http://onelittlevictoryblog.com/wp-content/uploads/2014/08/Healthy-Life.jpg
Oleh
Nur Rahma Nisrina Haq*
Kabar
mengenai gangguan jiwa yang dialami oleh artis Marshanda tampak ramai
diberitakan media. Dimulai dari unggahan video ‘depresi’nya hingga berujung
dengan asumsi bahwa ia mengalami suatu gangguan kejiwaan yang bernama bipolar.
Gangguan jiwa lainnya juga dialami oleh aktor Robin Williams yang mengakibatkan
mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri.
Setelah
kedua kasus tersebut merebak, sedikit banyak, masyarakat Indonesia mulai
menyadari penyakit jiwa yang jarang terdengar dan pentingnya menyadari
kesehatan kejiwaan. Lalu bagaimana dengan mahasiswa? Apakah gelar agent of change atau generasi perubahan
bisa menjadi jaminan bahwa mahasiswa tidak terjangkit penyakit jiwa apa pun?
Menurut
Kamus Besar Bahasa Indonesia, salah satu pengertian jiwa adalah roh manusia (yang ada di dalam tubuh dan menyebabkan
seseorang hidup); nyawa sedangkan raga adalah
jiwa dan badan. Oleh karena itu, kesehatan jiwa sebenarnya menjadi suatu
komponen yang termasuk dalam kesehatan raga. Itulah sebabnya mengapa di sekolah
dasar, menengah dan lanjut, terdapat mata pelajaran olah raga.
Sayangnya,
pelajaran olah raga seringkali justru mengutamakan kesehatan fisik dan kurang
memperhatikan aspek kesehatan batin. Pepatah Orandum Est Mens Sana In Corpora Sano menyiratkan pesan untuk berdoalah
engkau, agar pada jiwa yang sehat terdapat pula tubuh yang sehat. Ini artinya, meskipun
kita memiliki tubuh yang sehat, belum tentu sama sehatnya dengan jiwa yang
berada dalam tubuh apabila tidak diiringi dengan doa. Sehingga ada
kesinambungan dalam pepatah tersebut supaya manusia menjaga kesehatan fisik,
jiwa, dan spiritualnya.
Euforia Mahasiswa
Saat
menjadi mahasiswa (baru), kebanyakan visi dan misi yang dicanangkan adalah
bagaimana langkah meraih kesuksesan dalam akademik, meskipun belum terbayang
bagaimana menjalaninya. Ketika
rutinitas
yang ‘sebenarnya’ dimulai, sebagian mahasiswa justru melupakan kesadaran untuk
menjaga kesehatan dirinya masing-masing dengan alasan tidak punya waktu. Mulai
dari makan yang tidak teratur, jarang berolahraga, atau begadang adalah makanan
harian mahasiswa sehari-hari. Apalagi di universitas tidak ada kewajiban untuk
mengikuti senam setiap Sabtu pagi atau kegiatan kerohanian yang sifatnya berkelanjutan.
Sehingga aspek yang dijaga oleh mahasiswa adalah kesehatan fisik saja,
semata-mata agar tidak mengganggu proses perkuliahan.
Sebenarnya,
terdapat beberapa cara yang dapat ditempuh mahasiswa agar sehat secara lahir
dan batin. Salah satunya, dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang,
berolahraga secara teratur, tidak begadang, merokok, dan minum-minuman keras.
Mahasiswa juga bisa mengikuti kegiatan keagamaan untuk mendapat kesehatan
spiritual.
Jika
kedua aspek tersebut dapat berjalan seimbang, maka beban mahasiswa untuk
terkena penyakit jiwa akan berkurang. Namun tidak ada salahnya jika sesekali
mahasiswa memeriksakan diri ke psikiater untuk memastikan kesehatan jiwanya.
Jika biaya yang menjadi batu sandungan, maka inilah peran yang dapat diemban
oleh mahasiswa dan dosen Psikologi untuk membantu mahasiswa dalam memahami
kesehatan jiwa mereka.
*Mahasiswa
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia 2012