Beranda Berita Kabar Kilas

Mengenang Tragedi Robohnya Plafon, Ruwat Rawat PGSD Kembali Digelar 

Mahasiswa Unnes sebagai narator drama panggung terbuka Ruwat Rawat PGSD pada, (23/02/2026) [Muhammad Rayhan Nova/Magang BP2M]
Mahasiswa Unnes sebagai narator drama panggung terbuka Ruwat Rawat PGSD pada, (23/02/2026) [Muhammad Rayhan Nova/Magang BP2M]

Aliansi mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unnes) Fakultas Ilmu Pendidikan dan Psikologi (FIPP) Program Studi (Prodi) Pendidikan Sekolah dasar (PGSD) bekerja sama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM), BEM FIPP, serta Himpunan Mahasiswa (HIMA) PGSD menggelar aksi damai bertajuk “Ruwat Rawat PGSD” pada pukul 17:15 WIB, Senin, (23/02/2026) di lapangan PGSD Ngaliyan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Aksi tersebut ditujukan untuk mengenang tragedi robohnya plafon pada salah satu ruangan di kampus PGSD Ngaliyan yang terjadi pada Kamis, (16/2/2023) silam. 

Selain itu, aksi ini juga sebagai bentuk protes atas dugaan pemindahan seluruh aktivitas akademik ke kampus pusat Unnes di Kecamatan Gunungpati. Afriano, Ketua HIMA PGSD menilai terdapat sejumlah hal yang perlu dipertimbangkan sebelum kebijakan tersebut direalisasikan.

Ia mengkhawatirkan budaya akademik dan kegiatan kemahasiswaan PGSD yang telah terbentuk di Ngaliyan, seperti penggunaan seragam putih hitam dan berdasi setiap hari Senin serta pelaksanaan pelatihan pramuka, tidak sepenuhnya dapat terakomodasi apabila dipindahkan ke kampus pusat. Selain itu, ia juga khawatir Kampus Gunungpati tidak dapat mencukupi jumlah mahasiswa PGSD yang dalam satu angkatan mencapai 500 mahasiswa. 

“Misal dipindah ke atas (Gunungpati), apakah budaya-budaya ini yang sudah biasa dilakukan di sini apakah sesuai dengan budaya yang sudah ada di sana,” katanya. 

Sementara itu, ketua BEM KM UNNES, Septia Linasari, turut menyayangkan dugaan pemindahan tersebut. Menurutnya, masih banyak aspek yang perlu dikaji secara komprehensif, termasuk perbedaan fasilitas antara Kampus Ngaliyan dan Gunungpati. 

“Fasilitas yang ada di FIPP itu belum memadai untuk teman-teman PGSD, disini (Ngaliyan) ada lapangan bola, voli dan basket.” ujarnya.

Ia mengatakan telah berdialog dengan Rektor terkait kekhawatiran mahasiswa PGSD mengenai fasilitas. Tanggapan Rektor mengenai persoalan tersebut akan mengupayakan solusinya dengan memaksimalkan pembangunan Gedung FIPP untuk menunjang kebutuhan fasilitas PGSD.

Rahul Diva, partisipan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) meyampaikan harapannya agar aspirasi para mahasiswa PGSD didengar oleh pihak kampus.

“Pihak birokrat kampus seharusnya turun dan suara-suara yang disampaikan oleh anak-anak PGSD ini segera terlaksana,” harap Dipa. 

Reporter: Sultan Ulil Albab, Haidar Ali, Vivin Santia, Yuwen Nurkhalifah (Magang BP2M), Muhammad Rayhan Nova (Magang BP2M)

Penulis: Hadar Ali, Vivin Santia, Yuwen Nurkhalifah (Magang BP2M), Muhammad Rayhan Nova (Magang BP2M) 

Editor: Retno Setiyowati 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *