Ilustrasi Pelaksanaan Wisuda I Unnes19 Maret 2019. [BP2M/Amilia]

Pelaksanaan wisuda periode I Universitas Negeri Semarang (Unnes) pada Selasa (19/03) menggunakan sistem yang berbeda dari sebelumnya.  Sistem baru berupa pembatasan kuota orang tua yang dapat masuk ke auditorium, pemindahan kucir toga yang berbeda dari tahun sebelumnya, serta jabat tangan yang tidak lagi dengan Rektor Unnes dipertanyakan wisudawan dan orang tuanya.

Ida, salah satu orang tua wisudawan  yang hadir  menyayangkan adanya pembatasan kuota masuk orang tua. Ida baru mengetahui pada hari pelaksanaan wisuda bahwa tidak semua orang tua bisa menyaksikan secara langsung prosesi wisuda putra-putrinya.

“Padahalkan acara resmi, orang tua sudah datang dari jauh. Biasanya di acara wisuda semua diberi undangan, ini kok cuma kertas untuk ambil snack,” tutur Ida. “Tadi ada yang memberitahu bahwa yang bisa masuk hanya yang itu (yang menerima undangan),” lanjutnya.

Sementara itu Ayu Kurnia, wisudawan  Prodi Pendidikan Biologi juga tidak mengetahui aturan baru tersebut. “Kalau untuk yang kehadiran orang tua yang boleh masuk itu cumlaude atau enggak saya kurang tahu, tapi saya lihat teman-teman saya yang mungkin kebetulan saya tanyain atau yang saya tahu nggak cumlaude itu orang tuanya nggak dapet undangan termasuk orang tua saya,” tutur Ayu.

Baca Juga : Mahasiswa Unnes Laporkan Rektor ke PTUN

Rohaeni, wisudawan jurusan Bahasa dan Sastra Inggris menyampaikan bahwa pemberitahuan  mengenai sistem pelaksanaan wisuda telah disampaikan saat gladi bersih, seperti pemindahan kucir toga yang dilakukan serentak, adanya slempang cumlaude, dan aturan bahwa tidak semua orangtua bisa masuk ke dalam auditorium.

“Kalau tidak semua orang tua bisa masuk itu sebenarnya sudah lama, deh. Tiga atau dua tahun lalu udah kayak gitu, cuma yang sekarang yang boleh masuk itu cuma orang tua yang cumlaude. Kalau tahun lalu itu cepet-cepetan, siapa cepet ya dia bisa masuk,” tuturnya.

Mengenai pemindahan kucir toga yang dilakukan serempak, Yolanya Endah Sukma wisudawan Pendidikan Akutansi berpendapat bahwa salah satu esensi dari wisuda terdapat pada prosesi pemindahan kucir toga oleh rektor.

“Cuma yang nggak aku sukai ini lo, yang kucirnya ini kenapa harus dipindah kita sendiri. Terus esensi dari wisuda kan biasanya kucir toga yang mindahin Rektor ya,” tutur Yolanya.

Upacara Wisuda Periode I Tahun 2019 di Gedung Audorium Unnes, Selasa (19/03). [Doc.Rara]

Respon Pejabat Unnes

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Abdurrahman saat ditemui pada  Rabu (20/03) membenarkan perubahan ketentuan tersebut. Abdurrahman menyampaikan bahwa periode wisuda kali ini, hanya orangtua yang anaknya lulus dengan predikat  cumlaude yang disilakan masuk ke dalam Auditorium.

“Jadi yang membedakan, cumlaude bisa di atas, yang lain tetap di luar. Nek mlebu kabeh yo sampai kapan nggak akan terjadi. Kecuali yang wisuda lima ratus,” imbuh Abdurrahman.

Sedangkan  untuk orang tua wisudawan yang lainnya bisa menyaksikan prosesi wisuda dari luar Auditorium dengan fasilitas teratak dan layar LCD.

Humas Unnes Muhamad Burhanudin menyampaikan, pemberitahuan terkait informasi dan ketentuan wisuda sudah diberitahukan saat gladi bersih, sehari sebelum pelaksanaan. “Pemberitahuan terkait informasi dan ketentuan wisuda sudah disampaikan  saat gladi wisuda,” ujar Burhan.  `

Burhanudin juga  membenarkan 5 poin dalam pesan yang beredar melalui whatsapp. Pesan tersebut diketahui berasal dari Sri Redjeki, Kepala Bagian Kemahasiswaan. Isinya menyatakan bahwa pelaksanaan wisuda tahun ini kucir toga tidak dipindah oleh rektor dan jabat tangan diwakili dekan serta wakil dekan masing-masing, adanya penertiban, pendisiplinan, dan pengefisienan wisuda, kuota masuk orang tua diperuntukkan bagi sebagian mahasiswa yang cumlaude, penyediaan tambahan tempat karena keterbatasan tempat di dalam auditorium, serta evaluasi yang selalu dilaksanakan setelah pelaksanaan wisuda.

Baca Juga : Data Akun Medsos Tidak Ditanggapi Serius

Sementara itu, pemindahan kucir toga yang dilakukan serentak oleh masing-masing wisudawan dan proses jabat tangan yang berlangsung berbeda dengan tahun sebelumnya telah dibenarkan Abdurrahman. Wisudawan yang lulus dengan predikat cumlaude akan berjabat tangan dengan rektor, sedangkan wisudawan lainnya akan berjabat tangan dengan dekan masing-masing.

“Mengingat banyaknya jumlah wisudawan dan proses yang memakan waktu sampai empat jam, sehingga tidak memungkinkan Rektor untuk menyalami satu per satu oleh karena itu hal ini dilakukan,” kata Abdurrahman.

Mengenai evaluasi setiap acara wisuda, termasuk wisuda kemarin dengan sedikit perubahan akan ada perbaikan kedepan oleh panitia.

“Komplain wisuda tadi akan dijadikan perbaikan ke depan oleh panitia wisuda,” jawab Burhan saat ditanya melalui whatsapp Selasa malam (19/03).

Pengalaman menjadi alasan utama perubahan metode wisuda periode kali ini menurut Abdurrahman. Minimnya kapasitas ruangan dan besarnya biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan wisuda menjadi pertimbangan. Revisi  terkait metode pelaksanaan wisuda sangat mudah berubah asal ada alasan yang logikanya benar.

Reporter : Amilia, Niamah, Aisyah, Rona

Editor     : Afsana & Siti Badriyah