Ilustrasi Rencana Sistem Perkuliahan. [Magang BP2M/Febi]

Berdasarkan surat edaran dari Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi Nomor 6 Tahun 2020, tentang penyelenggaraan pembelajaran semester genap tahun 2020/2021, pembelajaran di perguruan tinggi pada semester genap tahun 2020/2021 mulai bulan Januari 2021 dapat diselenggarakan secara campuran–tatap muka dan daring (hybrid learning).

Unnes melalui Wakil Rektor Bidang Akademik, Zaenuri mengatakan bahwa berdasarkan hasil koordinasi dengan delapan fakultas dan satu pascasarjana, terdapat enam fakultas dan pascasarjana yang menyatakan bahwa akan tetap melakukan perkuliahan daring secara penuh selama semester genap tahun 2021.

Enam fakultas tersebut ialah FBS, FIS, FT, FIK, FE, dan FH. Sedangkan FIP dan FMIPA hingga saat ini masih belum menyatakan akan melakukan perkuliahan daring secara menyeluruh. Hal itu dikarenakan ada beberapa mata kuliah yang rencananya akan dilakukan secara luring pada pekan ketiga atau pertemuan ketiga.

Hasil koordinasi tersebut nantinya akan disampaikan kepada rektor untuk dipertimbangkan terkait keputusan sistem perkuliahan pada semester genap tahun 2021.

Zaenuri mengatakan banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan mengenai sistem perkuliahan semester genap ini.

“Harus izin dulu ke pemerintah daerah di Semarang. Berhubung Semarang masih belum stabil, kemungkinan susah. Belum lagi nanti monitoring pergerakan mahasiswa di kos-kosan (juga susah),” tutur Zaenuri pada Rabu (6/1).

Persiapan Perkuliahan Semester Genap Tahun 2020/2021

Menurut penuturan Zaenuri, Unnes telah mempersiapkan beberapa hal untuk menunjang proses perkuliahan semester genap tahun 2021 baik daring maupun luring.

“Pada perkuliahan daring, Unnes sudah memiliki Elena untuk menunjang proses pembelajaran daring. Pengguna Elena sekarang sudah mencapai 95% yang saya kira itu sudah cukup baik. Akan tetapi, kita juga memperbolehkan kepada dosen dan mahasiswa untuk menggunakan platform lain,” jelas Zaenuri.

Lain halnya bagi M. Azzam Ayyasi, salah satu Mahasiswa Jurusan PJKR. Azzam mengungkapkan bahwa selama penerapan kuliah daring, ia tidak bisa maksimal dalam memahami dan mempraktikkan ilmu yang disampaikan karena minimnya fasilitas praktikum yang dimiliki.

“Karena adanya mata kuliah yang mengharuskan untuk melakukan aktivitas fisik (praktik), sedangkan kalau dilakukan secara daring maka fasilitas yang seharusnya bisa didapatkan di lingkungan kampus menjadi tidak dapat dimaksimalkan,” jelasnya (4/1).

Apabila perkuliahan dilakukan secara luring, Zaenuri menjelaskan bahwa perkuliahan akan dilakukan dengan memenuhi protokol kesehatan yang ketat dan aktivitas perkuliahan juga akan dibatasi. Dalam satu hari, kelas hanya bisa dipakai sebanyak empat kali, yakni pada pukul 07.00 hingga 09.00, pukul  10.00 hingga 12.00, pukul 13.00 hingga 15.00, dan pukul 16.00 hingga 18.00.

Pada sela-sela pergantian jam perkuliahan, ruang kelas akan disemprot disinfektan. Selain itu, kesehatan mahasiswa juga akan dicek oleh pihak universitas terlebih dahulu sebelum melakukan aktivitas perkuliahan.

Evaluasi Sistem Perkuliahan Daring

Selama perkuliahan daring, beberapa mahasiswa mengeluhkan sistem pembelajaran yang membuat mereka sulit memahami materi perkuliahan.

Ika Fitriani, mahasiswi Pendidikan Matematika mengatakan bahwa pembelajaran daring kurang efektif karena biasanya dosen hanya sekadar memberikan materi tanpa menjelaskan.

“Kita sebagai mahasiswa (juga) perlu penjelasan dari dosen supaya lebih paham mengenai materi yang diberikan,” ujar Ika (6/1).

Pernyataan serupa juga diungkapkan oleh Acun Dian Fathullah, mahasiswa Pendidikan Seni Tari. Ia mengatakan metode pembelajaran selama perkuliahan daring masih perlu diperbaiki.

“Metode pembelajarannya perlu diperbaiki lagi, tidak sekadar memberikan video pembelajaran saja, yang pada ujungnya mahasiswa hanya menelaah sendiri apa yang sedang ia pelajari,” ungkapnya (6/1).

Sedangkan menurut penuturan Zaenuri, Unnes telah melakukan evaluasi mengenai sistem pembelajaran daring guna memperbaiki sistem yang sudah ada.

“Kita sudah melakukan evaluasi, akan tetapi untuk kendala sinyal kita tidak bisa melakukan apa-apa,” ujar Zaenuri.

Menyoal sistem perkuliahan semester depan, Zaenuri juga meminta kerjasama dari berbagai pihak untuk mendukung sistem perkuliahan semester depan supaya dapat terlaksana dengan baik. Zaenuri berpesan, apabila terdapat hal-hal yang menghambat perkuliahan daring, mahasiswa dapat melapor pihaknya supaya dapat segera dilakukan perbaikan.

“Saya menyadari perkuliahan daring ini belum maksimal. Jadi apabila ada hambatan bisa segera dilaporkan kepada kami (bidang akademik) supaya bisa segera diatasi. Misalnya, ada tugas yang kurang masuk akal dari dosen, silakan lapor kepada kami biar bisa segera kami tegur dan identitas mahasiswa tentu akan dirahasiakan,” tutur Zaenuri.

 

Reporter: Alvina dan Fajar

Editor: Hani