Hajat pemilihan presiden 2014 telah tampak dihiasi kampanye hitam
yang menjurus pada isu Suku, Ras, dan Agama. Perbedaan (agama) mengandung
ambivalensi dalam praksisnya. Di satu sisi, mampu menjadi sarana integrasi
sosial bagi umat beragama. Namun di sisi lain, mampu menjadi sarana
disintegrasi sosial yang menimbulkan perpecahan, ketegangan, maupun friksi.
Pertimbangan tadi melatarbelakangi Kelompok Kajian
Multikultural mahasiswa Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Unnes menggelar
bedah Film “?”. Film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini akan dibedah pada
Rabu, 18 Juni 2014 pukul 19.00 WIB di Pelataran Gedung A2 FIP Unnes. Usai bedah
film akan dilanjutkan Diskusi Kelompok Terfokus.
“Karakter (watak) seseorang itu berbeda-beda. Tentunya, kita
harus memahami perbedaan yang ada. Hidup kita tak bisa lepas dari perbedaan,”
ungkap ketua panitia kajian multikultural Fuad Mahfudz.  “Siapkan teori
dan analisismu sebelum mengikuti kajian ini,” tantangnya.

 

Menuju Tuhan
Manusia tak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan
setapaknya masing-masing. Tiap manusia berjalan sendirian. Berjalan, berlari,
dan sesekali berhenti. “Semua jalan setapak itu berbeda-beda. Namun, menuju ke
arah yang sama,” ungkap Rika kepada Surya dalam salah satu adegan film
tersebut.
Mencari suatu hal yang sama, lanjutnya, dengan satu tujuan
yang sama. Hingga semakin dekat ke tujuan, manusia semakin menyadari bahwa di
sepanjang jalan setapak yang sudah dilewati, ia takkan pernah benar-benar
sendiri. “Manusia selalu bersama dengan apa yang mereka cari, bersama
tujuannya, yaitu Tuhan,” tandas wanita yang memutuskan memeluk agama Katolik
itu. Istimewa 

Pendaftaran ketik nama_fakultas kirim 085747563326 (Aryati)