Harian Merdeka pada 17 Agoetoes 1945, Selasa (6/5)/DM.
IPPHOS semakin terpinggirkan dan bahkan meregang nyawa
pasca pemerintahan Soeharto. Mereka teronggok tak berdaya di periferal
perlintasan sejarah dan era pembangunan republik Indonesia. Padahal identitas
kemerdekaan sejatinya memperoleh wujud dan rupanya melalui foto-foto yang
diabadikan dengan semangat patriotistik dan profesionalisme yang tinggi oleh
pewarta foto IPPHOS.
Mendur bersaudara (Alex Impurung dan Frans Soemarto) dan
Umbas bersaudara (Justus dan Frans) serta Alex Mamusung dan Oscar Ganda secara
kolektif mendirikan IPPHOS. kantor berita foto independen pertama di Indonesia
pada 2 Oktober 1946. Kemudian menjadi cap dari foto-foto seputar kemerdekaan dan
masa awal kemerdekaan Republik yang rawan. Mereka mendirikan kantor di
Yogyakarta dan Jakarta begitu pemerintahan Soekarno-Hatta harus hijrah ke sana.
Seiring dengan semangat rezim Orde Baru yang mengusung
desoekarnoisasi, maka IPPHOS dan juga fotografi jurnalistik secara implisit,
perlahan tapi pasti, tergeser oleh kekuasaan ke peran marjinal di garis
periferal tempat sensor dan intimidasi bermukim. Mereka dibutuhkan, namun
seolah tak perlu ditumbuhkembangkan.
Para
pencipta sejarah dari balik kamera hanyalah kuli citra yang tak perlu
ditingkatkan martabatnya. Sakratul maut perlahan tapi pasti datang menghampiri
IPPHOS. Mereka harus terbuang dari kantor legendaris mereka di jalan hayam
Wuruk 30. Sejak itu fotografi jurnalistik IPPHOS perlahan buram lalu meredup
cahayanya. Begitulah catatan yang tergores oleh kurator Oscar Motuloh di
dinding Galeri Semarang lantai 1, Selasa (6/5). (DM)