LINIKAMPUS

Kategori: Jepret

  • Potret PKKMB Unnes 2025 Warnai Langkah Awal Mahasiswa Baru

    Potret PKKMB Unnes 2025 Warnai Langkah Awal Mahasiswa Baru

    Hari Minggu (17/08/2025), Universitas Negeri Semarang (Unnes) menyelenggarakan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2025 di Lapangan Prof Dumadi. PKKMB tahun ini bertemakan “Potential to Purpose: Stand Tall After The Fall”. Diikuti sebanyak 11.074 mahasiswa baru, beberapa kejadian unik terjadi selama kegiatan berlangsung.

    Mahasiswa baru dari seluruh fakultas berpartisipasi dalam arak-arakan menuju venue utama PKKMB di lapangan Prof. Dumadi.  Dimulai dari Fakultas Kedokteran (FK) dan diakhir oleh Fakultas Bahasa dan Seni (FBS).

    Bentuk solidaritas terhadap penangkapan tiga mahasiswa Unnes pada saat aksi Hari Buruh, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Hanna]

    Kemeriahan arak-arakan dari Fakultas Teknik, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Hanna]

    Antusiasme mahasiswa Fakultas Ekonomika dan Bisnis mengantar Mahesa menuju venue, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Sultan]

    Bertepatan dengan momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, acara PKKMB Unnes 2025 sekaligus menggelar pengibaran bendera merah putih yang diikuti oleh civitas akademika.

    Momentum pengibaran bendera Merah Putih, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Sultan]

    Pidato rektor menyambut peserta PKKMB Unnes 2025, Minggu (17/08/2025)[BP2M/Sultan]

    Penyematan simbolik oleh rektor, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Sultan]

    Keunikan mahasiswa baru saat mengikuti PKKMB, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Sultan)

    Potret kebersamaan Mahesa, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Sultan]

    Tak hanya sekedar upacara, persembahan pembukaan untuk memeriahkan PKKMB 2025. Dimulai dari marching band, keroncong, dan tari tradisional dihadirkan untuk sambut mahasiswa baru. 

    Pertunjukan musik menghibur peserta selama acara berlangsung, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Sultan]

    Penampilan orkestra dalam PKKMB Unnes 2025, Minggu (17/08/2025)[BP2M/Sultan]

    Pertunjukan seni dalam menyambut mahasiswa baru, Minggu (17/08/2025) [BP2M/Sultan]

    Reporter : Hanna/BP2M, Ann/BP2M, Sultan/BP2M

    Penulis: Hanna/BP2M dan Ann/BP2M

    Editor: Anastasia Retno

  • AJI Kota Semarang Selenggarakan Diskusi dan Panggung Rakyat sebagai Ruang Harapan yang Adil Bagi Korban Kekerasan Aparat

    AJI Kota Semarang Selenggarakan Diskusi dan Panggung Rakyat sebagai Ruang Harapan yang Adil Bagi Korban Kekerasan Aparat

    Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang mengadakan forum diskusi dan panggung rakyat dalam rangka memeringati Hari Anti Penyiksaan Internasional pada Selasa, (01/07/2025). Acara yang bertepatan dengan HUT Bhayangkara ini dihadiri oleh para keluarga korban kekerasan aparat. Mereka menyampaikan dengan penuh harap agar keadilan bagi korban dapat ditegakkan. Panggung rakyat yang diselenggarakan turut menampilkan pembacaan puisi dan sajak dengan lantunan gitar. Salah satunya adalah puisi bertajuk “Ke mana anak-anak itu?” yang dibacakan oleh Heri dari AJI Kota Semarang. Kegiatan yang diadakan di Santrendelik ini berlangsung dari pukul 16.24 hingga 18.53 WIB.

    Aris Mulyawan sebagai Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang menyampaikan sambutan sebelum sesi diskusi dimulai (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Aris Mulyawan sebagai Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Semarang menyampaikan sambutan sebelum sesi diskusi dimulai (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Penampilan berupa nyanyian yang diiringi alunan gitar sebelum diskusi dimulai (Selasa, 01/07/2025) [Nayna/BP2M]
    Penampilan berupa nyanyian yang diiringi alunan gitar sebelum diskusi dimulai (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Para peserta diskusi tengah duduk sambil menikmati alunan musik (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Para peserta diskusi tengah duduk sambil menikmati alunan musik (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Pembacaan puisi oleh Heri diiringi alunan musik yang didedikasikan untuk Almarhum Gamma, korban penembakan polisi (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Pembacaan puisi oleh Heri diiringi alunan musik yang didedikasikan untuk Almarhum Gamma, korban penembakan polisi (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]

    Kini, tiba saatnya pembacaan puisi karya Emha Ainun Nadjib yang berjudul “Ke mana anak-anak itu?” oleh Heri, anggota AJI Kota Semarang.

    “Kemana aku melihat anak-anak itu lari tunggang langgang? Anak-anak itu diserbu oleh rasa takut yang mencekam.

    Aku melihat anak-anak itu berada di bawah semak-semak zaman. 

    Dan anak-anak itu duduk di balik kegelapan.

    Kematian bukanlah tragedi, kecuali jika kita curi dari Tuhan hak untuk menentukannya.

    Kematian tidak untuk ditangisi, tetapi apa yang menyebabkan kematian? Itu yang harus diteliti.”

    Para peserta diskusi yang sedang menyimak pemaparan kasus Almarhum Iwan Budi dari Yunantyo yang adalah kuasa hukum Almarhum Iwan Budi (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Para peserta diskusi yang sedang menyimak pemaparan kasus Almarhum Iwan Budi dari Yunantyo yang adalah kuasa hukum Almarhum Iwan Budi (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]

    Salah satu peserta diskusi tengah bertanya saat sesi tanya-jawab dalam diskusi berlangsung (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Salah satu peserta diskusi tengah bertanya saat sesi tanya-jawab dalam diskusi berlangsung (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]

    Salah satu peserta diskusi sekaligus anggota Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Menteng, Universitas Wahid Hasyim menyampaikan pertanyaan kepada Poniyem yang merupakan istri korban dari kekerasan aparat tentang harapan hukuman bagi pelaku. 

    “Kalau saya, hasilnya apapun keputusan dari hakim, ya saya harus ikhlas,” harap Poniyem. 

    Malika Ainda, salah satu peserta diskusi menyampaikan bahwa forum ini perlu dilakukan sebagai bentuk dukungan moral terhadap keluarga korban. Ia juga mengungkapkan harapannya agar kegiatan seperti ini terus diadakan tanpa adanya intimidasi.

    “Untuk harapan sih ya itu, semoga tetap ada terus hal-hal seperti ini dan lebih lancar, nggak kayak ada suatu entah itu intimidasi pihak luar atau apa?” tuturnya.

    Para peserta diskusi yang sedang menunggu untuk mengambil makanan pada sesi berikutnya (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Para peserta diskusi yang sedang menunggu untuk mengambil makanan pada sesi berikutnya (Selasa, 01/07/2025) [Sultan/BP2M]
    Nur Salam, perwakilan keluarga dari Almarhum Gamma, mengungkapkan harapannya untuk kasus Gamma (Selasa, 01/07/2025) [Ann/BP2M]
    Nur Salam, perwakilan keluarga dari Almarhum Gamma, mengungkapkan harapannya untuk kasus Gamma (Selasa, 01/07/2025) [Ann/BP2M]


    Sesi diskusi berhenti sejenak menjelang waktu ibadah salat magrib, kemudian dilanjut istirahat. Selepas itu, Nur Salam yang merupakan keluarga Gamma dalam diskusinya berharap terdakwa mendapat hukuman berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). 
    “Ya kalo harapan dari keluarga kan yang pasti PTDH jalan, karena sampai sekarang PTDH-nya tidak berjalan, masih (dalam proses) banding tapi belum ada keputusan,” harapnya.

    Reporter: Nayna, Aan, Sultan

    Penulis: Nayna

    Editor: Lidwina

  • Potret Euphoria Pekakota Institute, Gelar Purwarupa Bertajuk “Ditampart: Meruang”

    Potret Euphoria Pekakota Institute, Gelar Purwarupa Bertajuk “Ditampart: Meruang”

    Pekakota Institute dalam naungan Hysteria menggelar acara bernamakan “Purwarupa” berupa konser sekaligus pameran seni yang mengusung tema “Ditampart: Meruang” di parkiran Gedung B6 Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang (FBS UNNES). Ditampart adalah kependekan dari Dinas Cipta Tempat dan Ruang Terpadu. Gelar cipta seni ini diinisiasi sebagai upaya sadar untuk menciptakan ruang yang inklusif. Acara yang berlangsung dengan meriah ini didatangi oleh seluruh elemen masyarakat pada Kamis, (22/06/2025) pukul 15.00 hingga 22.00 WIB.

    Kemeriahan saat The Sunner membawakan lagu “Revolution”. (Minggu, 22/06/2025) [Haidar/Magang BP2M]
    Kemeriahan saat The Sunner membawakan lagu “Revolution” (Minggu, 22/06/2025) [Haidar/Magang BP2M]
    Euphoria penonton dalam menikmati lagu yang dibawakan oleh The Sunner di Purwarupa Ditampart: Meruang membuat suasana semakin meriah dan seru (Minggu, 22/06/2025) [Haidar/Magang BP2M]
    Euphoria penonton dalam menikmati lagu yang dibawakan oleh The Sunner di Purwarupa Ditampart: Meruang membuat suasana semakin meriah (Minggu, 22/06/2025) [Haidar/Magang BP2M]

    Terdapat lukisan yang menggambarkan dua orang manusia sedang terjongkok dalam dua posisi berlawanan (Minggu, 22/06/2025) [Husain/Magang BP2M]
    Terdapat lukisan yang menggambarkan dua orang manusia sedang posisi jongkok dalam dua posisi berlawanan (Minggu, 22/06/2025) [Husain/Magang BP2M]

    Selain penampilan dari berbagai band seperti The Sunner, Immortal, Underpressure, dan Grissnes Culture, Pekakota Institute menampilkan lukisan-lukisan yang menyambut pengunjung dalam balutan instalasi lorong. Salah satu pengunjung dalam acara ini, Ardi, mengungkapkan pengalamannya yang ia dapatkan ketika mengunjungi acara Purwarupa Ditampart: Meruang. “Hari ini aku bisa tahu beberapa karya yang sudah dipajang,” tutur Ardi.

    Terdapat instalasi pameran lukisan yang menyambut pengunjung dalam balutan lorong (Minggu, 22/06/2025) [Husein/Magang BP2M]
    Terdapat pameran lukisan yang menciptakan ruang pemahaman karya seni bagi pengunjung yang memasukinya (Minggu, 22/06/2025) [Husain/Magang BP2M]
    Terdapat juga berbagai tenant makanan di acara Ditampart: Meruang, salah satunya adalah Daksa Yini yang menyediakan kebab dan tacos. (Minggu, 22/06/2025) [Husein/Magang BP2M]
    Terdapat juga berbagai tenant makanan di acara Ditampart: Meruang, salah satunya adalah Daksa Yini yang menyediakan kebab dan tacos (Minggu, 22/06/2025) [Husain/Magang BP2M]
    Stand Pop Market Sketch Booth di Purwarupa Ditampart: Meruang yang menjadi sarana ekspresi diri (Minggu, 22/06/2025) [Lidwina/BP2M]
    Stand Pop Market Sketch Booth Purwarupa Ditampart: Meruang yang menjadi sarana ekspresi diri mahasiswa seni rupa (Minggu, 22/06/2025) [Lidwina/BP2M]

    Dyas Afiantoro, Head of Project Purwarupa Ditampart: Meruang, juga turut menyatakan harapan terkait diselenggarakannya acara ini secara khusus kepada kawan-kawan di Semarang untuk membuka pandangannya terkait ruang publik yang inklusif. Meskipun kini di Semarang, ruang itu cukup terbatas. 

    “Sayangnya, kita cukup kesusahan cari ruang untuk berkesenian ataupun berkegiatan. Jadi hal itu jangan menjadi sebuah alasan, tapi justru kita bisa ciptakan ruang-ruang (ruang publik yang inklusif) kita sendiri,” tutupnya. 

    Reporter: Haidar Ali (Magang BP2M), Husain Akmal (Magang BP2M)

    Penulis: Haidar Ali (Magang BP2M), Husain Akmal (Magang BP2M), Retno Setiyowati (Magang BP2M)

    Editor: Lidwina Nathania

  • Aksi Solidaritas Digelar, Tuntut Pembebasan Mahasiswa yang Berstatus “Tahanan Kota”

    Aksi Solidaritas Digelar, Tuntut Pembebasan Mahasiswa yang Berstatus “Tahanan Kota”

    Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar aksi solidaritas di Simpang Tujuh Unnes. Aksi ini bertujuan untuk membangun kesadaran mahasiswa dengan menandatangani petisi bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”. Mereka juga menuntut pembebasan ketiga mahasiswa Unnes yang kini berstatus “tahanan kota” untuk nantinya menjadi dibebaskan secara penuh. Doa bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap mahasiswa yang ditahan seusai Aksi Hari Buruh 2025, juga dipanjatkan dalam seruan ini. Aksi yang diinisiasi oleh Solidaritas Massa Aksi May Day (SOMASI) berlangsung dari pukul 17.29 hingga 18.15 WIB pada Kamis, (19/06/2025).

    Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) memegang spanduk yang bertulisan “Bebaskan Kawan Kami” di Simpang Tujuh Unnes. (Kamis, 19/07/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) memegang spanduk yang bertulisan “Bebaskan Kawan Kami” di Simpang Tujuh Unnes. (Kamis, 19/07/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Sebuah spanduk terbentang di Taman Simpang Tujuh bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”. (Kamis, 19/07/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Sebuah spanduk terbentang di Taman Simpang Tujuh Unnes bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”. (Kamis, 19/07/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Salah satu massa aksi sedang menandatangani petisi sebagai wujud solidaritas bagi ketiga Mahasiswa Unnes yang kini berstatus “tahanan kota”. (Kamis, 19/07/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Seorang mahasiswa sedang menandatangani petisi sebagai wujud solidaritas bagi ketiga Mahasiswa Unnes yang kini berstatus “tahanan kota”. (Kamis, 19/07/2025) [Sultan/Magang BP2M]

    Salah satu massa aksi, Kuat Nur Siam yang merupakan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unnes menyatakan bahwa terdapat angin segar terkait beberapa mahasiswa yang ditahan. Hal ini dikarenakan adanya perubahan status dari tersangka menjadi tahanan kota. “Ada angin segar hari ini, diturunkan status (mahasiswanya) sebagai tahanan daripada polisi” tuturnya.

    Selembar spanduk yang tergantung di jembatan sekitar Simpang Tujuh Unnes bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”. (Kamis, 19/07/2025) [Lidwina/BP2M]
    Selembar spanduk yang tergantung di jembatan sekitar Simpang Tujuh Unnes bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”. (Kamis, 19/07/2025) [Lidwina/BP2M]
    Seorang perempuan dalam aksi turut serta menandatangani petisi yang dibuat oleh SOMASI sebagai wujud solidaritas. (Kamis,19/07/25) [Sultan/Magang BP2M]
    Seorang mahasiswi dalam aksi turut serta menandatangani petisi yang dibuat oleh SOMASI sebagai wujud solidaritas. (Kamis,19/07/25) [Sultan/Magang BP2M]
    Massa aksi berdiri bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap kawan mereka yang nantinya tetap akan menjalani proses hukum. (Kamis,19/07/25) [Adiel/Magang BP2M]
    Massa aksi berdiri bersama sebagai bentuk solidaritas terhadap kawan mereka yang nantinya tetap akan menjalani proses hukum. (Kamis,19/07/25) [Adiel/Magang BP2M]

    Faiz, salah satu mahasiswa yang mengikuti aksi solidaritas menuturkan, “Harapan kita aksi ini bisa menjadi dukungan bagi mereka, sekaligus untuk dipertimbangkan di peradilan nantinya, agar kawan-kawan bisa dibebaskan.”

    Penulis dan reporter: Sultan (magang BP2M), Husein (magang BP2M), Adiel (magang BP2M)

    Editor: Lidwina (BP2M Unnes)

  • Jejak Aksi Pelajar dan Mahasiswa Papua Serukan Keadilan Korban Kekerasan Aparat 

    Jejak Aksi Pelajar dan Mahasiswa Papua Serukan Keadilan Korban Kekerasan Aparat 

    Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Semarang bersama Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Papua Semarang menggelar aksi untuk menuntut keadilan bagi korban kekerasan aparat keamanan negara. Seruan aksi diisi mulai dari orasi, puisi, hingga nyanyian yang turut menjadi semangat bagi para massa aksi pada Rabu, (28/05/2025). Aksi ini dilakukan dengan long march sepanjang kawasan Pleburan hingga Simpang Lima. Tepat pada pukul 10.00 WIB hingga 12.00 WIB, massa aksi yang berjumlah sekitar 50 orang berjalan sambil membawa poster bertuliskan poin tuntutan. Selama long march dilakukan, beberapa massa aksi bergantian menyampaikan keresahannya terhadap kondisi di Papua. 

    Koordinator lapangan aksi, Melky tengah berorasi menyampaikan kekecewaannya terhadap kekerasan yang dilakukan oleh aparat keamanan negara di Papua. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Koordinator lapangan aksi, Melky tengah berorasi menyampaikan kekecewaannya terhadap kekerasan di Papua yang dilakukan oleh aparat keamanan. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Seorang massa aksi membagikan lembar kajian di halte transportasi publik yang memuat tentang kondisi di Papua terkini. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Seorang massa aksi membagikan lembar kajian di halte transportasi publik yang memuat tentang kondisi di Papua terkini. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Sekelompok massa aksi melakukan long march sambil mengangkat poster tuntutannya di sekitar Simpang Lima, Kota Semarang. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Sekelompok massa aksi melakukan long march sambil mengangkat poster tuntutannya di sekitar Simpang Lima, Kota Semarang. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]

    Simon, salah satu massa aksi mengatakan, “Kami datang ke sini untuk menyuarakan aspirasi terkait kondisi orang tua kami di sana.Tempat operasi mereka dimatikan jaringannya, kadang untuk mediasi dibatasi bahkan dihapus.”

    Selaras dengan yang dituturkan oleh Simon, Maria menyampaikan alasannya bersolidaritas, “Alasan saya datang ke aksi ini karena situasi Papua sekarang sedang urgent. Hari ini masih ada bom di Puncak Jaya. Bom-nya dibuang ke dekat warga.”

    Seorang massa aksi membawa posternya yang bertuliskan “Justice For Tobias Siak”. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Seorang massa aksi membawa posternya yang bertuliskan “Justice For Tobias Siak”. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Seorang massa aksi membawa poster bertuliskan “Hentikan kekerasan militer di seluruh wilayah Papua” di belakang mobil komando. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Seorang massa aksi membawa poster bertuliskan “Hentikan kekerasan militer di seluruh wilayah Papua”. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Seorang perempuan membacakan puisi tentang tanah dan perjuangan masyarakat Papua. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Seorang perempuan membacakan puisi tentang tanah dan perjuangan masyarakat Papua. (Rabu, 28/05/2025) [Lidwina/BP2M]

    Reporter dan penulis: Lidwina

    Editor : Anastasia Retno

  • Bingkai Aksi Seruan Doa Pembebasan bagi Mahasiswa Unnes yang Ditahan

    Bingkai Aksi Seruan Doa Pembebasan bagi Mahasiswa Unnes yang Ditahan

    Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) menggelar aksi dan doa bersama di Simpang Tujuh. Mereka menyampaikan keresahan, seruan pembebasan, dan diakhiri dengan perenungan terhadap kawannya yang ditahan. Aksi ini merupakan bentuk solidaritas guna menuntut kejelasan dari pihak Unnes dalam menyelesaikan kasus ini. Solidaritas dilakukan oleh sesama mahasiswa Unnes dan peserta aksi lain, yang berlangsung dari pukul 16.30 WIB hingga 17.35 WIB pada Kamis, (22/05/2025).

    Mahasiswa Unnes duduk melingkar untuk menyampaikan keresahan mereka terhadap situasi demokrasi akhir-akhir ini. (Kamis, 22/05/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Mahasiswa Unnes duduk melingkar untuk menyampaikan keresahan mereka terhadap situasi demokrasi akhir-akhir ini. (Kamis, 22/05/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Salah satu kertas yang bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami” bersama dengan jas almamater Unnes tersusun saat aksi berlangsung. (Kamis, 22/04/2025) [Lidwina/BP2M]
    Salah satu kertas yang bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami” bersama dengan jas almamater Unnes tersusun saat aksi berlangsung. (Kamis, 22/04/2025) [Lidwina/BP2M]
    Sepotong spanduk terbentang di Taman Simpang Tujuh bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”. (Kamis, 22/05/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Sepotong spanduk terbentang di Taman Simpang Tujuh bertuliskan “Bebaskan Kawan Kami”. (Kamis, 22/05/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Selembar kertas bertuliskan “Stop Kriminalisasi Aktivis” sebagai bentuk tuntutan terhadap mahasiswa yang ditahan. (Kamis, 22/05/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Selembar kertas bertuliskan “Stop Kriminalisasi Aktivis” sebagai bentuk tuntutan terhadap mahasiswa yang ditahan. (Kamis, 22/05/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Sebuah spanduk yang tergantung di jembatan sekitar Simpang Tujuh Unnes bertuliskan “All Eyes On Semarang”. (Kamis, 22/05/2025) [Sultan/Magang BP2M]
    Sebuah spanduk yang tergantung di jembatan sekitar Simpang Tujuh Unnes bertuliskan “All Eyes On Semarang”. (Kamis, 22/05/2025) [Sultan/Magang BP2M]

    Fajar, salah satu peserta aksi yang berasal dari Jakarta mengatakan bahwa hal yang mendorong dirinya datang mengikuti aksi ini yaitu sebagai bentuk solidaritas terhadap tiga mahasiswa Unnes yang masih ditahan.

    Properti aksi berupa jas almamater melambangkan tiga mahasiswa yang ditahan, kertas seruan, dan pengeras suara menjadi simbol suara mahasiswa yang perlu didengar. (Kamis, 22/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Properti aksi berupa jas almamater melambangkan tiga mahasiswa yang ditahan, kertas seruan, dan pengeras suara menjadi simbol suara mahasiswa yang perlu didengar. (Kamis, 22/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Para mahasiswa tengah mengepalkan tangan dalam aksi solidaritas terhadap kawan mereka yang sedang ditahan. (Kamis, 22/05/2025) [Lidwina/BP2M]
    Para mahasiswa tengah mengepalkan tangan dalam aksi solidaritas terhadap kawan mereka yang sedang ditahan. (Kamis, 22/05/2025) [Lidwina/BP2M]

    Seusai aksi, Fajar meniupkan harapannya, ”Harapanku, aku bisa berkontribusi dalam mengawal atau bersolidaritas terhadap isu ini.”

    Reporter: Sultan (Magang BP2M), Lidwina

    Penulis: Sultan (Magang BP2M)

    Editor: Lidwina