme yang alirannya telah merekah pada suatu daerah di wilayah Indonesia.

Manusia Beranjak Dari Prinsip yang Ia Jaras

Dalam novel ini, Achidat menyinggung hubungan antara modernitas dan tradionalis yang digambarkan dengan alur tidak linear. Hal ini dapat dilihat oleh tokoh Hasan dan Rusli. Hasan sebagai salah satu tokoh tradisional yang kematiannya dimaksud untuk memberikan ilustrasi kemenangan atheisme atas agama, dengan kematian Hasan menjadi kematian theisme. Sedangkan, Rusli digambarkan sebagai salah satu tokoh modern yang memiliki pribadi bertanggung jawab.

“Empat bulan yang lalu segala jejak dan ucapanku selalu kusesuaikan dengan ‘pendapat umum’, terutama dengan pendapat para alim-ulama. Aku selalu berhati-hati jangan sampai menjadi noda dalam pandangan umum, alias “klas alim-ulama” itu. (Benar kata Rusli, bahwa tiap orang itu dipengaruhi dan ditetapkan oIeh pendapat dan nilai-nilai yang berlaku di antara golongannya atau klasnya sendiri). Tapi sekarang pandangan umum itu sudah tidak begitu kuhiraukan lagi. Bagiku sekarang lebih penting pendapat Kartini.” (hlm:108)

Kehidupan ini sejatinya bertaut pada beragam manusia yang hidup di tengah sesama mahluk-Nya. Berlaku bajik atau fasik terhadap sesama hidupnya. Merasa bahagia ketika ia berbuat bajik. Merasa fasik ketika noda mengabu pada akar pandangan umum.

Pergolakan sosial, intelektual, dan psikologis seringkali membuat manusia beranjak dari prinsip yang ia jaras sebelumnya. Seperti halnya pada zaman sekarang banyak masyarakat tidak percaya lagi kepada politik. Mereka beranggapan bahwa semua hal yang berhubungan dengan dunia politik itu tidak baik. Nyatanya, tak sedikit dari mereka acap kali mengkonotasikan sebagai penipuan, manipulasi, akal-akalan, atau hal yang mengarah pada keburukan.

Ilustrasi Novel Atheis
Ilustrasi Tokoh Hasan Memilih Jalan Hidup [BP2M/Amilia]

Sandiwara Dengan Diri Sendiri

Gaya penulisan novel ini menggunakan tiga gaya naratif yang pada saat itu banyak penulis belum menerapkan pada karya sastranya. Tiga gaya naratif itu melahirkan gaya penceritaan sastra roman klasik bersifat didaktis dengan menggunakan narator yang tak lain adalah Achdiat. Majas metafora dan simile sangat mendominasi di roman ini dengan memakai ragam yang aneh tapi saling berpadu.

Di sisi lain, Achdiat memberikan konklusi yang begitu gamang. Tidak adanya batas yang takrif membuat pembaca tidak mengetahui secara pasti apakah Hasan kembali ke islam atau menjadi atheis.

Layaknya teori dalam aklimatisasi. Strategi seolah-olah digunakan sebagai landasan dalam memikat para simpatisan. Bersandiwara di atas panggung dengan beribu kata rancak yang digemakan.

Tak banyak dari mereka beranggapan: Tuhan konsep usang, Agama bak partai politik. Beragam perspektif dapat kita lihat dari setiap poros dimensi. Mereka mengumpulkan pengikutnya, membuat landasan, gagasan, dan tujuan yang sama.

Selain itu, para pengikutnya diwajibkan tunduk di bawah ketiak pasak kunci. Seperti halnya yang telah terjadi di dunia ketatanegaraan saat ini. Mereka mengelabui diri sendiri hingga tidak memikirkan hilangnya kepribadian yang sedari dulu mereka jaga. Terdapat satu kutipan yang dapat menyulih fenomena muslihat pada saat ini,

‘’ … itulah yang kunamakan ‘sandiwara dengan diri sendiri’. Mengelabui mata sendiri … Itulah yang kubenci, sebab dengan begitu hilanglah kepribadian kita, persoonlijkheid kita.” (hlm: 145)

*Mahasiswi Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia 2019, Unnes