Oleh
Dewi Maghfirah
Coba
kalian amati karya Affandi, ia menang nama,” ujar Sukirno K.R pelukis asal
Temanggung.
Beberapa karya yang dibuat oleh Ki Pingitan/Dewi
MULANYA,
ketika melintasi jalan raya Ambarawa-Temanggung, tim Kompas Mahasiswa secara
tak sengaja disuguhi lukisan dengan berbagai goresan warna dalam bentuk bunga
yang bervariasi. Lukisan-lukisan itu tertata rapi di depan rumah kecil berbilik
bambu. Di teras depan rumah sederhana itu terdapat banyak tumpukan kayu. Kami
pun disambut dengan papan bertuliskan “Sukirno KR, Pelukis Pingitan”.
Di sekitar rumah kecil itu taktampak
satu pun rumah penduduk. Hanya terlihat sebuah rumah makan yang berdiri di
seberang jalan raya rumah sederhana itu. Tiga kali salam tak ada respon dari
penghuni rumah. Kemudian seorang lelaki dengan dua buah tongkat kayu yang diapit
tangan kanan dan kiri mendekati kami yang masih berdiri di depan pintu. Dengan
tertatih-tatih, lelaki itu menyegerakan langkah dari ruang paling belakang.
Jidatnya mengernyit, mengisyaratkan sebuah keheranan. Ia pun mempersilakan kami
masuk ke dalam rumahnya.
Laki-laki yang rambutnya dikuncir
itu bernama Sukirno. Awalnya Kirno hanya bercerita sepotong-potong.
Kalimat-kalimat yang diutarakan pun pendek. Perbincangan pun mulai mencair
ketika ia bercerita mengenai lukisan becak yang lengkap dengan pengemudinya dan
lukisan absurd bergambar muka yang telah dirampungkannya.
Kirno mulai memutar memori kehidupan masa lampaunya dengan lukisan.
’’Lukisan becak tersebut akan
selalu menjadi kenangan, ” tutur Kirno. Karya-karya Kirno dapat menjadi bukti
bahwa sebenarnya pelukis Indonesia tak kalah dengan pelukis luar negeri,
semisal Rionaldo Da Vinci. Sebuah laku produktif dari para pelukis Indonesia
seperti Sukirno
patut diapresiasi. Nama Indonesia
harum di kancah internasional tak kurang berkat perjuangan mereka, paraseniman
yang menggoreskan karya-karyanya di atas kanvas. Namun, sayangnya profesi
pelukis tak banyak dilirik di negeri ini. Beberapa pelukis pun biasanya enggan
mengaku aktivitas seninya disebut sebagai profesi pelukis. Sukirno yang akrab
dipanggil Ki Pingitan mengungkapkan, melukis merupakan panggilan jiwa. Dengan
melukis, ia dapat merefleksikan diri atas apa yang pernah dialaminya. Melukis
juga menjadi bagian dari imajinasi liarnya. Di dinding gedek rumah Kirno
terpajang sekitar limapuluh lukisan yang di figura rapi. Mulai lukisan pasar
(bunga, tanaman, pemandangan alam, dll) hingga lukisan abstrak. Apabila
melintasi jalan raya Ambarawa-Temanggung, kita dapat menjumpai beberapa
lukisannya yang dipamerkan di dinding gedek bagian luar rumah. Ia mengaku
sengaja memamerkan lukisannya untuk menarik perhatian pengendara yang melintas
di depan rumahnya.
“Paling-paling kecipratan air
hujan. Dalam kurun waktu yang tak lama tidak menjadikan catnya luntur,” terang
Kirno. Dari sekian banyak karya yang pernah dibuatnya, setidaknya ada satu dua
yang laku terjual. Belum tentu seminggu sekali laku satu, sebulan pun belum
tentu ada satu lukisan yang terjual. Namun, ia tetap menggoreskan kuas selama
nyawa masih digenggamnya. “Saya tak pernah berpikir bahwa saya akan mati
kelaparan,” ujar Ki Pingitan.
Beberapa rekam jejak Kirno
tergambarkan pada lukisan yang ia buat. Lukisan pemuda dengan topi hijau ABRI
berambut gondrong tersisir rapi, kumis, dan jenggot tergerai lebat begitu
menawan. Di pojok kiri bawah bingkai terdapat coretan cat hitam bertulis
Berjuang Menjunjung Tinggi Nama Bangsa Dan Negara.“Itu
gambaran saya sewaktu masih muda,” ungkap Kirno sembari tertawa kecil.“Gagah
bukan?”lanjutnya.
Ki Pingitan dan galerinya/Dewi
Sebelum menekuni dunia seni lukis,
berbagai profesi pernah dilakukan Kirno. Dari boro (baca=buruh) di toko, jualan
bakso, abon, roti, hingga yang paling lama ia geluti menjadi tukang becak. Masa
mudanya ia habiskan di daerah perantauan. Terakhir sebelum kembali ke
Temanggung, ia merantau di Solo. Di kota itulah ia belajar melukis otodidak. 
Mulanya ia belajar dari Sudibyo,
guru lukisnya sewaktu di Solo. Ia mengaku, tak ada jiwa seni yang mengalir dari
keluarga besar Kirno. Sudah ia runut siapa sekiranya yang memiliki jiwa seni,
tetapi tak ditemukannya. Hanya saja, memang dahulu ayahnya menjadi pande
(pembuat
 benda seperti golok, pisau, dll dari besi).Kesempatan
untuk ikut serta dalam pameran tak pernah ia abaikan. Entah acara kecil atau
besar. Bagi Kirno, dapat memajang goresan kuasnya sehingga dapat dilihat orang
lain sudah menjadi sebuah kebanggaan. Ia bercerita, sempat bertandang ke Museum
Affandi. Namun, ia tak ingat persis waktunya. Di museum itu Kirno bertemu
Affandi, dua anak manusia itu lantas bercerita panjang lebar.
Sukirno bercerita tentang jalan
berlikunya dan panggilan jiwa atas apa yang telah dan akan ia lukis. Sontak,
Affandi sejenak diam. Tetes-tetes air pun mengalir dari mata Affandi. Affandi
mencoba untuk bercerita hal yang serupa. Nama besar Affandi yang melambung
tinggi sampai saat ini tidak begitu saja didapatnya. Jalan terjal pun dia alami
kala tak setenar ini. Affandi dan Sukirno sama-sama berasal dari wong cilik.
Namun, Sukirno tak bisa
melambungkan namanya setara dengan Affandi. Sukirno yakin kemampuan nyata jauh
lebih bagus dari Affandi. Tak seperti Affandi dengan gaya abstraksinya. Kirno
menemukan gayanya sendiri, gaya berasisme. “Menjaga pendaringan agar tidak jempalik,”
ujar Kirno sembari tertawa lepas. Ber asisme yang ia maksudkan adalah ia
melukis sebagai bagian dari seni hidup. Sedangkan menjual karya-karyanya
hanyalah untuk menjaga dapur agar tetap ngebul karena menjadi
pelukis bukanlah profesi utamanya.
Setiap pelukis mempunyai gaya yang
berbeda. Mempunyai cara-cara yang berbeda untuk menggoreskan kuas. “Saya bisa
melukis serupa dengan lukisan Affandi,” ujar Kirno. Namun, tetap ‘nama’ Affandi
yang terkenal. ”Di akhir ceritanya Kirno menjelaskan tidak perlu menjiplak
lukisan orang lain. Yakin dengan kemampuan sendiri jauh lebih membanggakan.