Senja
Senja (BP2M Irkham)

DI sebuah senja, Nila
duduk di beranda ber­sama nenek. Menatap ke barat kepada ma­tahari sore.
Mengerling kemudian tertawa kepada sinar surya. Cahaya itu membalasnya dengan
sentuhan hangat yang menerpa keemasan di setengah tubuhnya. Rambut hitamnya
terlihat kemerahan. Lagi, ia melihat ke langit sambil menggigit-gigiti
punggung jari te­lunjuknya yang telah basah oleh air liurnya. Sampai-sampai
membeng­kak dan mati rasa. Tangan kiri-nya memukul-mukul nampan tua yang telah
berkarat. Tak ada teman sebayanya yang pernah bermain bersamanya. Nampan dan
kesepi­anlah temannya. Ia menyanyikan sebuah kumandang dengan bahasa yang aneh.
Tak satu pun orang bisa memaknainya. Lantunan yang syairnya tak pernah bisa ia
jelaskan pada orang lain bahwa itu suara hatinya.

Ia seorang yang dilalaikan ibu­nya. Ipah tak pernah memperhati­kannya.
Apalagi Ipah tahu bahwa Nila mengalami gangguan pada syaraf otaknya.
Perkembangan mental Nila berjalan tak normal. Ipah malu pada orang-orang di
sekitarnya. Ipah cemas dicap yang macam-macam. Ipah menjadi risih pada buah
hatinya sendiri. Sejak saat itu nenek yang merawatnya. Janda tua yang kesepian
itu telah menemukan seseorang yang me-nemaninya di usia uzur.
“Nanananonanona…,” nya-nyian yang tak jelas susunan ka­limatnya.
Tak jelas ia maksudkan apa.
“Prang..prang..prang..” puku­lan nampan itu memecah sepi.
Agaknya suara sumbang dan pukulan nampan Nila itu bagai sebuah
penanda bahwa saatnya ia akan mengisi perutnya. Ia tahu tak ada seorang pun
kecuali dirinya di rumah itu. Ia berjalan tertatih menuju dapur. Menyeret
langkah kakinya yang pengkor. Punggung telunjuknya kembali menjadi kor­ban rasa
laparnya. Ia gigiti hingga nampak menghitamkebiruan le­bam.
Di dapur.
Di meja makan.
Kembali ke ruang depan.
Ia tak menemukan sesuatu un­tuk mengganjal perut. Nila terayu
langkah kakinya menuju belakang rumah. Tak ia temui juga apa-apa. Hanya segelas
air teh basi tergeletak menganga. Menarik perhatian lalat mengitarinya. Satu,
dua, tiga teguk ia rengkuh minuman yang telah berasa agak aneh itu. Terkucur
deras melewati kerongkongannya yang kering.
Jika senja telah hadir maka itu waktunya nenek tiba. Nila pun
kembali mendapatkan kesempa­tannya bermanja dengan nenek. Saat senja pula Nila
menumpahkan kesahnya dalam pelukan nenek. Setelah malam agak matang Nenek akan
mengajaknya istirahat di ka­mar yang sempit dan berwajah re­mang. Dua manusia
itu berbaring bersama. Berebutan menghembus­kan nafas. Nenek merapikan kaki
Nila. Nenek tak akan berhenti menepuk-nepuk pahanya dengan lembut hingga ia
lemah dalam ti­durnya. Sesekali Nila mengigau memanggil-manggil seseorang.
Bukan nama Ipah, ibunya. Tapi nenek.
Kadang Nila tertawa sendiri tanpa alasan. Kadang bercakap tan­pa
ada lawan bicara. Memandangi langit di tengah terik. Memukul-mukul nampan yang
suaranya akan mengusik telinga. Bernyayi dengan bahasa yang tak bisa
dimengerti. Ia memandang sekelilingnya deng-an perhatian yang sederhana. Tak
pernah ada ruang dendam dalam hatinya ketika orang-orang yang memandangnya akan
menumpuk rasa jijik.
***
Nila tiba-tiba terjingkat dari tidurnya. Keringat dingin meleleh
dari keningnya. Nafasnya berhem­bus panjang pendek tak berirama. Ini malam
ketiga ia terbangun di tengah malam.
“Sssstt, tidurlah lagi. Nanti Nila dibawa hantu wewe.
Perkataan Nenek untuk menakut-nakutinya supaya kembali berbaring tidur.
Nila memandang nenek. Ia kembali berbaring. Mata sayunya menatap
atap yang terlindung ge­lap.
“Nila jangan bandel. Ayo ma­tanya ditutup, tidur lagi”
Ia mencoba tidur, menu­tup mata kembali. Sia-sia. Nila seperti
masih mengingat-ingat sesuatu yang dilihatnya di mimpi tadi.
“Nek, ‘aus. Iyah ‘aus, mimik”, ucapnya dengan logat yang
tak sempurna.
Nenek tahu maksud ucapan itu. Rambut putih nenek yang ter­burai
terpaksa diikat, mengikuti gerak tubuhnya berjalan beberapa langkah dalam
gelap. Menuang segelas air putih. Dengan peng­lihatan yang telah agak redup air
itu dijulurkan pada cucunya. Nila meraihnya dengan tangan kiri. Tangan kanannya
tak berfungsi wajar sebagaimana kiri sejak lahir. Hanya bisa mengepal dan melam­bai-lambai.
Setelah menenggak segelas air putih Nila seolah telah melepas sesuatu yang
membebani pikirannya. Ia lega.
Malam berikutnya Nila menga­lami hal yang sama. Ia ketakutan. Ia
terjingkat dari tidur. Didekap­nya lengan nenek erat-erat. Seakan tak rela jika
nenek beranjak dari sampingnya. Ia menangis tanpa sebab. Wanita tua itu
membujuk Nila agar berhenti menangis. Me­nawarinya air putih seperti biasa jika
ia terbangun. Tapi Nila tak mau kalau nenek bangun dan lepas dari tangannya.
Seolah ia tak ingin nenek pergi darinya.
***
Nila duduk di beranda rumah neneknya. Sendirian. Tatapan ma­tanya
merayap di awang-awang. Sama halnya dengan kebiasaannya yang telah lalu ketika
nenek masih ada di sampingnya. Sekarang Nila sendiri. Nenek meninggalkannya.
Nenek pergi ke tempat yang jauh sekali. Ia akan menjemput Nila. Begitu kata
nenek suatu kali da­lam mimpinya. Tak ada lagi yang menepuk-nepuk paha Nila
jika ia susah tidur. Tak ada pula yang menyuguhinya air putih saat ia ter­bangun
di tengah malam buta. Tak ada lengan nenek yang bisa ia pe­luk saat ia
ketakutan pada malam.
Setiap senja Nila akan ter­duduk lama di rumah nenek. Me­megang
nampan usangnya. Tak lagi menyanyi dengan bahasanya. Namun, nyanyiannya bernada
bisu. Anginlah yang memainkan irama hatinya. Nila mendengarnya bagai simfoni
yang terurai menje­lang malam. Rupa jalan tersengat sepi. Tatapan Nila kosong
pada sebuah gang kecil yang biasa di­lalui nenek. Tak seorang datang
menemuinya. Nila menanti nenek datang menjemputnya. Ia selalu menanti nenek.
“Prang…prang…prang…” Tabuhan nampannya tak sesema-ngat dulu.
Ipah sudah sedikit membuka pori-pori hatinya menerima Nila. Entah
karena benar-benar ia me-nerimanya, atau entah mungkin karena ia khawatir
gunjingan te-tangga yang mengolok-oloknya sebagai ibu yang tak bertanggung
jawab.
Nila hanya melihat dunia dua warna, hitam dan putih. Hitam
mewakili hal-hal yang ia benci, hal-hal yang membuat dirinya bersedih dan
takut. Nila menempatkan Ipah dalam ruang hitamnya. Baginya Ipah selalu membawa
kesedihan. Ipah tidak senang jika Nila mena­buh nampan kesayangannya. Tak suka
jika Nila memandang surya kesukaannya. Tak senang kala Nila menunggui rumah
nenek. Menyu­ruhnya tidur di tikar sendirian. Tak boleh menyanyi-nyanyi. Men­cubitinya
tanpa alasan yang jelas hingga kulitnya penuh bekas-bekas biru. Ketakutan Nila
begitu pekat­nya pada Ipah.
***
Nila tak lagi menikmati sen­janya. Dibiarkan berlalu begitu saja.
Ia lewatkan aromanya yang khas. Cahaya keemasan yang unik telah pudar berganti
warna nila. Keadaan telah benar-benar sepi. Bukan sepi yang tiap hari mene­mani
Nila. Tapi sepi yang lain yang ada. Sepi yang sesungguhnya sepi. Bangku di
teras rumah nenek su­dah tak ada sesosok anak yang me­nenteng nampan. Di senja
itu juga sudah tak ada lagi suara nyaring Nila. Rumah itu kosong menatap sepi.
Rumah itu seaakan tak punya daya. Kokohnya hilang. Gang yang biasa dilewati
nenek berganti angin yang hembusannya menyeruak me­menuhi sepanjang ia berlalu.
Nila telah berlalu dari rumah itu. Ber­lalu dari kehidupan Ipah. Nila tak sabar
menunggu sebuah janji yang pernah hadir dalam mimpinya.
Di sebuah senja, Tak ada yang tahu kemana perginya.

Jepara, April 2010



Oleh Wahyu Ameer, lahir di Jepara 24 Juni 1989. Masih kuliah di Uni­versitas
Negeri Semarang, Prodi Sastra Indonesia. Aktif di Komuni­tas Kalimasada
Semarang.