Dian/bp2munnes.org

Orang percaya, perbedaan warna-warni pada pelangi merupakan alasan mengapa mereka terlihat begitu indah. Namun, jika ada pelangi yang muncul ketika malam hari. Apakah percaya


RABU (12/11), terdengar sorak-sorai penonton di lapangan sebelah barat gedung C7, Fakultas Ilmu Sosial, Unnes. Suasana dingin tak menyurutkan euforia penonton untuk berjoget ria dengan Sabhara dalam acara Pelangi Sos-Ant. Larut mulai menjemput, musik bergelut, musik menghipnotis, musik mulai menggoyang FIS.

Sepuluh polisi terlihat lincah dan lihai saat mendendangkan lagu oplosan dengan alat-alat musik tradisional Indonesia, salah satunya angklung. Mereka tergabung dalam kelompok pecinta musik yang bernama Ditsabhara, personilnya tentu saja anggota kepolisian dari Polda Jawa Tengah.

“Menghibur mahasiswa Unnes, bisa mengurangi kepenatan kami dalam bekerja” ujar Bripka Heri ketika diwawancarai sebelum performance.

Purwandari dan Santi yang masing-masing merupakan mahasiswa Pendidikan IPS dan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi mengatakan bahwa acaranya sangat menghibur, apalagi setelah kedatangan anggota kepolisian.

 “Acaranya seru, ada penampilan parodinya serta tak kalah oke penampilan bintang tamu dari Polda Jawa Tengah,” ujar Purwandari.

Namun, Santi sempat kecewa ketika pelaksanaanya terlalu larut. Selaku ketua panitia, Syibi mengonfirmasi hal tersebut kepada Bp2munnes.org bahwa hal tersebut terjadi karena adanya keterlambatan alat dan salah komunikasi dari panitia.

Kegiatan tahunan
Pelangi Sos-Ant diadakan oleh Hima Sosiologi dan Antropologi  menampilkan serangkaian acara yang menghiasi malam itu, mulai dari penampilan band, Backbone Percussionnya Ditsabhara, hingga parodi menyoal kritik sosial. “Tingkat partisipasi dalam pengisian acara dan penonton pada Pelangi Sos-Ant tahun ini cenderung meningkat,” ujar M. Kharis Sybi mengakhiri pembicaraan. (Santi)