Oleh : Annisa Ayu Intan Fitriani
Menjadi pengelola sampah bukanlah
pekerjaan yang menarik. Namun, ternyata itu semua lebih mulia jika
dibandingkan
dengan
para pemimpin
yang ujungnya menjadi koruptor di negeri ini.
Sore
itu,
cuaca tampak mendung.
Matahari
mulai kembali ke peraduannya,
Rabu (16/3). Menyusuri jalan kampus,
hingga akhirnya melewati jalanan sekitar lapangan FIK yang tergenang air sisa hujan siang tadi. Kami akan bertemu dengan salah
seorang pengelola rumah kompos
Unnes
di tempat kerjanya.
Di ruangan yang penuh dengan tumpukan sampah dedaunan kering, terlihat sosok lelaki paruh baya
sedang duduk bersantai. Matanya terlihat sayu. Guratan di wajahnya seolah melukiskan rasa lelah dan kantuk yang tertahan.
Sepanjang
hari, ia
menghabiskan waktunya untuk mengolah sampah-sampah dedaunan yang dihasilkan
Universitas Negeri Semarang,
menjadi kompos. Bangunan luas dengan beberapa peralatan serta
kotak-kotak
pengurai sampah menjadi sahabatnya setiap hari. Pekerjaannya cukup padat, mulai dari memisahkan dedaunan, memotongnya,
memasukkan
ke kotak pengurai, mengemas
pupuk, hingga
mendistribusikannya.
Pekerjaannya
memang terlihat biasa saja.
Namun, untuk beberapa ton kompos, Budiyanto, pengelola Rumah Kompos, hanya melakukan seorang diri. Adapun
para kader yang sudah dibentuk selama ini pun sedikit membantu. Mereka hanya difokuskan untuk
membantu teman–teman mahasiswa yang sering melakukan praktikum di Rumah Kompos
pada mata kuliah Pendidikan Lingkungan Hidup.
Perjalanan
hidupnya ia mulai ketika menamatkan pendidikannya pada jenjang Sekolah Dasar. Dalam hati, ia menyatakan memiliki keinginan
untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Namun, keadaan
ekonomi membuatnya sulit
untuk melanjutkan sekolahnya. Keinginannya untuk melanjutkan
pendidikan ia berikan kepada adik-adiknya. Ia berusaha sekuat tenaga
menyekolahkan mereka. Hingga pada akhirnya kedua adiknya mampu mengenyam bangku
pendidikan meski hanya pada
jenjang
STM dan MA. Setidaknya itu lebih baik.
Bapak
dari
tiga
anak ini menghabiskan waktunya sepanjang hari di Rumah Kompos. Hanya beberapa minggu sekali, ia pulang untuk menjenguk anak istrinya di Purwodadi. Kehidupan dan waktunya
lebih banyak dihabiskan untuk mencari nafkah untuk keluarga. Namun, upah yang didapatnya tak seberapa.
“Saat
ini,
saya digaji Rp. 850.000 tiap bulan. Namun, semuanya berproses setelah 5 tahun
bekerja. Awalnya saya hanya digaji Rp. 450.00. Setiap
tahun naik lebih kurang Rp.
50.000.”
 “Saya
tetap mensyukuri pekerjaan sekarang. Daripada tidak bekerja. Saya hanya lulusan SD juga sih. Cari pekerjaan sekarang ini juga sulit,”
tegas Budiyanto dengan
senyum ramahnya.