Beranda Wacana Resensi Seluk Beluk Tanah Anarki

Seluk Beluk Tanah Anarki

464

Oleh : Zahwal Wafdah

Judul    : Senja di Jakarta
Penulis  : Mochtar Lubis
Penerbit : Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan : Pertama tahun 1992
Tebal     : viii+278 hlm.;13 x 18 cm.
ISBN     : 978-602-433-588-5

aqui tengo una voz enardecida
aqui tengo una vida combatida y airada
aqui tengo un rumor, aqui tengo una vida…

ini suaraku yang meradang
ini hidupku penuh perjuangan dan amarah
ini pesanku, ini hidupku ….

Seluk Beluk Tanah Anarki, sebuah cerita klasik yang sering diserukan. Suatu perjalanan dimana kita ingin mencapai batas-batas kemasyhuran. Kerasnya hidup di kota Jakarta dengan berbagai stigma yang bertebaran membuat masyarakat ingin menyudahi kehidupannya. Untuk menuju suatu kemasyhuran, terdapat pelbagai cara yang dilakukan orang tanpa memandang hulu.

Dalam novel ini, Lubis menyayat kehidupan politik dan sosial yang terdapat di kota Jakarta. Dengan kejernihan menyerikan, Lubis berhasil membuka pemikiran mengenai suatu kemiskinan, korupsi, kejahatan, penghianatan yang mengalir deras dibawah naungan Megapolitan.

Berkisah tentang kehidupan rakyat kecil
Susahnya hidup sebagai rakyat kecil membuat tokoh dalam novela ini beradu nasib dalam monopoli perekonomian. Tokoh tersebut bernama Saimun dan Itam yang sangat sulit mencari pekerjaan di Jakarta dan hanya bermodalkan fisik.

Totalitas ketidakadilan dapat dilihat bagaimana sulitnya mencari pekerjaan yang dialami oleh tokoh. Saimun bertemu dengan seorang perempuan bernama Neneng, ia mengajaknya untuk tinggal di pondok bersama dengan Itam. Neneng menyetujuinya dan tak disangka terjadi pergaulan antara Neneng, Itam, dan Saimun. Neneng rela menjadi seorang pelacur untuk mengais selembar kertas berwarna merah.

Mereka mewakili kehidupan rakyat kecil dimana segala sesuatu akan mereka lakukan demi mempertahankan kelangsungan hidup. Berbeda dengan orang-orang berdasi, mereka dapat semena-mena dalam membuat suatu kebijakan dalam mengatur sistem kehidupan manusia. Sebuah dalih yang berkumandang berbanding terbalik dengan apa yang terjadi.

Tokoh yang ditampilkan serasa hidup, karena memuat perasaan dalam menghadapi polemik kehidupan seperti yang terjadi diera ini. Cerita yang disuguhkan merupakan kisah nyata yang tidak penuh dengan tipu daya muslihat. Ihwal keadilan hanya sebuah kata semu yang dilontarkan oleh para penguasa, hal ini merupakan suatu sindiran dahsyat dalam polemik kehidupan perpolitikan dan sosial di Megapolitan pada tahun 1960-an.

Meski novela ini lebih menyoroti bagaimana drama dalam dunia perpolitikan, setidaknya beberapa potong adegan cukup menjelaskan bagaimana susahnya mencari pekerjaan bagi rakyat kecil. Dalam novela ini, Lubis lebih menekankan gaya penulisan moderat.

Bahasa yang digunakan dalam novela ini adalah bahasa Indonesia lama disisipi dengan bahasa Belanda. Novela ini mempunyai keberanian dalam menyorot suara kaum proletar melawan borjuis di negeri ini. Dari segi sisi dan kepenulisan, Lubis mempunyai sikap yang berani dalam mengambil subtema yang cukup sentimen untuk dilontarkan kepada para penguasa yang bungkam akan hal kemasyhuran rakyat.

Ada hal yang cukup membingungkan dalam membaca novela ini, yakni dalam beberapa paragaf ke paragaf lainnya cerita tidak berkesinambungan dengan cerita sebelumnya tetapi dilanjutkan dengan subtema yang berbeda dengan diberi suatu judul menggunakan nama bulan.

Baca juga: Teladan Pengorbanan Sang Juru Sisir

Predestinasi dalam kehidupan seringkali tak sesuai dengan apa yang diharapkan, hal ini bisa dilihat dari salah satu tokoh yang memiliki predestinasi kehidupan yang berbeda dengan Saimun, Itam, dan Neneng. Suryono, seorang anak konglomerat anggota partai pemerintahan yang hidupnya hanya bersenang-senang dapat diibaratkan pada masa kini anak hanya ingin berada dalam naungan ketiak orang tua. Salah satu cuplikan kalimat yang memiliki makna mendalam.

“Kita ini kini hidup bukan dalam abad atom, akan tetapi dalam abad tidak percaya”.-(halaman 47)

Saat ini sulit sekali mempercayai pemerintahan yang diemban oleh para penguasa. Janji-janji yang dulu dibuat seiring sirna bersama dengan kursi kekuasaan yang telah diperoleh. Para birokrat bangsa terlalu sibuk mencari cara bagaimana mendapatkan salah satu wilayah kekuasaan yang ada di negeri ini.

Banyak rakyat hanya dapat menelan ludah melihat kebijakan yang diluncurkan. Politik diibaratkan seperti anak panah, ketika anak panah itu diluncurkan dan tepat mengenai sasaran maka rakyat mengalami kemasyuharan. Tetapi jika anak panah tersebut tidak tepat mengenai sasaran maka rakyat akan mengalami kesengsaraan.

Lubis mencoba membuka mata hati kita untuk melihat betapa abstraknya kehidupan yang terjadi di kota Megapolitan. Tokoh Suryono menjadi lambang otoriter dalam berbagai hal, seperti kehidupan sosial dan berpolitik.

Lubis menyadarkan kita bahwa hidup ditanah anarki memang memiliki beragam stigma yang berkesinambungan, tetapi dalam suatu kejadian tersebut terdapat beragam hikmah yang dapat dipetik. Terdapat satu kutipan yang menyuarakan suara hati rakyat,
“Seakan tak tertahankan dalam hatinya hendak melontarkan teriak kegembiraan memenuhi angkasa dan aku akan bekerja kini untuk rakyat, kini aku tahu aku dimana dan akan kemana. Betapa mereka akan membawa kemakmuran yang adil pada semua orang dan betapa kelas-kelas masyarakat akan dihapuskan, dan semua orang hidup dalam kebahagiaan”- (halaman 172).

 

*Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia 2019