Sertifikasi
guru yang dikelola Dinas Pendidikan melalui Program Profesi Guru (PPG) masih
memiliki “PR” besar terkait kualitas yang dimiliki guru bersertifikasi. Gelar
Gr yang nantinya didapat lulusan program tersebut tampaknya masih mengundang
pro dan kontra.
Belum
lagi berbagai cerita muncul, tunjangan yang didapat guru justru digunakan untuk
membeli mobil, rumah, bahkan berbisnis. Terlihat guru bersertifikasi malah
bukan meningkatkan kualitas diri justru hanya mensejahterakan diri.
Apakah
gaji yang mereka dapat telah sepadan dengan kapasitas untuk mencerdaskan murid?
Secara stuktur, niat pelaksanaan PPG ini baik. Mempersiapkan guru profesional
dan siap menerima tantangan. Padahal jika dikaji lebih dalam, terjadi tumpang
tindih. Misalnya bahan ajar pelaksanaan program ini hampir mirip dengan
pembelajaran yang didapat mahasiswa jalur kependidikan. Artinya, mata kuliah
seperti Strategi Belajar Mengajar, Pengantar Ilmu Pendidikan, dan lainnya mesti
dipelajari kembali ketika melaksanakan PPG.
Bukankah
hal ini hanya akan menjadi pengulangan dan kesiaan. Apa yang sudah dipelajari lulusan
kependidikan, mesti diulang kembali hanya untuk mendapat sertifikat profesi. Persoalan
krusial yang terjadi di tubuh pendidikan bukan hanya kompetensi pedagogik dan
professional. Melainkan sikap, karakter serta integritas.

Guru
itu panggilan jiwa. Jika masih beranggapan bahwa guru dapat dinilai hanya
dengan program-program tertentu, jangan salahkan kualitas murid yang juga
dinilai dari soal remeh-temeh sertifikat. Agaknya kita terlalu sibuk dengan
gelar, karena apalagi yang bisa kita kejar selain gelar? Kualitas? Jangan
tanyakan, gelar sudah menjawabnya.