LINIKAMPUS Blog Ulasan Resensi Belajar Menerima Kegagalan dari Monsters University
Resensi Ulasan

Belajar Menerima Kegagalan dari Monsters University

Film Monsters University [Sumber: Pixar.com]

Oleh: Vera Candra Prabaswati*

 


Identitas Film

Judul     : Monsters University
Sutradara : Dan Scanlon
Genre     : Anak-anak & keluarga, Komedi, Fantasi, Petualangan, Animasi
Bahasa    : Inggris
Rilis     : 21 Juni 2013 (Indonesia)
Durasi    : 103 menit

“Kau tak pantas ada di Scare Floor. Tidak ada yang akan mengingatmu, kau tidak menyeramkan,” kata-kata itu terus berputar di kepala Mike. Mike Wazowski menginginkannya lebih dari siapapun. Usahanya lebih keras dibanding siapapun juga. Namun, tak peduli seberapa keras usahanya, nyatanya Mike tidak pernah cukup di mata monster lain.

Sebagai prequel dari Monsters Inc., Monsters University mengisahkan awal mula persahabatan Mike Wazowski dan James P. Sullivan atau yang akrab dipanggil Sulley. Mereka diperkenalkan sebagai mahasiswa baru dengan impian yang sama, yakni menjadi scarer–monster yang memasuki dunia manusia untuk menakut-nakuti anak kecil–dan bekerja di Monsters Inc. Bagi Sulley, impian tersebut rasanya mudah untuk digapai. Ia berasal dari keluarga Sullivan, seorang legendaris dalam dunia menakuti. Monster beruang biru bertotol ungu itu merasa memang sudah takdirnya untuk mengikuti jejak sang ayah. Lain halnya dengan Mike, menjadi seorang scarer adalah impiannya dari kecil dan monster hijau mungil bermata satu itu bekerja keras untuk mewujudkannya.

Kita dapat melihat kasus Sulley terjadi di dunia nyata. Seperti istilah nepo baby atau bayi nepotisme yang sempat viral tahun lalu. Banyak nama besar Hollywood yang mendapat manfaat dari ketenaran atau koneksi orang tua dalam karier mereka. Mengutip dari today.com, nepo baby adalah bukti tidak adanya meritokrasi dan bakat untuk mendorong karier yang sukses.

Kebanyakan dari kita mungkin lebih relate dengan Mike Wazowski. Berbekal kecerdasan dan kemauan tinggi nyatanya tidak cukup. Orang-orang seperti Mike lebih sering dikalahkan oleh mereka yang mempunyai koneksi, mereka yang berbadan lebih menarik, dan sebagainya. “Monster sepertimu punya segalanya. Kau tak harus jadi bagus. Kau bisa terus-terusan berbuat kacau, lalu semuanya menyukaimu. Kau tak pernah tau rasanya gagal karena kau lahir sebagai Sullivan!” ungkap Mike pada Sulley saat mereka berada di dunia manusia.

Saat Hasil Mengkhianati Usaha

Keinginan untuk menjadi scarer muncul ketika Mike kecil melakukan karyawisata di Monsters Inc. Demi mewujudkan mimpinya, ia memutuskan untuk berkuliah di Monsters University sebagai mahasiswa Jurusan Menakuti atau Scare Program. Takdir membawanya bertemu dengan Sulley yang juga memilih jurusan tersebut. Pertemuan awal mereka kurang menyenangkan. Sulley yang terlambat masuk kelas dan menginterupsi Mike, menimbulkan persaingan bagi keduanya. Sulley kerap meremehkan Mike. Ia hanya mengandalkan nama besar keluarganya tanpa mau belajar dengan baik. Puncak persaingan antara Mike dan Sulley terjadi saat ujian akhir semester.

 “Menakutkan adalah ukuran mutlak monster. Jika kalian tidak menakutkan, monster macam apa kalian?” ujar Hardscrabble–guru besar Universitas Monster–di tengah kelas. Oleh karena itu, mahasiswa Scare Program harus mengikuti ujian Scare Simulator di akhir semester. Mereka akan dikeluarkan dari jurusan tersebut apabila gagal ujian.

Mike menghabiskan waktu untuk belajar agar lulus ujian. Berbeda dengan Sulley yang merasa seorang natural, ia menghabiskan waktunya untuk bermain-main. Hari ujian pun tiba, saat pengumuman, ternyata mereka dinyatakan tidak lulus. “Kalau begitu, kuyakin keluargamu akan sangat kecewa,” tegas Hardscrabble saat Sulley bertanya mengapa dia yang seorang Sullivan tidak lulus ujian. “…dan Tuan Wazowski, kekuranganmu adalah hal yang tidak bisa diajarkan. Kau tidak menakutkan,” lanjut Hardscrabble menyatakan Mike tidak lulus ujian.

Mike berusaha mengembalikan statusnya sebagai mahasiswa Scare Program dengan mengikuti kompetisi tahunan Scare Games. Ia bergabung dengan Oozma Kappa (OK), kelompok yang beranggotakan empat monster terpayah di kampus. Sulley pun ikut bergabung dengan tim Mike setelah dinyatakan Oozma Kappa kekurangan anggota. Mike berpikir seluruh tim dapat berkembang dengan pelatihan yang cukup, berbeda dengan Sulley yang berekspektasi bisa membawa timnya sendirian.

Siapa sangka dengan kepemimpinan Mike, OK melaju ke babak final. Bahkan memenangkan kompetisi tersebut, meski karena perbuatan curang Sulley. “Lantas aku harus bagaimana? Membiarkan yang lain gagal karena kau tidak menakutkan?” ungkap Sulley pada Mike saat kecurangannya terbongkar. Persahabatan yang terbangun selama kompetisi ternyata tidak cukup meyakinkan Sulley akan kemampuan Mike.

Bisa dilihat seberapa keras usaha Mike dalam memperjuangkan mimpinya. Pada akhirnya ia memang tidak ditakdirkan untuk itu. Istilah hasil tidak akan mengkhianati usaha tidak berlaku di film ini. Dan Scanlon dalam satu interview menyebutkan film ini dibuat untuk membantu orang memahami bahwa terkadang perlu melepaskan ide tentang apa yang mendefinisikanmu untuk menemukan identitas sejatimu. 

Berdamai dengan Kegagalan

Selayaknya film Coming of age, Monsters University menggambarkan proses pendewasaan dan transisi dari impian masa kecil ke realitas yang ada. Mike menyadari mimpinya menjadi seorang scarer tidak bisa dicapai dan ia bisa menerima kenyataan itu. Terlebih ia dan Sulley harus dikeluarkan dari kampus setelah merusak properti. Menjadi mahasiswa DO (drop out) tidak menghentikan mereka untuk tetap mendapat pekerjaan. Dalam akhir film, kita melihat bagaimana Mike dan Sulley meniti karier mereka di Monsters Inc. Dimulai dari pengantar surat hingga akhirnya Mike menjadi asisten Sulley seperti yang kita lihat di film sebelumnya. Jauh berbeda dengan impiannya selama ini. And that’s okay.

Faktanya memang kuliah bukan satu-satunya jalan untuk mendapatkan pekerjaan. Tidak semua orang mampu atau bahkan ingin kuliah. Monsters University paham akan hal ini. Pesan ini mungkin tidak terlalu terbaca oleh anak-anak yang biasa menonton kartun. Di sinilah terkadang orang dewasa dapat mengambil pelajaran dari film kartun. Terlebih lagi, banyak orang dewasa tumbuh dengan Monsters Inc.

Monsters University berhasil sebagai prequel. Meski tidak seikonik Monsters Inc., kisah tentang bagaimana menghadapi kegagalan dalam hidup tersampaikan dengan baik. Pesan ini cukup langka dibandingkan dengan film kartun pada umumnya yang “impianmu akan tercapai dengan usaha keras”. Kita diperlihatkan bahwa impian tertinggimu tidak harus selalu tercapai. Kegagalan bukan akhir dari segalanya dan selalu ada jalan lain untuk meraih mimpimu. Seperti kata Mike, “Aku tak masalah meski jadi biasa saja.”

Mike kecil saat karyawisata di Monters Inc.
Mike memimpin latihan Oozma Kappa untuk Scare Games.
Mike dan Sulley saat berada di dunia manusia [Sumber: Pixar.com].

 

*Mahasiswi Ekonomi Pembangunan 2019

Exit mobile version