Tari Kolosal, Wujud Konservasi Budaya
Dok. Uswa/BP2M

Lini Kampus – Alunan musik berdendang menyambut para penari yang memasuki lapangan dengan kostum dan riasan di wajah mereka. Senyuman yang selalu terbingkai dan gerakan tangan serta tubuh mengekpresikan sebuah cerita melalui tarian yang mereka bawakan. Penonton mengelilingi lapangan menyaksikan para penari menampilkan tariannya, sesekali terdengar sorak sorai penonton dan tepuk tangan apabila para penari telah usai menampilkan tariannya.
Pagelaran tari yang berjudul Gelar Karya Tari Kolosal dengan tema “Wujudkan Konservasi Melalui Gerak Tari” diselenggarakan oleh mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Negeri Semarang (Unnes) angkatan 2015,  Ngaliyan (21/5). Sebanyak 300 mahasiswa yang terbagi menjadi beberapa kelompok meramaikan kegiatan tersebut di Lapangan PGSD Ngaliyan. Setiap kelompok mengusung tema yang berbeda namun tetap mengandung salah satu dari tujuh pilar konservasi. 
Tak hanya menari di tengah lapangan dan ditonton oleh mahasiswa PGSD. Dalam tariannya, mereka mencoba untuk bercerita melalui gerakan tari. Salah satu kelompok mengusung cerita tentang asal-usul Rawa Pening. Diawali dengan prolog yang menceritakan para tokoh dan asal-usul terbentuknya Rawa Pening. Bercerita tentang sejarah Rawa Pening dengan gerakan tangan, kaki, serta tubuh dan diringi alunan musik. 
Menurut Rizki Dwi Haryono sebagai Ketua Panitia, adanya kegiatan seni di PGSD merupakan satu upaya untuk mewujudkan konservasi budaya. Mahasiswa PGSD dituntut untuk multitalent. Tak hanya memberikan pelajaran biasa terhadap murid mereka. Namun, saat terjun ke lapangan kelak, mereka dapat memberikan pelajaran kesenian tari kepada murid-muridnya.
Dengan diselenggarakannya pagelaran tari, peserta dituntut berpikir kreatif. Gerakan tari yang mereka tampilkan adalah hasil dari ide kreatif mahasiswa sendiri. Menciptakan gerakan dengan menyesuaikan cerita yang mereka bawakan. “Setiap gerakan kita yang nyiptain sendiri, di setiap gerakan mengandung cerita yang akan kita bawakan,” ujar Rizki.
Nur Laela, salah satu peserta tari mengungkapkan, dari kegiatan tari tersebut, ia dapat mengekspresikan diri melalui gerakan tari. Merasakan kebersamaan serta kekompakan yang ia jalin dengan kelompoknya selama proses latihan. [Uswa, Doni]