[Ilustrasi/BP2M Riyo]

Oleh: Wiyar Ageng Mahanani

Senja telah pergi dan malam semakin larut. Sayup-sayup terdengar suara denging binatang malam kecil yang menyertai kepergian Kus, temanku yang baru saja ditembak mati. Nyawanya melayang sia-sia di tangan Meneer yang haus darah, sudah bukan hal baru lagi jika salah satu dari kami harus mengorbankan nyawanya untuk dijadikan sasaran latihan menembak sinyo Hans, putra semata wayang meneer. Orang itu telah membesarkan seorang pembunuh, sinyo Hans terus dilatih dengan keras agar kelak bisa menjadi komandan ulung tentara KNIL. Sementara kepala kami adalah sasaran menarik untuk dijadikan bahan latihan.

Aku teringat Kus seharian ini, kusandarkan kepalaku sejenak pada dinding bambu rumahku seraya menatap lentera yang berpijar kian redup, hatiku resah. Mungkin saja aku bisa mati kapan pun jika meneer meminta kepalaku. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. Aku beranjak menuju pintu depan untuk membukakan pintu.

“Har, aku tak bisa tenang,” ucap Wijil dengan raut wajah panik dan bercucuran keringat.

“Tenang dulu, masuklah,” aku mempersilakan Wijil masuk.

“Butuh berapa kepala lagi mereka Har? Aku tak bisa diam. Aku, kau, Istriku bahkan anakku bisa saja diminta kepalanya esok hari,”

“Mau bagaimana lagi, kabur pun kita akan di buru oleh para kompeni itu apalagi jika kita melarikan diri pasti akan ada korban lain juga yang harus mengikhlaskan kepalanya. Jembatan belum selesai dibangun, mungkin masih butuh tiga sampai empat kepala lagi. Pulanglah sekarang, istri dan anakmu bisa saja dalam bahaya jika kau berlama-lama di sini,”

Tanpa berpamitan Wijil bergegas pulang dengan langkah tergesa-gesa. Hatiku sebenarnya juga sama resahnya dengan Wijil, kendati demikian aku juga tak dapat memberikan solusi apapun untuk Wijil.

Esoknya, aku tak sengaja melihat meneer sedang berjalan-jalan di sekeliling kebun teh dengan seseorang. Tampaknya mereka sedang berbincang dengan cukup serius. Dari pakaian yang dikenakannya aku bisa menebak kalau ia adalah tentara Hindia Belanda. Mungkin itu adalah teman meneer saat di pelatihan dulu, pikirku. Rasa penasaran mendorongku untuk sedikit menyimak pembicaraan mereka, aku bersembunyi di balik sebatang pohon yang ada di belakang mereka.

“Kau sudah gila Dwight, kau membesarkan seorang pembunuh. Anakmu sendiri,” kata tentara itu di sela-sela percakapan mereka.

“Tentu saja tidak. Itu baik untuknya, lagipula semua warga sudah setuju untuk mengorbankan kepala agar bisa membangun jembatan. Anakku hanya membantu keinginan mereka. Lucu sekali, mereka pikir saat aku bilang rahasia untuk membangun jembatan yang kokoh adalah dengan kepala, padahal maksudku dengan ini. Otak mereka, dengan berpikir,” meneer menunjuk kepalanya sendiri sambil tersenyum kecut.

Tentu saja, aku juga percaya dengan perkataan meneer waktu itu. Kami telah tertipu, selama ini tidak ada kepala untuk membangun jembatan yang kokoh. Jembatan beton sudah cukup kuat bertahun-tahun tanpa harus ada kepala yang dikorbankan.
Aku bergegas pulang dan memberitahu beberapa warga lain, kami berkumpul di rumahku untuk menyusun rencana.

“Orang yang telah membunuh harus dibunuh!” Kata Wijil dengan penuh emosi.

“Kita tak bisa tinggal diam, aku akan ambil parang sekarang juga dan menuju rumah meneer!” Sahut Lis dan bergegas menuju rumahnya. Dengan sigap aku menahannya agar tidak terbawa emosi dan pergi begitu saja.

“Tenang semua, kita memerlukan rencana yang matang agar rencana kita berhasil!” Kata Waskita menenangkan.

Setelah kami berbincang beberapa lama akhirnya kami sepakat malam ini kami akan balas dendam.

Pertama-tama kami akan terlebih dahulu menyingkirkan sinyo Hans, karena sangat sulit untuk mencelakai meneer dengan penjagaannya yang ketat. Bahkan untuk menyentuh seujung rambutnya sekalipun, itu pasti akan sulit. Lagipula sinyo Hans adalah ancaman terbesar bagi para pribumi. Beberapa dari kami akan berjaga-jaga untuk melihat situasi.

Malam harinya kami memulai aksi dengan penuh keyakinan bahwa rencana akan berhasil. Kulihat meneer sedang duduk bersantai menikmati secangkir kopi panas di belakang rumahnya, aku dan lainnya sudah berada di posisi kami masing-masing. Lis dan aku bertugas untuk berjaga-jaga sambil melihat situasi. Tak lama kemudian meneer mulai menyadari keberadaan kami, aku sudah mulai panik.

“Siapa itu?” Tegur meneer saat melihat salah satu dari kami dibalik semak-semak di belakang rumahnya. Lis kemudian menampakkan dirinya dari persembunyian.

“Saya, meneer,” jawab Lis dengan wajah pucat pasi.

“Mau apa kamu? Malam-malam di sini?” tanya meneer dengan curiga.

“Bukan apa meneer, ayam saya hilang dan belum ketemu sejak tadi sore,” jawab Lis berbohong.

“Alah! Tak ada ayam di sini. Pulanglah!” usir meneer.

“Baik, Meneer” sahut Lis sambil mengangguk. Lis membalikkan badan dan berpura-pura pergi menjauh. Aku mulai bergerak dan menyusup masuk ke rumah Meneer, dengan langkah hati-hati sebisa mungkin derap langkahku tak terdengar siapapun.

Perlahan aku memasuki kamar sinyo Hans, anak itu sedang tertidur pulas saat aku memasuki kamarnya. Aku sudah tak dapat menahan emosi. Hatiku merasa sesak melihat wajah anak itu. Seketika ku kalungkan sebilah celurit di leher anak itu. Aku bersiap untuk memainkan belati yang kubawa di atas lehernya. Namun, tiba-tiba meneer datang.

“Berhenti atau kau akan mati sekarang juga!” ancam meneer dengan menodongkan pistol tepat mengarah ke kepalaku.

“Ampun, Meneer,” aku hanya bisa diam tak berkutik. Tubuhku gemetaran, seketika sebilah celurit terlepas dari genggamanku. Sinyo Hans terbangun karena keributan yang terjadi.

“Sial” gumamku.

Meneer menatapku dengan sangat tajam,”Bawa dia!” perintah meneer kepada pengawalnya.

Lalu meneer membalikkan badannya di depanku. Diriku hanya bisa melihat punggungnya dari belakang. Tanganku diikat kuat dan dijaga ketat oleh pengawal-pengawalnya. Kemudian aku dipaksa masuk ke sebuah ruangan kosong di salah satu sudut rumah.

“Siapa yang suruh kau?” Bentak meneer.

Aku hanya menggelengkan kepala sambil menunduk. Aku tak berani menatap langsung mata birunya, aku gemetaran. “Kalian berapa orang?” Tanyanya sekali lagi.

Aku terus saja diam dan tak sudi menjawab pertanyaanya. Tak lama kemudian Lis tertangkap juga. Tersisa dua orang lagi yang belum tertangkap, aku berharap mereka bisa menyelamatkan kami.

“Gantung mereka!” Perintah meneer pada para pengawalnya.

Lalu kami digantung dengan tali, bak kelelawar yang bertengger di dahan, kaki kami di atas dan kepala di bawah. Kami hanya bisa merintih, kepala kami mau pecah rasanya.

“Kenapa kalian tidak mau jawab hah? Kenapa kalian mau bunuh anak saya! Dimana teman kalian yang lain? Jawab!” tanya meneer seraya menunjuk ke arah Lis dan aku bergantian.

“Turunkan!!” Perintah meneer untuk menurunkan tali yang mengikat kakiku. Kepalaku sudah semakin dekat dengan lantai, aku tak kuat wajahku sudah memerah. Keringatku mulai mengalir deras.

“Saya bertanya sekali lagi. Dimana teman kalian bersembunyi?”

Waskita dan Wijil tak kunjung datang menyelamatkan kami. Aku sudah di ujung kematian, tapi bagaimanapun aku tak mau mereka tertangkap. Lagipula para kompeni itu tak seharusnya ada di sini, mereka patut untuk diserang. Biar apapun yang terjadi aku berharap Waskita dan Wijil juga bisa mengusir mereka, tanah ini tak layak mereka injak dan mereka siram dengan darah kami yang mati sia-sia. Tanah ini adalah milik kami para pribumi.

Aku tak akan menjawab satupun pertanyaan meneer yang akan membahayakan Wijil dan Waskita. Meneer mengambil sebilah parang karena emosinya memuncak, aku dan Lis tidak tau harus bagaimana. Nyawa kami terancam.

“Kami hanya berdua saja, Meneer” Jawab Lis dengan pelan, kulihat urat di lehernya dengan jelas.

Lis mendapat dua kali tamparan keras oleh meneer.

“Jawab yang benar! kurang ajar!!” meneer menendang wajah Lis dengan keras. Seketika Lis gelagapan tali yang menggantungnya berayun, wajahnya penuh memar.

“Kenapa kamu mau bunuh anak saya?” meneer bertanya padaku.

Aku tak mau menjawab pertanyaannya. Aku sudah sangat emosi, tanpa sadar akupun berteriak “Pembunuh!” ucapku.

“Sekali lagi kau tak menjawab pertanyaan saya. Kau kubunuh!”

“Tidak masalah! Anakmu harus mati!” kini aku sudah tidak peduli, aku sudah tak bisa melawan. Aku pasti mati, maka kuberanikan diriku untuk menjawab pertanyaannya.

“Turunkan dia! Lepaskan penahannya!”

Teriak meneer seraya memerintah pengawalnya dengan penuh emosi. Aku memejamkan mata dan menelan ludah, dalam hitungan detik tali yang menggantung kakiku mengendor. Aku melihat Wijil dan Waskita datang dengan sigapnya menebas leher meneer, aku puas. Sebelum akhirnya tubuhku menghempas ke lantai, dan kepalaku hancur, aku lega. Kus aku datang menyusul.

*meneer : Sebutan untuk tuan dalam Bahasa Belanda.
*sinyo : sebutan untuk tuan muda dalam Bahasa Belanda.

*Mahasiswa Bahasa Perancis Unnes 2019