Foto Esai Jepret

Potret Pameran ARTBILITY 6, Mempertanyakan Eksistensi Diri Melalui Karya Seni

Pembukaan Perdana Acara Pameran Seni Bertajuk ARTBILITY 6 yang Mengusung Tema “Before I Disappear” pada Rabu (11/2/2026) [BP2M/Haidar Ali]
Pembukaan Perdana Acara Pameran Seni Bertajuk ARTBILITY 6 yang Mengusung Tema “Before I Disappear” pada Rabu (11/2/2026) [BP2M/Haidar Ali]

Pameran seni kerap menjadi ruang pertemuan antara karya, pencipta, dan penikmatnya. Dalam ARTBILITY 6, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Seni Rupa dan Desain menghadirkan ruang tersebut sebagai refleksi tentang keberadaan, ingatan, dan kemungkinan lenyapnya manusia dari ruang dan waktu. Mengusung tema Before I Disappear, pameran yang berlangsung pada 11–15 Februari 2026 ini dibuka pukul 10.00 WIB dan menampilkan 60 karya, terdiri atas 38 lukisan, 19 karya seni digital, serta dua instalasi.

Penampilan seni pertunjukan bertajuk Before I’m Gone menjadi pembuka pameran ARTBILITY 6, Rabu (11/2/2026) [BP2M/Haidar Ali]

Dengan suasana hening dan simbolis, para performer menghadirkan gerak perlahan yang merepresentasikan proses kepergian. Setiap langkah dan gestur menyiratkan jejak yang tertinggal sebagai penanda bahwa seseorang pernah hadir.

Lilin terbesar diserahkan kepada Ketua UKM Seni Rupa dan Desain Retno Sekar Kinasih dan Ketua Pelaksana Dinarszade Aqilla, lalu ditiup bersama sebagai simbol peresmian ARTBILITY 6, Rabu (11/2/2026) [BP2M/Haidar Ali]
“Kita Tak Tahu” karya Wanto (2026), Rabu (11/2/2026) [BP2M/Bilqis Kamila]

Secara visual, instalasi “Kita Tak Tahu” menampilkan struktur berbentuk silang dari balok karton berlapis serat alami yang memanjang ke berbagai arah, menghadirkan kesan gerak tanpa tujuan pasti. Panitia penyelenggara, Mehdi dari FBS, menjelaskan bahwa karya ini merefleksikan ketidakpastian arah setelah seseorang menghilang. Lebih dari sekadar bentuk, instalasi ini menyuarakan kegelisahan manusia terhadap nasib dan tujuan yang belum pernah kita ketahui.

“Crystallized Before Absence” karya Navyinz (2026), Rabu (11/2/2026) [BP2M/Rayhan Nova]

Lukisan menampilkan sosok perempuan dengan tatapan tajam dan elemen kristal di sekitarnya. Dominasi warna hitam dan putih merefleksikan kecemasan eksistensial serta proses pembekuan emosi sebelum kehilangan benar-benar terjadi.

“Yang Tinggal” karya Athifa Dihyan Calysta (2026), Rabu (11/2/2026) [BP2M/Rayhan Nova]

Lukisan ini dipenuhi warna gelap dengan elemen jam di sekeliling figur perempuan berwajah datar. Visual tersebut merepresentasikan penyesalan yang berlarut-larut hingga perlahan mengikis ingatan dan identitas diri.

“Buah Ada yang Tersisa” Karya Naira Shetra Al Fawwaz (2026), Rabu (11/2/2026). [BP2M/Bilqis Kamila]

Melalui karya ini, seniman ingin menunjukkan bahwa meskipun seseorang berada di titik terendahnya, masih ada “buah” atau sisa harapan yang tersisa. Sosok perempuan dalam lukisan bisa dimaknai sebagai simbol imajinasi dan semangat yang membuat sang seniman tetap bertahan. Karya ini mengajak kita berpikir tentang arti keberadaan dan jejak yang kita tinggalkan, bahkan ketika suatu saat kita sudah tidak ada.

“Forget-Me-Not” karya Qilla (2026), Rabu (11/2/2026) [BP2M/Bilqis Kamila]

Fokus dari karya ini adalah Bunga Forget-Me-Not (bunga biru pada ilustrasi) yang menjadi simbol untuk mengenang para prajurit yang gugur dalam peperangan. Meski jasadnya sudah tidak dapat dikenali lagi, ia tetap diingat melalui tanda dan usaha yang ditinggalkan. Datangnya pagi menandakan bahwa hari baru akan terus berlalu, tetapi kenangan terhadap dirinya tetap hidup. Dengan begitu, karya ini menyampaikan harapan agar seseorang tetap dikenang meskipun jiwanya telah tiada.

Pengunjung melihat serta mengambil foto dari salah satu karya pameran ARTBILITY 6, Rabu (11/2/2026) [BP2M/Rayhan Nova]
Seorang panitia sedang menjelaskan latar penciptaan dan makna karya membantu pengunjung memahami pesan yang ingin disampaikan seniman, Rabu (11/2/2026)
Harapan para pengunjung Pameran ARTBILITY 6 kepada diri mereka yang ditulis melalui secarik kertas dan ditempelkan pada pita, Rabu (11/2/2026)

Di akhir pameran, pengunjung diajak meninggalkan harapan untuk diri mereka sendiri. Kertas-kertas kecil yang tergantung menjadi penutup reflektif, menandai bahwa setiap orang memiliki jejak yang ingin ditinggalkan sebelum akhirnya menghilang.

Penulis dan reporter: Haidar ali, Bilqis kamila, Rayhan nova

Editor: Puji Listari

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *